Apa itu River Board? Sebelum saya bercerita tentang pengalaman mengarungi sungai denagn River Board sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu River Board. Riverboarding lahir pada tahun 1970an. Awalnya muncul dari kebosanan sekelompok pemandu rafting di Perancis. Mereka menginginkan “berenang di sungai” dengan cara yang lebih menarik, lebih menantang. Maka orang-orang yang sudah sangat akrab dengan karakter sungai itu mengikat beberapa jaket pelampung menjadi satu, lalu terjun. Ya, sesederhana itulah cikal bakal lahirnya riverboard. Harus diakui, orang Perancis memang paling kreatif menciptakan tantangan yang tak terbayangkan sebelumnya.

Salah satu faktor tantangan dalam kegiatan yang juga dikenal dengan sebutan hydrospeed ini adalah kecepatan. Pada bagian arus yang sangat deras, kecepatan peselancar bisa melebihi 30 km per jam. Sama sekali tidak cepat jika dibandingkan kebut-kebutan dengan sepeda motor. Namun, tantangan lainnya adalah hubungan langsung antara pelaku dengan sungai. “It’s just between you and the river”, begitu semboyan para pecintanya. Papan selancar “modern” yang umumnya terbuat dari karet busa itu berketebalan 8-12 cm. Di air sungai yang bergolak, terkadang papan setebal itu tidak berarti apa-apa. Dengan perahu karet atau kayak, kita seringkali ditelan jeram. Dengan riverboard, hampir sepanjang waktu kita berada sejajar dengan permukaan air. Sisanya, sebentar terbenam sebentar terlempar ke udara.

Tak lama berselang, orang-orang Perancis pencetus riverboarding ini mengganti pelampung yang awalnya sekadar diikat dengan karet busa. Bentuknya pun terus dikembangkan, hingga mencapai bentuk dasar papan selancar sungai yang dikenal sekarang.

Kini, riverboarding sudah menyebar luas di Eropa, Amerika dan Australia serta Selandia Baru. Namun kata Robert Carlson, salah satu tokoh riverboarding modern, sebenarnya kegiatan hydrospeed sudah ada sejak zaman prasejarah! Bagaimana bisa? Menurut Carlson, siapa pun yang melompat masuk ke sungai dengan alat pengapung apa pun, lalu “berselancar” mengikuti arus, dapat dikategorikan sebagai peselancar sungai. Misalnya, ada kelompok-kelompok manusia purba yang memanfaatkan pohon tumbang atau balok kayu sebagai alat transportasi. Sampai sekarang pun kegiatan semacam itu tetap ada. Contoh, coba main ke desa-desa dekat sungai. Anak-anak usia SD dengan santai berceburan di sungai deras acapkali hanya dengan batang pisang atau bambu. Seolah jaman prasejarah masih berlangsung.

Kenapa riverboarding sangat terlambat masuk Indonesia? Rasanya bukan hanya soal harga, walaupun harga riverboard di internet rata-rata di atas 1 juta kalau dirupiahkan. Mungkin yang lebih berperan adalah lambatnya arus informasi. Sekarang, dengan mudahnya kita bisa berselancar di internet, mudah-mudahan arus informasi jadi sekencang arus sungai sehabis hujan di hulu, sehingga kita di Indonesia segera dapat menyelancari sungai-sungai kita yang tak terhitung potensi dan tantangannya, bahkan berpartisipasi dalam lomba-lomba hydrospeed yang sudah banyak digelar di mancanegara. Sedangkan Pak Eko mencoba merakit sendiri salah satu Board sehingga dapat ditekan harganya bila dibandingkan jika harus beli yang sudah siap pakai.

Pada kesempatan kali ini kami ingin mencoba menantang derasnya arus Sungai Batang Natal. Sebuah sungai yang berbatu dan berarus deras, sangat cocok untuk bermain River Board. Berawal dari ajakan Pak Eko, orang pertama kali mengenalkan Olah Raga Arus Deras (ORAD) jenis Riverbord ino di Kota Padangsidimpuan. Biasanya beliau sering main di sungai parsariran ataupun sungai Batang toru. Dengan menggunakan mobil kami berangkat dari Kota Padangsidimpuan Pukul 4 sore dan tiba di Desa Bangkelang, Kecamatan Batang Natal sekitar pukul 8 malam. Sesampainya disana kami langsung menuju rumah kepala desa bangkelang untuk meminta izin bermalam di tepi sungai Batang Natal. Pak Kepala Desa menyarankan agar kami bermalam saja di dekat rumah saudara kembarnya yang kebetulan tepat disisi sungai.

Jadilah malam itu kami bermalam disana, dua buah tenda dome kami dirikan untuk menampung enam orang. Eanam orang itu adalah, saya sendiri, Andika, Rahmad, Rahmadysah, Andika, Pak Eko dan anaknya yang bernama Aiman. Layaknya kemping pada umumnya, malam itu kami masak untuk makan malam denagn menu ikan bakar yang bkami beli waktu mampir di pasar Panyabungan. Sambutan Pak Kepala Desa serta warga setempat sangat ramah terhadap kami, mungkin mereka heran denagn kami yang datang jauh-jauh hanya untuk mencoba arus di sungai Batang Natal yang mengalir di desa mereka. Malam itu kami di jamu dengan keramah tamahan mereka, serta ubi kayu yang di beri oleh mereka langsung saja kami bakar di perapian apai unggu yang menyala malam itu.

Morning Come, It’s Time For Water Adventure!!!

Pagi tiba, petualangan air segera dimulai. Seusai sarapan pagi kami semua bersiap mengganti baju dan memasang alat-alat keamanan berupa jacket pelampung, Helm dan pengaman lutut. Perangkat keamanan tersebut merupakan hal wajib yang harus di bakai dalam bermain River Board ini. Giliran pertama adalah saya, Pak Eko dan Rahmad. Saya memakai ban dalam fuso(Tubing Rakitan, berupa ban dalam fuso yang di tengahnya di beri ban dalam vespa dan di ikat dengan tali webbing) sedangkan Pak Eko dan Rahmad memakai River Board. Berjalan kea rah hulu sungai sekitar 500 meter dari base camp kami mengawali start. Setelah dapat lokasi meluncur yang di anggap pas langsung saja kami nyempulng dan meluncur di derasnya arus sungai. Dialiran sungai yang menikung terdapat batu besar yang berhadapan dengan jeram, sehingga aliran sungai yang mengalir menghantam batu besar, menyebabkan arus air disana berputar. Tentu saja ini membuat kami berputar-putar dan sangat susah untuk lolos dari sana. Setelah perjuangan yang agak lama satu persatu dari kami bias lolos dari arus berputar tersebut dan siap melaju kencang mengikuti arus sungai dengan jeram-jeramnya.

Pak Eko yang dan rahmad yang melaju dengan River Board berada di depan, sedangkan saya yang menggunakan Tubing berada di belakang mereka. Pak Eko melaju, melewati beberapa buah jeram yang bergelombang denagn lancer. Sedangkan Rahmad beberapa kali menyangkut pada batu-batuan disungai. Sedangkan saya, karena menggunakan Tubing tentu saja lancar-lancar saja mengarungi jeram-jeram tersebut. Setelah sampai di arus tenang kami melanjutkan lagi menuju hilir sungai. Dibawah sebuah jembatan, tepatnya aliran sungai sebelum  jembatan terdapat sebuah jeram yang sangat deras dan ada sebuah pohon bambu yang melintang disana tertahan oleh bebatuan. Kedua buah River board melaju kencang, Pak Eko lagi-lagi berhasil lolos, sedangkan Rahmat berulang kali terlepas dari perahu. Sekarang giliran saya, jeram yang deras yang saya sebutkan tadi saya lalui, tapi tak berapa lama Tubing saya kemps denagn cepat sesaat setelah melewati jeram tadi. Karena sedikit panik saya terlepas dari perahu yang sudah kemps tersebut sehingga saya terpaksa harus Body Rafting melawan jeram-jeram yang ada. Sempat saya berusaha mengejar namun saya malah terbawa arus dan tidak memungkinkan lagi untuk mengejar Tubing yang hanyut tersebut. Pak Eko dan Rahmat yang telah sampai duluan di aliran sungai yang agak tenang.

Sesaat kemudian ketika saya hendak berjalan dari tepian sungai menuju base camp, untuk megobati kaki yang luka tergores bebatuan. Ketika saya lihat Pak Eko belum juga muncul, dan sewaktu Rahmad dating dia bilang Pak Eko berjalan kearah hilir sungai mecari Tubing yang hanyut. Langsung saja saya susul beliau dan saya menemukan beliau di pinggir sungai sedang melihat kea rah jeram yang lumayan besar. Ternyata beliau hendak mengambil Tubing yang tersangkut pada batu yang berupa jeram yang sangat deras. Saya disuruh Body Rafting mengambil Tubing yang tersangkut. Beberapa kali percobaan saya gagal karena arus membawa saya tidak kea rah Tubing yang tersangkut tersebut. Akhirnya ketika Pak Eko mencoba dia langsung berhasil tepat di posisi Tubing tersangkut. Tapi ternayata Tubing tersangkut sangat kuat sehingga susah untuk melepasnya. Singkat cerita Tubing tersebut berhasil kembali didapatkan dan ternyata Tubing tersebut sobek sekitar 5 Cm mungkin terkena batu atau pohon bambu yang melintang di jeram besar sebelum jembatan.

Trip kedua adalah Pak Eko dan Aiman, Pak Eko membimbing Aiman sedangkan saya dibelakang mengikuti. Disebuah jeram Aiman bebrapa kali terlepas dari board dan tebawa arus namun berhasil berhenti karena berpegangan pada batu. Stetalah itu dilanjutkan kembali Aiman dan Pak Eko meluncur dengan Board mereka masing-masing. Beberapa Aiman berhasil melewati jeram, kadang lancar dan kadang pula board tersangkut ataupun terbalik ketika melewati jeram. Trip kedua ini hanya berakhir sampai di base camp karena Aiman enggan melahap jeram selanjutnya.

Trip ketiga adalah Rahmad dan Andika, tanpa basa-basi mereka berdua meluncur menghantam jeram-jeram sepanjang aliran sungai. Beberapa kali mereka terlempar pada jeram-jeram besar serta di gulung oleh arus yang deras. Sementara mereka berdua main saya dan Rahmad pergi menempel Tubing yang bocor tersebut.

Sesaat setelah istirahat makan siang kami lanjutkan kembali. Bertiga kami turun kesungai, dengan dua board dan satu buah Tubing yang telah ditambal tadi. Lagi-lagi saya memakai Tubing, syukurnya lancar-lancar saja melewati jeram hingga sampai finish point. Beda halnya dengan yang memakai Board, beberapa kali mereka jatuh bangun saat melewati jeram. Dialiran sungai sebelum jembatan saya dan andika sempat bertukar, saya memakai Board, sedangkan Andika memakai Tubing.  Ok, sampai disini semua lancar. Tapi berikutnya karena saya yang tidak memakai safety gear kaki saya habis luka-luka tergores bebatuan cadas.

Berikut ini adalah video yang mengabadikan moment saat mencoba merasakan arus sungai Batang Natal. Check this out!

Memang Sungai Batang Natal ini sangat extrem, denagn arus deras dan bebatuan sangat menguras tenaga. Tapi mungkin ini semua karena kami belum mengenal medan, sehingga belum tau spot-spot yang aman untuk di lewati, maklum lah ini pertama kalinya kami merasakan arus sungai ini. Krakteristik sungai yang berbatu dan berarus deras sangat berbeda dengan sungai tempat biasa kami main yaitu sungai Parsariran di daerah Batng Toru.

Ok, tampaknya sekian dahulu cerita menantang arus dengan media River Board kali ini. Jika teman-teman pembaca tahu sungai tempat main River Board (Spesifikasi sungai berbatu dan berarus deras) silahkan beritahu saya lewat kotak komentar di bawah. Atau jika ingin bergabung dengan kami silahkan hubungi saya melalui kontak yang tersedia pada blog ini.

Akhir cerita, kami mengucapkan terima kasih untuk Bapak Kepala Desa Bangkelang dan warga Bangkelang yang telah dengan ramahnya menyambut kami.

 

 

Penulis: Decky Chan