Hai pembaca setia blog Bocah Rimba. Salam jumpa kembali ditulisan saya kali ini. Sudah lama saya tidak update tulisan saya, padahal bayak hal yang mau saya ceritakan.  Di artikel berikut ini saya akan coba bercerita tentang sebuah kawasan hutan yang paling saya sukai. Entah sudah berapa kali saya menjelajahi hutan ini dalam tujuan yang beragama. Potensi sumber daya alam dengan keanekaragaman hayati yang begitu besar. Hutan ini bernama Cagar Alam Dolok Sibualbuali. Sebuah kawasan hutan konsevasi seluas 5.000 Ha yang kaya akan keanekaragaman flora dan fauna.

bocah rimbaHutan Cagar Alam Dolok Sibualbuali

Ditulisan ini saya akan berusaha menceritakan kekayaan alam yang terkandung di dalam hutan ini dengan tujuan agar masyarakat luas lebih tau betapa kayanya alam Tapanuli ini. Khusus buat masyarakat Tapanuli Selatan bila mengetahui lebih tentang kekayaan alam dihutan ini akan merasa bangga akan potensi alam di daerahnya. Tentu saja dengan harapan ikut sadar untuk peduli dan menjaga “harta” kita ini. Sebelum bercerita lebih jauh, saya akan perkenalkan terlebih dahulu tentang hutan ini.

Here we go…!

Berada di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Kawasan hutan ini dijadikan kawasan Cagar Alam tepat pada tanggal 6 April 1982 melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 215/Kpts/Um/4/1982, tanggal 6 April 1982, seluas 5.000 ha. Kawasan hutan ini berbatasan langsung dengan:

• sebelah Utara dengan dataran tinggi Dolok Huraba

•sebelah Selatan dengan Dataran Tinggi Gunung Lubuk Raya

•sebelah Barat  wilayah Desa Marancar •sebelah Timur dengan wilayah Desa Baringin atau Kecamatan Sipirok

Hutan ini merupakan tipe hutan hujan basah dengan curah hujan tinggi. Berketinggian antara 700 – 1.700 mdpl dengan kontur pegunungan terdiri dari banyak lembah dan jurang yang dalam. Pepohonan yang tumbuh rapat dan menjulang tinggi dengan lantai hutan yang banyak ditumbuhi tumbuhan perdu. Pada puncak – puncaknya sering ditutupi kabut walaupun siang hari dan panas terik. Kabut akan semakin tebal bila musim hujan tiba. Itu sebabnya batang pepohonan disini tertutup oleh lumut yang cukup tebal. Bentang hutan ini dapat kita lihat dari Kota Sipirok.

My Experience…

Sebagai pribadi yang sangat suka berpetualangan di alam bebas, saya sudah beberapa kali masuk kedalam hutan ini. Pertama kali saya masuk hutan ini dulu sewaktu di pramuka di SMA melakukan kegiatan camping dan tracking di hutan ini kira-kira tahun 2007. Semenjak itu, rasa ketagihan ingin menjelajah hutan ini lebih dalam timbul dalam diri saya hingga saat ini.

bocah rimbaAir Terjun kecil di dalam Hutan Sibualbuali

Seperti yang saya sebutkan diawal, hutan ini adalah favorit saya, tipe dan karakteristik hutannya sangat menawan. Dengan keadaan hutan yang masih amat sangat terjaga kealaminnya. Ditambah pula dengan keanekaragaman flora dan fauna. Bayangkan saja, saya tidak harus masuk terlalu dalam kehutan sudah disajikan dengan aneka pohon berdiameter raksasa. Pohon meranti salah satu diantaranya, jenis pohon yang biasanya menjadi sasaran utama pembalak hutan ini masih banyak dijumpai dihutan ini dengan ukuran yang besar. Selain itu, banyak jenis satwa lain yang hidup dihutan ini. Beragam jenis burung, mamalia hingga serangga terdapat dihutan ini. Dan yang semakin menambah keistimewaan hutan ini adalah dimana masih terdapat satwa langka di lindungi, sebut saja Orangutan Sumatera (pongo abelii), Harimau Sumatera (panthera tigris sumatrae), Tapir (tapirus indicus), Rangkong Badak (buceros rhiniceros) dan juga berbagai jenis primata seperti Siamang, Sarudung, kukang dll.

Satu satwa langka yang ingin saya jumpai langsung dihutan ini adalah Orangutan atau dalam bahas lokal disebut Mawas. Ntah kenapa, saya sangat tertarik dengan satwa yang satu ini. Namun sayang, hingga saat ini walaupun sudah beberapa kali masuk kehutan ini saya belum juga dapat perjumpaan langsung satwa ini dihabitat liarnya. Satu kesempatan pada januari 2014 lalu dimana saya dan teman membantu kegiatan Survey Populasi Orangutan yang didanai oleh BBKSDA Sumatera Utara dengan durasi 8 hari pun belum juga berjumpa dengan satwa ini. Padahal kami sudah berada ditempat yang tepat, ditandai dengan Sarang kelas A serta buah-buahan sisa makanan Orangutan. Tapi ya begitulah, nasib mujur belum ada untuk dapat perjumpaan langsung.

bocah rimbaSarang Orangutan yang kami temua sewaktu survey Populasi di Cagar Alam Dolok Sipirok

Tahukah anda bahwa Orangutan Sumatera dihutan ini (bentang hutan batang toru) sedikit berbeda dengan ditempat lain? Menurut literatur yang saya baca baik di buku ataupun melalui cerita orang-orang yang pernah mengamati perilaku Orangutan disini sangat berbeda. Orangutan dibumi Tapanuli ini berperilaku lebih beradap dan lebih cerdas. Ada sebuah teori yang mengatakan, semakin kebelahan bumi bagian barat, maka lebih cerdasnya mahluk tersebut. Para ahli mengatakan Orangutan Sumatera lebih pintar menggunakan alat, contohnya: saat hendak makan madu, dia menggunakan sebuah ranting kecil kemudian dicelupkan kedalam madu, dan menggunakan dedauan untuk menutupi wajahnya dari sengatan lebah. Ataupun saat hujan, Orangutan disini menggunakan daun lebar untuk digunakan sebagai “payung”. Harapan saya sih semoga ada peneliti ahli yang mempelajari lagi tentang Orangutan disini. Agar dapat disimpulkan bahwa Orangutan disini memang berbeda dari ditempat lain. Kalaupun kebenaran itu terbukti saya juga beharap agar penamaan ilmiahnya juga menggunakan kata lokal saja. Kalau Orangutan Sumatera nama ilmiahnya pongo abelli, untuk Orangutan disini usulan saya dinamakan Pongo Abelli Tapanulienis. Maksudnya agar penamaan tersebut mengandung unsur lokal sehingga dapat mengharumkan pula nama daerah. Cuma usualan dari orang awam kok.hehe🙂

bocah rimbaOrangutan sumatra ( Pongo abelii ) (Sumber: google)

Orangutan sumatra ( Pongo abelii ) terancam keberadaan populasinya dengan jumlah yang tersisa pada saat ini hanya sekitar 6.600 ekor saja. Oleh karena itu, dengan populasinya semakin menurun, Orangutan sumatra  oleh World Conservation Union (IUCN) masuk ke dalam daftar merah spesies terancam yang mereka keluarkan dengan kategori Spesies Sangat Terancam Punah ( Critically Endangered). Penghancuran massal terhadap hutan hujan tropis yang merupakan habitat mereka menjadi salah satu alasan utama menurunnya jumlah orangutan di alam liar. Sangat disayangkan apabila satwa unik sampai punah. Bayangkan 20-30 tahun lagi anak ataupun cucu kita hanya bisa melihat Orangutan melalui foto, karena mereka sudah punah dialam liar.

Selain Orangutan, satu satwa lain yang menarik perhatian saya yaitu burung Rangkong atau dalam bahasa lokal disebut “onggang”. Satwa yang satu ini sudah lama saya perhatikan serta amati. Dari pengamatan saya Rangkong ini mencari makan pada siang hari ke hutan Sibualbuali dan bersarang di luar kawasan hutan. Tepatnya ia bersarang di hutan yang secara administratif masuk dalam wilayah desa Bulu Mario, Kecamatan Sipirok. Karena penasarannya saya dengan spesies burung yang satu ini. Pernah beberapa kali saya sengaja pergi sendiri dengan misi mau melihat aktivitas dan rutinitas si Rangkong ini. Hasilnya dapat saya simpulkan sebagai berikut:

1. Dari hasil pengamtan dengan binokuler sederhana (teropong) dan hasil pembesaran foto dan video, Rangkong ini adalah spesies Rangkong Badak (buceros rhinoceros). Ini saya pastikan setelah membandingkan ciri fisik berupa warna bulu, dan pangkal paruh berwarna orange terang menjulang ke atas mirip Cula Badak.

2. Rutinitas harian Rangkong Badak ini setelah saya amati dan bandingkan menyimpulkan. Pukul 5.45 pagi Rangkong bangun dari tidurnya. Mengeluarkan suara keras beberapa saat kemudian terbang berpasangan meninggakan sarang. Mereka terbang dengan suara kepakan sayap yang sangat keras, mirip suara rotor helikopter ke arah hutan Cagar Alam Dolok Sibualbulai. Saya menduga dikawasan hutan inilah mereka mencari makan. Kemudian sore hari mereka pulang ke sarang antara puku 18.00 s/d 18.30 wib. Data ini saya dapatkan dari catatan saya sewaktu beberala kali melakukan pengamatan.

3. Rangkong hidupnya berpasangan seumur hidup (monogami) seperti halnya merpati. Kemanapun pergi selalu berpasangan.

Sebenarnya saya ingin sekali memperdalam pengetahuan saya mengenai Rangkong ini. Yang paling ingin saya cari tahu adalah mengikuti siklus perkembangbiakannya. Di mulai dari induk rangkong membuat lobang sarang di pohon, bertelur, merawat anak hingga dewasa. Ingin saya dokumentasikan secara lengkap. Untuk merealisasikan hal diatas saya masih terkendala berbagai peralatan pendukung seperti Kamera dengan jangkauan pembesaran yang jauh, Tali-temali untuk memanjat pohon guna mendokumentasikan aktivitas bayi rangkong didalam lobang sarang dalam bentuk foto dan video dan alat pendukung lainnya. Apalah daya, saat ini saya harus berpuas diri dengan Handycam second dengan lensa optical zoom 60X dan digita zoom 2000 kali untik melihat Rangkong.

bocah rimbaSeekor Rangkong Badak yang melintas di atas hutan Sibualbuali (Juni 2014)

Berikut kutipan yang saya ambil dari website milik WWF mengenai Rangkong Badak ini: ” Rangkong Badak ( Buceros rhinoceros ) merupakan salah satu spesies burung rangkong terbesar di Asia. Satwa ini menghabiskan waktunya di bagian atas tajuk hutan dengan memakan buah-buahan, serangga, reptil kecil, hewan pengerat, dan burung-burung kecil. Rangkong badak mempunyai perilaku yang unik; betina bersarang dalam lubang pohon yang kemudian ditutup dengan lumpur. Selama burung betina tinggal di dalam lubang tersebut ia diberi makan oleh burung jantan. Menurut Daftar Merah IUCN, rangkong badak termasuk spesies yang hampir mengalami kelangkaan. CITES juga mengklasifikasikan satwa burung ini ke dalam kategori Appendix II, yaitu sebagai spesies yang dilarang untuk perdagangan komersial internasional karena hampir mengalami kelangkaan, kecuali jika perdagangan tersebut tunduk pada peraturan ketat, sehingga pemanfaatan yang tidak sesuai dapat dihindari”.

bocah rimbaRangkong Badak (buceros rhinoceros)

Dibanding burung lainnya, rangkong dianggap paling mampu dalam menebarkan biji ara, karena daya jelajahnya yang tinggi sehingga keberadaan burung ini sangat diperlukan untuk menabur biji di penjuru hutan. Hutan Sibualbuali memang kaya akan sumber makanan bagi Rangkong ini, sehingga habitat hewan ini harus terjaga. Selain kaya akan flora dan fauna yang terkandung di dalamnya.

Dihutan ini juga terdapat cadangan panas bumi. Disekitar hutan ini terdapat beberapa lokasi pengeboran panas bumi. Sebenarnya ini adalah gunung berapi bertipe stratovolcano, yaitu tipe gunung berapi yang pernah meletus ratusan atau ribuan tahun silam. Sisa-sisa gunung berapi ini masih dapat kita jumpai berupa kawah dengan diameter sekitar 30 meter. Kawah ini aktif mengeluarkan uap panas sehingga air yang tertampung mendidih karena panasnya. Terdapat beberapa kawah-kawa kecil yang lokasinya terpencar. Beberaa hanya berukuran kecil berupa semburan uap panas dari rekahan tanah. Ini adalah daya tarik lain dari hutan ini. Saya sendiri sering camping disini, dikawah kita dapat merebus telur. Bahkan ada kawan saya yang pernah iseng masak air untuk buat kopi dengan cara meletakan teko kecil berisi air di atas semburan uap panas. Dalam waktu satu jam air pun mendidih. Kreatif memang memanfaatkan potensi alam, tapi airnya itu lho. Bau belerang. Jadilah kopi dengan rasa aneh yag pernah saya minum. hahaha😀 bocah rimbaBOCAH RIMBA Hutan seluas 5.000 hektar ini tentu banyak permasalahan yang dihadapi. Mulai dari penebangan liar, perburuan satwa liar dll. Pernah saya jumpai ketika sepulang dari air terjun kembar yang terletak di Desa Batu Satahil. Pada waktu itu magrib, sudah lumayan gelal. Di perjalanan pulang tersebut saya melihat sekumpulan orang di pinggir jalan yang sedang melakukan aktivitas. Ketika dekat ternyata mereka sedang memuat rotan dalam sebuah mobil pickup. Lumayan banyak juga. Rotan tersebut dugaan saya di ambil dari dalam kawasan hutan Cagar Alam Dolok Sibualbuali. Siang hari mereka langsir rotan tersebut kemudian disembunyikan disemak-semak cukup tinggi di pinggir jalan. Kemudian setelah hari mulai gelap rotan-rotan tersebut di angkut menggunakan mobil pickup. Sangat rapi memang “permainan” mereka ini, sehingga mengelabuhi aparat Polhut.

 bocah rimbaPenebangan liar yang masih kerap terjadi di daloam hutan

Kasus lain adalah ilegal logging. Sampai saat ini pun permasalahn ini belum berhenti. Desas-desus yang saya dengar kegiatan ilegal ini di bekingi oknum aparat kepolisian. Kasus perburua liar pun kerap terjadi. Baik itu perburuan tradisional yang dilakukan masyrakat sekitar hutan dengan menggunakan anjing dan tombak dengan sasaan buruan berupa satwa Kambing Hutan (bedu), Rusa (ursa), Kijang (hije), Kancil (landuk) dan beberapa jenis burung.Perburuan modern yang kerap dilakulan oleh beberapa club menembak ataupun dilaukan perseorangan (kebanyakan aparat).

Padahal hutan ini dapat di katakan merupakan daerah tangkapan/resapan air yang menunjang kehidupan masyarakat luas. Contohnya saja Sungai Batang Ayumi yang mengalir ke Kota Padangaidimpuan. Sungai ini berhulu dari banyak mata air di hutan Sibualbuali. Bila hutan terus ditebangi tanpa ada penanganan maksimal tentu akan berdampak luas bagi masyrakat sekitar ataupun masyrakat yang tinggal jauh dari kawasan hutan ini. Sebenarnya berbagai usaha telah banyak dilakukan untuk menjaga hutan ini. Baik itu yang dilakukan oleh aparatur pemerintah dalam hal ini aparat Polisi Hutan (Polhut) dibawah naungan BKSDA ataupun berbagai macam LSM/NGO konservasi. Tapi permasalahan yang saya ungkapkan diatas belum 100% teratasi. Rumit dan pelik memang permasalahan kehutanan di Indonesia ini.

bocah rimbabocah rimba Bila pepohonan yang ada dibabat habis, akan kemana lagi para hewan itu harus mengungsi mempertahankan hidupnya. Untuk itu dibutuhkan berbagai pihak yang menjaga dan melestarikan tempat tersebut. Demikian juga pemikiran tentang arti penting kawasan konservasi yang memang harus dikelola dengan baik untuk kepentingan alam ini. Terlebih lagi hutan ini berstatus Cagar Alam, dimana ini adalah status tertinggi bagi perlindungan hutan. Cagar Alam adalah sebuah kawasan hutan dimana segala sesuatu yang ada didalam hutan harus secara alamiah tidak boleh ada campur tangan manusia.

BOCAH RIMBAGagat Rimau, cemilan penambah tenaga (suplemen alami)

Kekayaan alam yang terkandung di alam Tapanuli ini haruslah kita jaga bersama. Semoga saja melalui tulisan saya ini banyak pihak dari berbagi elemen tergugah hatinya untuk lebih peduli akan hutan kita ini. Hutan yang kaya akan potensi alam. Hutan yang telah memberi kita oksigen gratis, hutan yang telah memberi kita air bersih, hutan yang menyejukan mata bila memandangnya.

Terima kasih telah menyempatkan waktu membaca tulisan saya ini. Tulisan ini hanya pandangan umum awam. Tidak bisa dijadikan referensi karena hanya mengungkapkan secara garis besar. Saya bukanlah ahlinya. Bila pembaca berkenan saya membuka forum diskusi pada kolom komentar di bawah mana tau ada usulan atau pendapat mengenai tulisan ini untuk kita diskusikan bersama. Terima kasih

🙂

 

Penulis: Decky Chandrawan Cp: -0852-7704-2944 -7DCFE6EA