I’m back!!!

Setelah sekian lama vakum tidak menerbitkan tulisan baru. Kali ini saya akan aktif kembali menulis. Di mulai dengan tulisan berikut ini. Walaupun sudah sangat lama tidak tidak menerbitkan tulisan namum saya tetap aktif berinteraksi di kolom komentar. Saya rutin memodernisasi komentar dari pembaca setia blog ini. Beberapa kali saya tersenyum saat melihat beberapa komentar dari reader yang memuji gaya tulisan saya yang original, mengalir dan mudah di cerna. Ada juga yang mengatakan ketika membaca seolah-olah readers seperti ikut dalam cerita saya. Thanks reader! Komentar-komentar kalian semua yang membuat saya semangat untuk bercerita lebih banyak. One more,  thanks to all of you!!!

Postingan kali ini agak berbeda, saya hanya menanggapi, menceritakan pengalaman dan sedikit mengulas hal yang sedang viral. Sebenarnya niat membuat ulasan pada judul di atas sudah lama terbesersit di kepala. Namun niatan membahas lebih dalam belum ada. Momen akan video orang pendek yang sedang viral membangkitkan lagi semangat untuk menulis tentang itu. Kembali saya buka oret-oretan tentang orang pendek di laptop dan mengulas lebih dalam.  Let’s go!

Ilustrasi Orang Pendek

Beberapa minggu terakhir viral video penampakan suku mante oleh komunitas trail di aceh. Penasaran ku buka video itu berkali-kali, di pause tepat di penampakan suku mante tersebu, lalu di zoom. Resolusi video yang rendah susah buat melihat dengan jelas. Mungkin dia pakai Action Cam buatan China. Hehe. Beberapa artikel bebas di internet juga banyak yang membahas tentang itu.

Screenshoot video Mante/orang pendek yang tertangkap kamera oleh komunitas motor trail di Aceh 

Ingatan ku kembali, beberapa tahun lalu pernah baca tentang suku yang menjadi misteri ini. Juga pernah nonton salah satu mata acara di Trans7 yaitu Jejak-Jejak Misterius. Acara favoritku dulu, di awal acara itu tayang membahas tentang perburuan makhluk-makhluk yang menjadi misteri seperti ular besar, kelinci terbang, harimau, buaya raksasa dll. Semakin kesini malah lebih menjurus ke gaib. Sejak itu sudah malas nonton.

Kembali ke topik, Nah, acara Jejak -Jejak Misterius itu pada satu episode pernah berburu keberadaan Orang Pendek dan berhasil merekamnya di pantai tepi hutan di pulau jawa (lupa nama tempatnya). Sejauh pengetahuanku, itulah penampakan orang pendek terjelas yang terekam kamera. Pernah juga mereka melakukan pencarian serupa di sulawesi (lupa lagi nama tempatnya) tapi tak berhasil mendapatkan gambarnya. Hanya sekelebatan bayangan hitam dengan kamera inframerah yang mereka simpulkan adalah sosok buruan mereka.

Video Siwil (orang pendek) yang tertangkap kamera Tim Jejak-Jejak Misterius Trans7

Menurut pemikiranku. Cerita-cerita tentang orang pendek ini hampir meneyebar diseluruh penjuru nusantara bahkan sampai semenanjung malaya. Kecuali papua, saya belum pernah baca/dengar tentang keberadaan orang pendek di pulau tersebut.

Rasa penasaran yang tinggi terhadap eksistensi makhluk misterius ini membuatku berselancar membaca banyak kisah-kisah mereka di penjuru nusantara. Hasil bacaan tersebutlah yang ke ringkas dalam tulisan ini. Inilah sudut pandangku menyikapi dan menyimpulkan misteri ini.

Hobiku yang sedari dulu menjelajah ke berbagai tempat, tentu banyak cerita yang ku dapat. Salah satunya adalah tentang orang pendek yang di daerahku disebut leso. Dari penuturan orang-orang desa pinggiran hutan yang ketemui. Legenda orang pendek juga ada disini, tapanuli selatan. Di daerah ini orang pendek di gambarkan sebagai sosok jahat yang sering membuat orang tersesat di dalam hutan karena mengikuti jejak dari leso (orang pandak tersebut).

Ada juga cerita yang pernah saya dengar dari pencari gaharu yang menuturkan pengalamannya ketika mencari gaharu di hutan Batang Toru dekade 90an. Ceritanya saat sedang mencari gaharu dalam rombongan 5 orang ini bermalam dengan membangun pondok dari bahan-bahan dihutan. Ketika yang lain sedang terlelap tidur. Satu orang tetap terjaga. Di luar terdengar suara kresek-kresek seperti suara plastik yang sedang di jamah. Suara itu datang dari samping pondok, tepatnya dari pohon kecil tempat mereka menggantung perlatan dan bahan makanan. Karena penasaran beliau mengintip perlahan dari celah dedauan yang mereka gunakan sebagai dinding dan atap pondok. Beliau melihat sosok kecil dan gempal berbulu tipis sedang membuka bahan makanan dalam plastik yang berisi beras, sarden, ika asin, mie instan dll. Seketika dia membangunkan rekan-rekannya perlahanan. Namun salah satu rekannya ketika dibangunkan justru membuat suara gaduh. Dan dari arah luar terdengar suara langkah berlari. Benar saja, sosok yang tadi beliau lihat telah raib. Mereka mengejar ke arah larinya sosok tadi namun tak asa hasil. Kembali ke pondok mereka mendapati bahan makanan yang berantakan.

Baru pagi harinya setelah di periksa mereka mendapati jejak mirip manusia berukuran kecil di tanah becek. Serta ceceran beras ke arah jejak yang berakhir di tepian sungai. mereka percaya bahwa itu adalah sosok leso (orang pendek) yang menghampiri pondok mereka dengan niat menngambil makanan. Sesuai dengan penuturan orang-orang tua yang pernah bercerita tentang sosok tersebut. Ntahlah ini cerita benar atau tidak. Biarkan nalar kita yang bekerja untuk mencernanya.

Banyak cerita berkembang di masyarakat yang merujuk pada sosok dengan ciri-ciri manusia kerdil, badan berbulu, dan telapak kaki terbalik. Beberapa menuturkan mereka membawa tongkat kayu/tombak. Banyak sebutan nama untuk sosok dengan ciri-ciri sama tersebut. Di Aceh disebut suku mante/manti/bante, di masyarakat karo dan pakpak disebut umang, di Tapanuli Selatan sendiri biasa di sebut leso, di sekitar danau Siais, Tapanuli Selatan disebut kurinci, di sumbar dan kalimantan biasa di sebut orang bunian, di jambi dan riau disebut uhang pandak dan leco di Bengkulu disebut sebabah/gugua, Siwil di jawa, flores disebut orang pendek, di Bone, Sulawesi disebut suku oni dan masih banyak sebutan lainnya didaerah untuk merujuk pada sosok yang sama.

Yang unik dan bisa di buktikan secara otentik dari keberadaan orang pandak adalah keberadaan sebuah batu besar dengan pintu kecil dan terdapat ruangan selayaknya sebuah rumah tempat tinggal. Masyarakat setempat meyakininya sebagai rumah Umang, orang Bunian di Tanah Karo. Logikanya ukuran pintu masuk yang relatif kecil bukanlah diperuntukkan bagi manusia normal. Tempat ini dikenal dengan sebutan Batu Kemang, di sibolangit, Sumatera Utara. Kalau tak salah ingat pernah di ulas beberapa bulan di salah satu tayangan TVRI.

Rumah Kemang yang di yakini sebagai tempat tinggal umang sebutan orang pendek merujuk pada ciri-ciri orang pendek 

Semakin menarik saja untuk di ulas lebih dalam. Rasa penasaran ini membuat jemari lancar mengetik tulisan ini, lancar mengalir menyalurkan dari buah pikir otak ke keyboard.

Di awal tadi saya berbicara tentang bacaan paling menarik rentang orang pendek. Nah, ini dia petikan artikel tersebut. Maaf tak menyertai sumber, susah melacak sumber aslinya krn sudah banyak di copas orang tanpa link induk.

Check this out!

Konon pada zaman dahulu, makhluk ini bisa ditangkap. Masyarakat dahulu menangkap makhluk ini dengan menyiapkan sebuah perangkap. Ada juga kisah tentang perkawinan makhluk ini dengan penduduk lokal, lalu mempunyai keturunan.

Sampai hari ini, makhluk di gunung Kerinci yang dikenal sebagai “uhang pandak” (orang pendek), memiliki variasi yang sampai sekarang pun masih belum teridentifikasi oleh ilmuwan.

Orang pendek / uhang pandak ialah nama yang diberikan kepada seekor binatang (manusia atau bunian) yang sudah dilihat banyak orang selama ratusan tahun. Kerap kali muncul di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi.

Walaupun tak sedikit orang yang pernah melihatnya, keberadaan uhang pandak hingga sekarang masih merupakan teka-teki. Tidak ada seorang pun yang tahu sebenarnya makhluk jenis apakah yang sering disebut sebagai orang pendek itu.

Tidak pernah ada laporan yang mengabarkan, bahwa seseorang pernah menangkap atau bahkan menemukan jasad makhluk ini. Namun, hal itu berbanding terbalik dengan banyaknya laporan dari beberapa orang yang mengatakan pernah melihat makhluk tersebut.

Sekedar informasi, orang pendek ini masuk ke dalam salah satu studi Cryptozoology. Ekspediasi pencarian Orang Pendek sudah beberapa kali dilakukan di Kawasan Kerinci, salah satunya adalah ekspedisi yang di danai oleh National Geographic Society.
National Geographic sangat tertarik mengenai legenda Orang Pendek di gunung Kerinci, Jambi. Bahkan, beberapa peneliti telah mereka kirimkan kesana untuk melakukan penelitian mengenai makhluk tersebut.

Ilustrasi Orang Pendek oleh National Geographic Society

Adapun cerita mengenai uhang pandak pertama kali ditemukan dalam catatan penjelajah gambar jejak, Marco Polo, 1292, saat ia bertualang ke Asia. Walau diyakini keberadaannya oleh penduduk setempat, makhluk ini dipandang hanya sebagai mitos belaka oleh para ilmuwan, seperti halnya ” Yeti ” di Himalaya dan monster ” Loch Ness” Inggris Raya.

Sejauh ini, para saksi yang mengaku pernah melihat Orang Pendek menggambarkan tubuh fisiknya sebagai makhluk yang berjalan tegap (berjalan dengan dua kaki), tinggi sekitar satu meter (diantara 85 cm hingga 130 cm ), dan memiliki banyak bulu diseluruh badan. Bahkan tak sedikit pula yang menggambarkannya dengan membawa berbagai macam peralatan berburu, seperti semacam tombak.

Legenda Mengenai Uhang Pandak sudah secara turun-temurun dikisahkan di dalam kebudayaan masyarakat ” Suku Anak Dalam”. Mungkin bisa dibilang, suku anak dalam (Kubu) sudah terlalu lama berbagi tempat dengan para Orang Pendek di kawasan tersebut. Walaupun demikian, jalinan sosial diantara mereka tidak pernah ada.

Sejak dahulu, suku anak dalam bahkan tidak pernah menjalin kontak langsung dengan makhluk-makhluk ini, mereka memang sering terlihat, namun tak pernah sekalipun warga dari suku anak dalam dapat mendekatinya.

Ada sebuah kisah mengenai keputusasaan para suku anak dalam yang mencoba mencari tahu identitas dari makhluk-makhluk ini, mereka hendak menangkapnya, namun selalu gagal. Pencarian lokasi dimana mereka membangun komunitas mereka di kawasan Taman Nasional juga pernah dilakukan, namun juga tidak pernah ditemukan.

Awal tahun 1900-an, dimana saat itu Indonesia masih merupakan jajahan Belanda, tak sedikit pula laporan datang dari para WNA. Namun, yang paling terkenal adalah kesaksian Mr. Van Heerwarden di tahun 1923. Van Heerwarden adalah seorang zoologiest, dan disekitar tahun itu ia sedang melakukan penelitian di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.

Pada satu catatan, ia menuliskan mengenai pertemuannya dengan beberapa makhluk gelap dengan banyak bulu di badan. Tinggi tubuh mereka ia gambarkan setinggi anak kecil berusia 3-4 tahun, namun dengan bentuk wajah yang lebih tua dan dengan rambut hitam sebahu. Van Heerwarden sadar, mereka bukan sejenis siamang maupun primata lainnya. Ia tahu makhluk-makhluk itu menyadari keberadaan dirinya saat itu, sehingga mereka berlari menghindar.

Satu hal yang membuat Mr. Heerwarden tak habis pikir, semua makhluk itu memiliki persenjataan berbentuk tombak dan mereka berjalan tegak. Semenjak itu, Mr. Heerwarden terus berusaha mencari tahu makhluk tersebut, namun usahanya selalu tidak berbuah hasil.

Sumber-sumber dari para saksi memang sangat dibutuhkan bagi para peneliti yang di danai oleh National Gographic Society untuk mencari tahu keberadaan Orang Pendek.

Dua orang peneliti dari Inggris, Debbie Martyr dan Jeremy Holden sudah lama mengabadikan dirinya untuk terus menerus melakukan ekspedisi terhadap eksistensi Orang Pendek. Namun, sejak pertama kali mereka datang ke Taman Nasional Kerinci di tahun 1990, hasil yang didapat masih jauh dari kata memuaskan.

Lain dengan peneliti lainnya, Debbie dan Jeremy datang ke Indonesia dengan di biayai oleh Organisasi Flora dan Fauna Internasional. Dalam ekspedisi yang dinamakan “Project Orang Pendek” ini, mereka terlibat penelitian panjang disana.
Secara sistematik, usaha-usaha yang mereka lakukan dalam ekspedisi ini antara lain adalah pengumpulan informasi dari beberapa saksi mata untuk mengetahui lokasi-lokasi dimana mereka sering dikabarkan muncul. Kemudian ada metode menjebak pada suatu tempat, dimana terdapat beberapa kamera yang selalu siap untuk menangkap aktivitas mereka.

Namun, akhirnya rasa putus asa dan frustasi selalu menghinggap di diri mereka, ketika hasil ekspedisi selama ini yang mereka lakukan, belum mendapat hasil yang memuaskan alias nihil.

Debbie Martyr, ilmuan mendidikasikan dirinya untuk meneliti Orang Pendek bertahun-tahun 

Reporter VIVANews , Eri Naldi dan Arjuna Nusantara , berkesempatan mewawancarai Debbie Martyr tentang Penelitiannya terhadap Orang Pendek di kediamannya di Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Berikut kutipan wawancara dengan mantan editor BBC Inggris ini.

Apa yang membuat Anda sampai ke Kerinci dan menghabiskan waktu begitu lama meneliti soal Orang Pendek yang katanya tak lebih dari mitos?

Saya awalnya seorang jurnalis. Tahun 1989 ambil cuti dan liburan ke Asia termasuk Kerinci. Di sini saya mendengar ada cerita Orang Pendek. Awalnya saya juga beranggapan sama, itu hanya mitos. Namun setelah melihat, saya yakin itu bukan mitos.

Anda pernah bertemu orang pendek?

Saya tidak bertemu, tapi saya melihat. Saya pernah melihat dua kali. Tolong dibedakan antara bertemu dengan melihat. Kalau saya bertemu, mungkin saya bisa mengucapkan salam (ujarnya sambil tertawa ringan).

Kapan Anda pernah melihatnya dan di mana lokasinya?

Saya melihat pertama kali tahun 1994 dan terakhir tahun 1996. Tahun 1994 saya melihat di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yakni di Gunung Tujuh dan kedua di Gunung Kerinci. Tahun 1995 di Solok Selatan (kawasan TNKS) dan hutan lindung di perbatasan Pasaman dengan Sumatera Utara. Lalu pada tahun 1996 perbatasan Muko Muko dengan Bengkulu Utara (hutan produksi). Dan terakhir di tahun yang sama di Tapan, Kabupaten Pesisir Selatan (masuk wilayah TNKS).

Saat melihat Orang Pendek Anda tidak mengabadikannya?

Sebenarnya waktu itu saya memegang kamera. Tapi karena kaget, tidak terpikir untuk memotret. Setelah itu, saya penasaran dan ingin mendokumentasikan dan meneliti lebih dalam. Akhirnya saya ajak beberapa pihak. Akhirnya di bawah LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) saya meneliti, bekerjasama dengan TNKS.

Kemudian saya pasang sekitar 10 kamera di beberapa titik, namun hasilnya nihil. Akhirnya, saya bersama teman saya Jeremy Holden sebagai teknisi kamera, memutuskan untuk mengumpulkan jenis satwa seperti burung yang terdapat di TNKS. Karena, orang TNKS tidak punya peta lokasi satwa di TNKS.

Sejak itu, saya berkeliling di sepanjang TNKS dan beberapa hutan lindung di pulau Sumatera. Maka bertemulah saya dengan Orang Pendek ini.

Seperti apa ciri-ciri Orang Pendek itu?

Badannya agak besar. Tinggi sekitar 130 cm. Warna kulitnya madu tua, bulu di kepala sedikit tebal. Perawakan wajahnya hampir sama dengan Orang Utan tapi tidak mirip dengan manusia.

Apakah yang Anda lihat sama dengan ciri-ciri yang disampaikan warga?

Hampir sama. Hanya saja yang saya lihat lebih kecil dari ciri-ciri yang disampaikan warga.

Apakah dia berjalan seperti manusia?

Bukan, jalannya sedikit berbeda dari manusia dan tidak sama dengan Orang Utan. Dia berjalan dengan kaki dua sangat lancar. Waktu itu saya lihat dia berjalan pelan dan hati-hati. Tangannya di kedepankan sambil menguak tumbuh-tumbuhan yang ada di depannya.

Dari sekian lama Anda meneliti, kira-kira apa makanan Orang Pendek?

Makannya sayur-sayuran, buah dan akar. Tapi sepertinya dia tidak makan cabai.

Menurut Anda, apakah Orang Pendek tergolong ke manusia atau bagaimana?

Oh, tidak. Mereka tergolong primata, bukan manusia.

Lebih dekat ke spesies apa pada jenis primata?

Asumsi saya dia lebih dekat ke Siamang. Mereka tidak berkelompok. Tapi tumbuh dalam keluarga kecil —satu ibu dan anak-anak tanpa pejantan.

Soal penemuan Orang Pendek oleh polisi hutan di Way Kambas, bagaimana menurut Anda?

Mereka boleh saja menemukan itu. Secara ciri-ciri, berbeda dengan yang pernah saya lihat. Di sini, lebih besar dari yang dilihat polisi hutan Way Kambas. Ingat, Way Kambas bukan taman nasional besar, teman-teman peneliti di sana menemukan Badak Sumatera, anehnya, masyarakat tidak tahu sebelumnya.

Kita tunggu saja hasil kamera tersembunyi mereka. Bisa jadi yang dilihat di sana memang berbeda dengan yang ada di Kerinci, karena Hutan Sumatera sangat kaya. Tanpa keinginan untuk membantah penemuan itu, tapi saya yakin yang ada di Way Kambas berbeda dengan yang di Kerinci.

Anda tidak yakin jika mereka berkelompok?

Saat melihat Orang Pendek, dia hanya sendiri. Tidak pernah saya melihat mereka berkelompok.

Anda telah memulai, apakah tidak ada keinginan untuk terus meneliti

Orang Pendek hingga bisa dibuktikan secara ilmiah?

Saya sudah pernah melihat, dan ini bisa menjadi awal bagi para ilmuwan untuk membuktikannya secara ilmiah. Sejak tahun 2000, saya fokus melakukan monitoring Harimau di TNKS, jadi fokus saya sekarang

berbeda. Bukan saya tidak ingin mengakhiri penelitian ini dengan keberhasilan Orang Pendek tertangkap kamera pengintai. Tapi pekerjaan saya sekarang cukup padat, membantu orang di TNKS untuk meneliti satwa.

Ada keinginan untuk kembali ke Inggris?

Saya merindukan Inggris, tapi saya selalu ingin pulang ke Kincai (sebutan Kerinci bagi masyarakat setempat).

Beberapa pakar Cryptozoology mengatakan, bahwa Orang Pendek mungkin memiliki hubungan yang hilang dengan manusia. Apakah mereka merupakan sisa-sisa dari genus Australopithecus ?

Banyak Paleontologiest mengatakan, bahwa jika anggota Australopithecus masih ada yang bertahan hidup hingga hari ini, maka mereka lebih suka digambarkan sebagai seekor siamang.

Pertanyaan mengenai identitas Orang Pendek yang banyak dikaitkan dengan genus Australopitechus ini, sedikit pudar dengan ditemukannya fosil dari beberapa spesies manusia kerdil di Flores beberapa waktu yang lalu.

Tengkorak spesies Homo floresiensis berusia 18.000 tahun (kiri) disandingkan dengan tengkorak manusia normal pada konferensi pers di Yogyakarta, 2004
Fosil manusia-manusia kerdil “ Hobbit ” berjalan tegak inilah yang kemudian disebut sebagai Homo Floresiensis. Ciri-ciri fisik spesies ini sangat mirip dengan penggambaran mengenai Orang Pendek, dimana mereka memiliki tinggi badan tidak lebih dari satu seperempat meter, berjalan tegak dengan dua kaki, dan telah dapat mengembangkan perkakas/alat berburu sederhana, serta telah mampu menciptakan api. Diperkirakan hidup antara 35000 – 18000 tahun yang lalu.

Apakah keberadaan “Uhang Pandak” benar-benar merupakan sisa-sisa dari Homo Floresiensis yang masih dapat bertahan hidup? Secara jujur, para peneliti belum dapat menjawabnya.

Peneliti mengetahui, bahwa setiap saksi mata yang berhasil mereka temui mengatakan, lebih mempercayai Orang Pendek sebagai seekor binatang. Debbie Martyr dan Jeremy Holden, juga mempertahankan pendapat mereka, bahwa Orang Pendek adalah semacam seekor siamang luar biasa dan bukan hominid.

Terlepas dari benar tidaknya mereka adalah bagian dari makhluk halus, binatang, spesies yang belum teridentifikasi atau pun ras manusia yang berbeda. Dunia tentunya masih menyimpan misteri tentang mereka yang harus terus dilakukan penelitian keberadaannya.

Bukankah berbagai peninggalan dan kerangka makhluk setengah kera Homo Floresiensis baru-baru ini ditemukan di flores? Temuan itu bisa menjadi bukti, bahwa ada suatu komunitas makhluk diluar manusia modern yang pernah ada. Bisa jadi, “Uhang Pandak” yang tersembunyi dan penuh misteri selama ini, suatu hari ditemukan.

Kesimpulan
Melihat betapa banyaknya bukti penampakan orang pendek dipenjuru nusantara ini. Bukan mustahil bahwa mereka memang ada. Terlepas dari mereka adalah mahluk nyata ataupun metafisik. Teori yang mengatakan mereka adalah makhluk metafisik seharusnya terbantahkan dengan temuan-temuan bukti otentik baik dari jejak dan yang tertangkap kamera. Bukankah masih banyak spesies makhkuk hidup yang belum di temukan/teridentifikasi oleh ilmuwan?.

Melihat beberapa kesaksian orang pendek hidup dalam kelompok kecil dengan pola hidup nomaden seperti suku pedalaman lainnya itulah yang menjadi penyebab ilmuwan sulit untuk membuktikan keberadaan mereka. Hanya perjumpaan tanpa sengaja yang sering terjadi. Perjumpaan ini saya lacak sudah terjadi di masa kolonial Belanda dahulu. Harian Kompas 18 desember 1987 dan dibahas secara berseri di Harian Waspada oktober 2012. Ilmuwan jaman kolonial Belanda juga beberapa kali menerbitkan jurnal tentang orang pendek ini. Hingga kini mereka masih tetap menjadi misteri. Saya rasa lebih baik begitu. Toh dengan kemisterian ini mereka masih eksis bertahan hingga sekarang. Rencana Kementerian Sosial dan Gubernur Aceh untuk mencari “suku” ini lalu membuatkan komunitas pemukiman layak (modern) bukanlah rencana yang baik. Malah justru akan merusak tatanan hidup “suku” tersebut. Lebih baik Kemensos fokus pada “melayakkan” kehidupan Suku Anak Dalam di hutan-hutan jambi dan Sumsel.

Saya sendiri yang memang sering berkativitas di hutan. Terkadang berada di hutan dalam jangka waktu yang lumayan lama, namun belum pernah berjumpa dengan makhluk ini. Mungkin suatu saat nanti. Salam!
Penulis : Decky Chandrawan-

Di oleh dari berbagai sumber

Iklan