Salam jumpa kembali para pembaca setia blog Bocah Rimba. Sudah lumyan lama saya tidak mengupdate catatan perjalanan saya. Padahal banyak perjalanan menarik yang saya lakukan akhir-akhir ini. Dan salam tulisan saya kali ini saya akan melanjutkan bercerita tentang lanjutan kisah petualangan saya di Jambi. Ini lanjutan kisah petualangan saya seusai sukses mendaki gunung Kerinci. Bagi pembaca yang belum sempat membaca tulisan saya tentang Pendakian Gunung Kerinci silahkan dibaca dulu. Sekian basa-basinya, yok lanjut ke ceritanya.

Agustus 2013 lalu seusai sukses mendaki gunung Kerinci saya melanjutkan mendaki gunung Tujuh dimana di atasnya terdapat sebuah danau yang cukup luas membentang. Ini adalah Danau air tawar tertinggi di Asia Tenggara. Danau ini berada di ketinggian 1.950 mdpl. Pertama kali saya melihat Danau Gunung Tujuh ini saat berada di Shelter 3 Gunung Kerinci, tepat pada saat fajar tiba. Sunrise yang kemerahan muncul perlahan tepat diatas Danau Gunung Tujuh. Dari situ saya niatkan, usai mencapai puncak 3.805 saya akan daki gunung Tujuh untuk berada lebih dekat dengan danau yag tampak indah di padang dari gunung Kerinci ini.

Danau Gunung Tujuh

Danau Gunung Tujuh yang saya ambil fotonya dari Puncak Kerinci, tampak begitu indah

Sekilas tentang Danau Gunung Tujuh

Danau Gunung Tujuh adalah danau yang indah dan unik di Indonesia. Danau ini berada di puncak Gunung Tujuh dan menjadi salah satu danau kaldera tertinggi di Asia Tenggara dengan luas sekira 960 hektar, panjang 4,5 km, serta lebar 3 km. Ketinggian danau tersebut sekira 1,950 meter di atas permukaan laut. Lokasinya berada di Desa Pelompek, Kecamatan Ayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi.

Karena letaknya di atas gunung, menjadikan suasana danau masih asri dan alami. Udara segar, panorama hijau, dan air danau yang jernih menyuguhkan keindahan yang mampu membuat Anda betah untuk berlama-lama menikmati pemandangannya. Selain sebagai tempat melepas penat dan bersantai, danau ini juga digunakan sebagai sumber mata pencaharian nelayan setempat.

Danau Gunung Tujuh adalah danau vulkanik nan menawan yang tercipta karena proses letusan gunung api yaitu Gunung Tujuh di Kabupaten Kerinci. Letusan gunung tersebut menyebabkan terbentuknya sebuah kawah besar yang kemudian terisi oleh air hujan sehingga membentuk sebuah danau. Danau Gunung Tujuh mengaliri beberapa sungai di Jambi, salah satu alirannya bermuara di Sungai Batanghari.

Danau gunung tujuh memiliki luas sekira 12.000 m² dan termasuk dalam wilayah Taman Nasional kerinci Seblat (TNKS) sehingga di sini Anda berkesempatan untuk mendakinya selepas mengunjungi danau ini.

Dinamai Danau Gunung Tujuh karena dikelilingi tujuh puncak gunung di sekitarnya. Gunung-gunung tersebut, yaitu: Gunung Hulu Tebo (2.525 meter), Gunung Hulu Sangir (2.330 m), Gunung Madura Besi (2.418 m), Gunung Lumut yang ditumbuhi berbagai jenis lumut (2.350 m), Gunung Selasih (2.230 m), Gunung Jar Panggang (2.469 m), dan Gunung Tujuh (2.735 m).

My Trip !

Yeaaahh…here we start, setelah mengurus perizinan di Pos Pendaian dengan membayar retribusi 2 ribu rupiah, kami memulai langkah menapakan kaki menyusuri jalur pendakian dari Gerbang Pos TNKS Resort Gunung Tujuh di Desa Palompek, Kecamata Kayu Aro,.Kab. Kerinci, Jambi.

pos pendakian Gunung Tujuh

Pos pendakian Gunung Tujuh

598611_547599908647170_48901073_n

Gerbang Pendakian Gunung Tujuh

Disini jalur masih relatif datar berupa jalanan tanah berbatu yang disisi kanan dan kiri adalah perkebunan sayur milik warga. Berjalan terus hingga kami sampai disebuah jalan setapak bercabang. Disini kami sempat ragu mau ambil jalur yang mana. Mau bertanya pun disini kami tak melihat ada manusia lain selain kami. Gak mungkin juga kan saya harus bertanya pada rumput yang bergoyang. Hehe🙂

Akhirnya kami putuskan untuk ambil jalur yang kami yakini adalah jalur yang benar. Disusuri jalan tersebut dengan medan agak mendaki hingga sampilah kami di ujung jalur yang ternyata buntu. Ya..jalur tersebut mentok di disebuah kaki bukit terjala. Di atas bukit samar terdengar suara orang, saya coba berteriak memanggil orang dari arah datangnya suara tadi. Teriakan saya di jawab. Kemudian saya tanya jalur menuju danau gunung tujuh. Orang tersebut menjawab dan mrnyuruh kami naik ke atas karena jalur sebenarnya berada di atas bukit tempat kami berada saat ini. Hmmm…ternyata kami salah jalur sejak awal. Kami bergegas naik ke atas bukit yang lumayan terjal. Saya mengambil jalur yang berbeda dengan keempat teman saya dan alhasil saya terkena sial. Yahh…sial karena jalur yang saya ambil untuk naik ke atas ternyata di tumbuhi jelatang atau ditempat asal saya disebut latong. Shit !!! daun jelatang/latong tersebut menyengat punggung sampai telapak tangan saya. Rasanya panas sekaligus perih, seketika tangan yang terkena sengatan membengkak dan memerah. Ampun! ini kali kedua saya terkena tumbuhan.penyengat saya saat sedang menjelajah hutan. Tak ada pengobatan yang dapat saya lakukan untuk ini. Itu sebabnya saya biarkan saja dan kembali.melanjutkan pendaian menuju ketinggian 2.733 mdpl.

Kami berada di jalur yang benar saat ini. Jalur berupa tanjakan tanpa bonus dataran sedikitpun. Menanjak di track yang lumayan lurus sehingga tanjakan didepan kita terlihat jelas tanpa ujung. Sungguh pemandangan yang mrmbuat mulut mengerutu. haha😀

Kendati demikian, semangat mendaki tak boleh goyah untuk sampai ke tujuan. Namanya saja mendaki ke danau tertinggi se-Asia Tenggara, tentu harus dihadapkan oleh medan pendakian yang melelahkan. Langkah kaki terus menanjak menapaki hutan gunung tujuh yang lebat. Meski tubuh lelah saat berhenti istirahat tidak boleh lama-lama. Itu pesan yang disampaikan petugas TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat) di Pos Pendakian Gunung Tujuh. Itu dimaksudkan karena TNKS merupakan habitat Harmimau Sumatera,.dikhawatirkan bila beristirahat terlalu lama memancing Harimau mendekati kita. Karena seperti kita ketahui bahwa harimau adalah karnivora yang sabar. Harimau sabar mengendap mengikuti mangsa berjam-jam atau.bahkan berhari-hari mencari titik lemah. Kemampuan.harimau membaca mangsa yang lemah itulah yang menyebabkan tidak boleh beritirahat terlalu lama dalam hutan. Harus terus bergerak walau perlahan dan berhenti hanya beberapa menit untuk seteguk air dan mengatur nafas yang memburu.

Beberapa jam kemudian tibalah kami disebuah dataran yang tidak terlalu lebar. Disana ada batang pohon yang ditempeli plat besi bertuliskan “Puncak Gunung Hulu Jujuhan (2.732 mdpl”. Yeahh…akhirnya kaki ini berhasil mencapai satu puncak gunung lagi. Disana saya sempatkan berfoto untuk mengabadikan momen. Ini dia fotonya.hehe

Gunung TujuhPuncak Gunung Hulu Jujuhan (2.732 mdpl

Karena danau betada dibawah puncak tadi kami.lanjutkan kembali langkah kaki menuju danau. Kalau sebelumnya mendaki, kali ini harus menuruni jalan setapak yang sangat terjal. Jalanan terjal itu akan berkhir ditepi danau gunung tujuh. Beberapa lama berjalan disela-sela rimbunya pohon dan dedaunan birunya air danau mulai terlihat. Wow…hal ini.memacu semangat untuk segera sampai. Tak berapa lama sampailah kami di tepi danau gunung tujuh. Sebuah.pemandangan bentang alam berupa danau ada dihadapan kami. Seperti biasa, rasa lelah sirna saat indahnya alam tersaji didepan mata. Lelahnya pendakian selama 4,5 jam terbayar sudah. Di tepi danau sudah ada beberapa tim pendaki dari lokal dan berbagai daerah.

Danau Gunung Tujuh

Danau Gunung Tujuh

Indahnya pemandangan yang tersaji dihadapan kami rupanya tak mampu mengenyangkan perut. Yah..perut sudah mulai lapar, ini tengah hari jam makan siang telah tiba. Segelah kami keluarkan logistik dan memasak ditepi danau. Selagi menunggu masakan matang, kami rebus air untuk menyeduh kopi. Sungguh nikmat menyeruput kopi di tepi danau sembari memandangi danau yang di kelilingi 7 buah gunung. 7 puncak gunung yang mengelilingi danau tampak ditutupi kabut putih.

Danau Gunung Tujuh

Tepian Danau Gunung Tujuh

Usai makan siang saya berniat mandi di danau, buka baju dan celana dan hanya mengenakan celana pendem saya mendekati danau. Perlahan saya turun kedanau dari atas batu besar, brrr…gila ternyata airnya sangat dingin. Persis seperti air es. Langsung saya urungkan niat untuk mandi. Hanya membasuh badan saja. Hanya membasuh badan saja sudah membuat badan.mengigil, gimana kalau nekat mandi coba??? Haha😀

Siang itu kami hanya bersantai di tepi danau sembari ngobrol dengan pendaki lainnya. Mereka berasal dari berbagau daerah. Keeksotisan danau.gunung tujuh memang mampu menarik penjelajah.alam dari berbagai daerah untuk mendatanginya. Termasuk kami yang datang dari Bumi Tapanuli dengan menempuh jarak ratusan kilometer dengan sepeda motor untuk datag kesini.

Danau Gunung Tujuh

Cofffe time

Ini saatnya mengabadikan momen. Yupzz..saatnya berfoto. Foto sangat penting untuk kenangan pada suatu momen, maka jangan sungkan untuk mengambil foto. Hal itulah yag kami lakukan sekarang. Berfoto ria di tepian Danau Gunung Tujuh. Beberapa pose dijepret dan tersimpan dalam format digital. Seperti apa hasilnya? Ini dia beberapa foto yang kami abadikan di Danau Gunung Tujuh.

734093_547600598647101_169341727_n

Bendera Merah Putih dan Bendera KPA Forester berhasil kami kibarkan di Danau Gunung Tujuh

Usai berfoto kami mulai packing bersiap untuk turun gunung. Rasa lega dan puas telah saya dapatkan usai sukses mencapai tujuan perjalanan ini. Kini saatnya turun gunung untuk kembali ke perdaban.

Kami turun memakai jalur yang sama saat kami naik. Kali ini turun gunung ramai-ramai dengan pendaki lainnya. Sambil bercanda kami melangkah menuruni jalan setapak yang dipenuhi rimbunya hutan dengan kayu besar. Seperti yang sayakemukakan dalam beberapa tulisan saya sebelumnya, untuk turun gunung adalah bagian yang paling saya sukai. Karena dapat berjalan santai tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga.

Langit yang tadinya cerah perlahan mulai gelap, mendung tiba dengan begitu cepat. Alhasil di tengah perjalanan turun hujan deras menghajar kami. basah kuyup jadinya, tapi untungnya isis dalam ransel saya tetap aman karena air hujan tak mampu menembus coverbag yang membalut ransel. Walau hujan kami memilih tidak berteduh, karena memang tidak ada tempat berteduh, dan pakaian yang sudah terlanjur basah. Enjoy aja menikmati perjalanan sambil hujan-hujanan. Malah untuk menghibur suasana kami keluarkan kamera water proof  dan membuat rekaman video perjalanan ini ditengah hujan. Hal itu membuat suasana makin ceria karena candaan kami semua.

Beberapa jam kemudian sampailah kami di Gerbang pendakian, yuhu…satu tempat indah berhasil saya jelajahi lagi. Suatu kebanggaan bagi diri saya dapat mencapai sebuah danau di atas gunung, apalagi danau tersebut adalah Danau tertinggi Di Asia Tenggara. Perjalan saya ke jambi dan mengunjungi beberapa tempat disana bila dipikirkan memang bertema “ter-ter”. Gunung Kerinci merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia, Kebun teh kayu Aro adalah kebun teh dataran tinggi terluas ke 2 di Asia dan Danau Gunung Tujuh merupakan danau tertinggi di Asia Tenggara. Sebuah prestasi dan pencapaian besar dalam hidup saya dapat mencapai semua itu. Semoga saja pembaca sekalian dapat terinspirasi setelah membaca catatan perjalanan saya ini.

Ok, sepertinya kita sudah sampai di penghujung cerita. Terima kasih sudah meluangkan waktunya membaca tulisan saya kali ini. Dan kini saatnya kita berdiskusi di kolom omentar di bawah ini. Barangkali saja ada pembaca yang mau menambahkan atau sekedar berkomentar. Salam petualangan !

Pernulis: Decky Chandrawan

Pin BB: 74FE68E4