Berselang dua bulan dari perjalanan Three Summit Nort Sumatera, saya melakukan sebuah perjalanan yang memang menjadi keinginan saya. Untuk mengingat setiap perjalanan yang saya lakukan saya member nama yang berbeda satu sama lainnya. Perjalanan yang saya lakukan kali ini saya beri nama Explore West Sumatera. Nama itu saya kira tepat, mengingat daerah ayang saya explore kali ini berada di Provinsi Sumatera Barat. Ranah Minang kabau memang menjanjikan ke indahan alam yang luar biasa, hal itulah yang membuat saya sangat ingin merasakan, melihat dan menginjakan telapak kaki ini di Ranah Minang.

Seperti perjalanan – perjalanan saya sebelumnya, kali ini saya juga menggunakan sepeda motor sebagai sarana transportasi murah. Jarak 288 km dari padangsidimpuan – Bukit tinggi saya tempuh dengan sepeda motor demi sebuah hasrat yang begitu besar. Sebelum keberangkatan saya membuat list/daftar tempat-tempat yang akan saya kunjungi. Tapi itu hanya teori di atas kertas, faktanya banyak tempat yang masuk dalam list tidak saya kunjungi, malah tempat yang tidak ada dalam list justru saya kunjungi. Tapi walaupun demikian, target mendaki ke Gunung Merapi berhasil saya penuhi. Sebenarnya ada dua buah gunung yang akan saya daki dalam perjalanan ini, yaitu Gunung Merapi dan Gunung Talang. Tapi hanya Merapi yang kesampaian, sedangkan Talang tidak karena kondisi dan waktu tidak memungkinkan.

Berangkat dari Padangsidimpuan 30 Agustus 2012 pukul 4.30 dini hari. Perjalanan di mulai, memacu kecepatan sepeda motor 80 km/jam dijalanan sepi dini hari menciptakan dingin yang sangat. Ransel besar melekat di punggung, matras terikat di belakang sepeda motor menambah kegagahan dijalanan. Jalanan berlobang berganti menjadi jalanan lebar aspal mulus dengan cat warna kuning dikedua sisinya menyambut kami ketika meninggalkan Provinsi Sumatera Utara dan memasuki Provinsi Sumatera Barat, tepat di Gapura batas kedua provinsi. Dalam hati saya bedecak kagum melihat jalan lintas di Sumatera Barat yang keadaan aspalnya mulus. Jalanan berkelok menjadi santapan, dikedua sisi jalan tersaji pemandangan yang menyejukan mata. Deratan pegunungan dan hutan yang lebat tepat disisi saya.

Melintasi Perbatasan Provinsi Sumut-Sumbar

Singkat cerita tibalah saya di Bukit Tinggi pukul 8 malam dengan cuaca yang gerimis. Terbilang lama waktu tempuh ini. Itu dikarenakan kami banyak berhenti, bayangkan saja di daerah Pasaman Barat kami 2 jam berhenti karena pada saat itu kami sempatkan singgah di rumah seorang kenalan, namun apa lacur? Kami ditawan oleh sang empunya rumah, tidak boleh pergi sebelum makan siang. Dan yang memperlambat lagi ternyata sang empunya rumah belum masak. Jadilah kami menunggu masak hampir 2 jam disana. Juga di di daerah Bonjol kami sempat tertahan 2 jam dikarenakan hujan deras yang memaksa kami untuk berteduh. Semua itu dan berbagai faktor lain yang meperlambat perjalanan. Setibanya di Bukit Tinggi, destinasi pertama kami adalah di Jam Gadang, icon/Land Mark Kota Bukit Tinggi. Sementara target saya mala mini adalah bermalam di kaki Gunung Merapi yang esok saya dan teman-teman saya akan daki. Setelah mengontak teman yang akan menemani kami mendaki ke Gunung Merapi. Yah, seorang teman yang saya kenal melalui salah satu group di Facebook. Akhirnya saya disarankan menuju Koto Baru yang ternyata dekat dari Bukit Tinggi. Disebuah pasar di daerah Koto baru inilah kami berjumpa dengan teman yang akan menagantar kami ike Puncak Marapi. Setelah berbincang sejenak kami segera menuju pos pendakian yang berupa gedung di yang kelihatannya bekas gedung tower. Disamping pos pendakian ada sebuah Musholla yang tidak terpakai lagi serta penuh dengan coretan di dindingnya.

Pendakian Gunung Merapi 2891 Mdpl

Seusai Sholat Jumat, packing dan kemudian mulai menapaki kaki Gunung Marapi pukul 13.30. Titik awal pendakian berada di daerah Kotobaru, Tanah Datar dengan lama perjalanan dari Kota Padang menuju Kotobaru sekitar 1,5 jam atau 15 menit dari kota Bukit Tinggi.Kawasan Gunung Marapi merupakan kawasan konservasi di Sumbar, yakni Suaka Alam Marapi. Ramai juga pendakian kali ini, yang biasanya saya naikgunung hanya 2-5 orang kali ini 13 orang. Dimana 8 orang kami yang dari Padangsidimpuan dan 5 orang lainnya dari berbagai daerah yaitu Padang, Bukit Tinggi dan Payakumbuh. Semua ngumpul jadi satu, nanjak bareng diterjalnya Gunung Marapi. Senda Gurau canda tawa menghiasi selama pendakian. Suasana yang asyik ditengah kebersamaan. Perbedaan bahasa sempat menjadi penghalang komunikasi, saya dan teman-teman saya biasa menggunakan bahasa mandailing, sedangkan teman yang dari Sumatera Barat menggunakan bahasa Minang Kabau. Tapi untunglah kita punya bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia.haha

Kaki Gunung Merapi yang di dominasi kebun sayuran

Vegetasi awal pendakian menuju puncak di awalai denagn perkebunan sayuran milik penduduk yang di batasi oleh sebuah Pos milik BKSDA. Kemudian disusul oleh hutan pinus, sesaat setelah melewati hutan pinus sampai kita pada reruntuhan bangunan yang hanya tinggal lantainya terbuat dari semen. Tempat ini adalah Pesanggrahan Bung Hatta. Teman sekaligus pemandu kami bercerita, Bung Hatta Sang Proklamaor pernah di asingkan disini. Kemudian disusul anak tangga terbuat dari semen dan ada semcam bekas pertapakan rumah yang menyisakan hanya lantainya. Ini adalah lantai dua. Kurang jelas juga yang dimkasud dengan lanati dua ini. Apakah ini lanati dua dari rumah pengasinagn VBung hatta atau hanya istilah saja. Setelah itu disusul denagn vegetasi hutan bamboo, dihutan bamboo inilah sumber air pertama. Jerigen dan botol air minum diisi penuh disisni guna kebutuhan air selama pendakian.

Semangat sebelum nanjak ke Merapi

Setelah meninggalkan hutan bambu kita mulai memasuki hutan dengan aneka macam pohon keras khas hutan tropis Indonesia. Jalur pendakian yang awalnya landai kini semakin terjal, dengan tanjakan-tanjakan curam. Disepanjang jalur pendakian saya melihat banyak dataran yang kelihatnnya di gunakan sebagai tempat peristirahatn ataupun tempat mendirikan tenda. Hal itu tampak dari kayu bekas perapian. Carrier dengan berat yang lumayan pun bergantian di sandang. Begitulah seterusnya tetap menapaki jalanan setapak dengan langkah kecil menelusiri rimba Gunung Merapi.

Mulai menapi jalur menuju puncak Merapi

Begitu mencapai Pintu Rimba udara dingin mulai terasa. Saya yang tadinya memakai celana pendek dan baju lengan panjang yang di balut dengan rompi segera saya ganti dengan celana panjang serat jacket yang dilapis dua dengan rompi. Cukuplah untuk menahan hawa dingin walau masih terasa kurang tebal. Hari mulai gelap ketika kami berada di dekat Pintu Angin. Ada sebuah terowongan berupa celah sempit hanya muat satu orang sepanjang kira-kira 15 meter. Ketika tangan menyentuh dinding terowongan terasa sangat dingin laykanya kita menyentuh es batu. Jemari ini sampai ‘kebas’/tidak merasakan ketika sedang memegang sesuatu karean dingin yang amat sangat.

Kecerian saat mendaki

Kini sampailah kami di sebuah tempat berupa dataran dengan areal terbuka, jauh di bawah sana tampak lampu-lampu kota Bukit Tinggi dan lampu kota-kota lain di sekitarnya. Setengah jam kemudian sampailah kami di pintu angin, disinilah kami akan mendirikan tenda dan bermalam di Pintu Angin. Pintu angin sendiri adalah sebuah tempat dimana batas antara hutan dan cadas. Disini biasanya pendaki beramalam, memulihkan stamina sebelum esok paginya melanjutkan perjalanan menuju puncak. Tempat ini begitu favorit karena dari sini kita dapat memandang luas kearah Bukit Tinggi serta panorama Gunung Singgalang dan Gunung Tandikek. Kebetulan pada malam ini sedang bulan purnama. Jadilah Susana terang benderang, puncak merapi tampak samar terlihat di balut sinar purnama. Angin dingin terasa sangat menusuk tulang. Berdiri 3 buah tenda dome sebagai tempat kami berlindung dari ganasnya hawa dingin. Terlelap tidur hingga sang fajar tiba, dingin pagi itu perlahan berkurang seiring dengan sinar mentari yang menghangatkan tubuh secara perlahan. Bangun tidur langsung disajikan pemandangan yang menakjubkan. Oh…inilah alam ciptaan Tuhan yang indah itu. Beruntunglah kami yang sedang menyaksikan secara langsung pemnadangan yang tidak semua orang dapat melihatnya. Subhanallah ucap saya dalam hati. Tak lupa kami mengabadikan itu semua dengan kamera sebagai memori visualisasi dikemudian hari.

Blue Moon di atas gunung Singgalang yang enggan sirna walau fajar telah tiba, tampak dari base camp pintu angin

Base Camp Pintu Angin di pagi hari, suhu udara begitu dingin

Usai sarapan pagi, segera packing untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dari tiga buah tenda yang kami dirikan disisakan satu buah tenda yang tidak dibongkar. Maksudnya agar barang-barang yang tidak akan diperlukan selama menuju puncak disimpan dalam tenda yang tidak dibongkar tersebut. Karena kami berencana untuk makan siang di puncak, jadilah kami membawa logistic yang akan dipakai dalam beberapa buah carrier dan day pack.

Puncak Abel

Kaki mulai melangkah menanjak di jalanan cadas menuju puncak. Bebatuan yang labil sering kali menyusahkan langkah, oleh sebab itu rute cadas ini senagaja di buat zig-zag agar memudahkan kita menapakinya. Menguras tenaga memang menjalani rute cadas ini, bayangkan saja menjalani rute menanjang ditambah tubuh yang terbakar matahari sehingga tubuh menguap. Jalur cadas seperti ini sewaktu pendakian saya ke gunung Sinabung kemarin orang menamakan “tanjakan patah hati”. Kerana banyak pendaki yang mengeluh dan hamper memathakan semangat bila melaluinya. Menurut saya pribadi, jalur cadas Sinabung lebih terjal di banding Merapi.

 

Negeri di atas awan puncak abel

Setelah melalui cadas sampailah kami di sebuah tugu prasasti yang dipagari rantai bernama Puncak Abel. Beristirahat disini sembari menatap pemandangan yang tersaji dihadapan kami mujarab menghilangkan lelah dan membuat semangat kembali bangkit. Dari sini kita disajaikan pemandangan yang menakjubkan. Panorama gunung Singgalang, Tandikek serta gunung Talamau yang Nampak dikejauhan. Seangkan di belakang kita dapat melihat hamparan padang pasir seluas lapangan futsal serta Puncak Garuda dan tentu saja puncak tertinggi Merapi yaitu Puncak Merpati. Kurang tau juga mengapa puncak-puncak gunung disini dinamakan dengan nama-nama burung. Mungkin ada pembaca yang dapat menjelaskannya melalui kolom komentar di bawah.

Di depan kawah utama Gunung Merapi

Melanjutkan lagi perjalanan menuju puncak Garuda, kami melewati padang pasir kemudian menjumpai bibir kawah aktif utama gunung Merapi. Tampah dua buah cekungan yang cukup dalam. Satu adalah berupa cekungan dengan dasar pasir sedangkan satunya adalah kawah utama yang mengepulkan asap putih dari dapur magma di perut gunung Merapi. Semua Nampak begitu menakjubkan, saat ini saya sedang berdiri dan menatap kawah utama. Inilah sumber semua kepanikan warga lereng gunung marapi yang dibuat cemas bila sang gunung sedang “batuk”. Memang gunung ini terbilang sangat aktif, terlihat dari statusnya yang sering dinaikkan yang biasanya ditanmdai dengan peningkatan aktivatas vulkanik. Baik itu berupa gempa vulkaniak ataupun semburan asap hitam dan debu vulkanik. Salah satu gunung api aktif di Sumbar ini terakhir kali meletus pada 2005 . Sejak akhir abad ke-18 sampai 2008, gunung ini tercatat 454 kali meletus, 50 kali di antaranya dalam skala besar.

Padang Pasir di puncak Merapi

Puas dengan menatap kawah gunung Merapi, kami melanjutkan menuju Puncak garuda. Dari sini taman Edelwess sudah Nampak di kejauhan di punggungan bukit. Juga kelihatan lobang-lobang yang ternyata adalah kawah aktif. Disemak belukar agak jauh saya melihat ada genagan air mirip senuah telaga. Mas Debon yang merupakan Guide saya menjelaskan, itu adalah Telaga Larangan, cerita-cerita mistik banyak dikaitkan mengenai temapat terlarang itu. Beliau menjelaskan tidak ada pendaki yang bernai memasuki tempat itu.

Background adalah lubang-lubang kawah aktif gunung Merapi

Puas berfoto ria di puncak garuda kami melanjutkan perjalanan menuju taman Edelweiss. Horeee !!! saya sangat semangat menuju taman Edelweiss ini karena memang itulah cita-cita saya, ingin menyentuh dan melihat edelweiss yangterkenal itu secara langsung. Mas Debon yang tadinya enggan mengantar kami kahirnya hatinya luluh dan berbaik hati mau mengantar kami menuju taman Edelweiss. Lumayan jauh juga menuju taman Edelweiss dari puncak garuda. Harus menyusuri bebatuan cadas menurun.

Taman Edelweiss gunung M erapi

It’s time ! ya…tibalah kami di sebuah hamparan luas penuh denag Bunga Edelweiss yang sedang mekar berwarna putih. Sangat luas Hamparan Edelweiss di tempat ini yang diselingi denagn tumbuhan perdu lainnya seperti Bunga Padi dan lainnya. Dibawah pohon yang cukup sebagai temapt berlindung dari teriknya matahari, kami beristirahat sambil memasak makanan untuk makan siang. Sembari menunggu makanan matang, diantara kami ada yang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang mencari objek foto, tidur juga ada yang asyik bersenda gurau. Sungguh suasana yang kurindukan.

Taman Edelweiss dengan latar puncak Merpati

Selesai dengan itu semua setelah makan siang kami bergegas kembali ke base camp Pintu angin untuk melanjutkan perjalanan turun. Kami bergegas turun agar tidak kemalaman dijalan, tapi ternayata tetap saja kemalaman. Perjalanan turun tidaklah seberat saat mendaki, menurut pengalaman saya pada saat turun gunung normalnya hanya membutuhkan waktu setengah dari waktu pada saat naik. Di puncak Merapi ini pula awal benih-benih cinta sepasang manusia tumbuh, bermula dari perlombaan denag taruhan sepiring sate padang yang saya anggap hanya modus belaka. Yah, semoga saja cinta kalian abadi laykanya bunga Aedelweiss yang tak pernah layu. Banyak kisah terjadi selama pendakian, namun hanya beberapa yang saya sampaikan. Cerita lainnya biarlah disimpan dalam kenangan. Kini satu dari berjuta impian saya telah tercapai. Puncak Merapi yang selama ini hanya ada di angan kini telah terwujud nyata. Di gunung ini saya banyak belajar tentang sebuah perjalanan hidup, sebuah filosofi hidup yang menjadi panduan. Digunung ini pula saya perlahan menaklukan ego yang kerap menjadi sekat hati. Dari pendakian ini aku belajar, butuh upaya yang keras untuk mendapatkan tujuan yang di impikan.

Terima kasih untuk kawan-kawan seperjalanan, kenangan tentang kita semua akan selalu ku ingat. Special thanks buat Mas Debon yang bersedia menemani kami naik ke Merapi. Dan juga buat anak Backpacker Kota Padang ( Riko, Kak Sari, Aan) yang turut bergabung dalam pendakian ini. Juga terima kasih untuk Rizal dan tidak lupa buat Bayu denag topi rimbanya yang tidak pernah lepas. Serta rekan-rekan seperjalanan dan sekotaku dari KPA FORESTER. Alhamdulillah kita semua sukses mencapai puncak Merapi. Kenagan tentang kalian akan selalu ku ingat di memori otak ku, foto kenangan kalian akan ku pajang di dinding kamarku berdampingan dengan foto perjalananku lainnya.

Danau Maninjau Yang Eksotis

Setelah usai pendakian gunung Merapi, malamnya saya melnjutkan perjalanan langsung menuju Maninjau. Tujuan saya kesana adalah menemani teman yang hendak berkunjung ke rumah saudaranya. Lupa saya nama Desanya, yang pasti letaknya kurang lebih setengah jam melewati danau Maninjau. Lumayan extrim juga jalanan menuju danau Maninjau ini, kelok 44 yang berupa kelokan-kelokan tajam berjumlah 44 buah menurun kami lalui dengan penuh mawas diri. Dua setengah jam kemudian kami baru sampai di rumah kerabat teman saya tersebut. Tidak banyak aktifitas yang saya lakukan malam itu. Hanya mandi kemudian makan setelah dipersilahkan pemilik rumah kemudian tidur di kamar yang disediakan untuk kami berdua.

Danau Maninjau

Paginya kami bangun sekitar pukul sembilan, mungkin karena terbuai denagn empuknya kasur dan lelah setelaha pendakian Merapi kemarin. Mandi dan sarapan pagi kami bergegas pamit untuk melanjutkan perjalanan menuju Bukit Tinggi. Dimana enam teman saya lainnya menunggu kami dan akan bertemu di Jam Gadang. Ditengah perjalanan kami sempat mengadikan beberapa buah foto di di Danau Maninjau dan juga Kelok 44 yang extrim itu. Banyak kawanan monyet liar dipinggir jalan, motor saya hentikan untuk mengambil gambar kawanan monyet liar tersebut. Kami juga sempat berhenti sejenak di pinggir jalan menuju Bukit Tinggi, disana ada beberapa buah lobang Goa yang terletak di pinggir jalan. Itu adalah Lobang Jepang, Lubang Jepang merupakan sebuah terowongan (bunker) perlindungan yang dibangun tentara pendudukan Jepang sekitar tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan. Kebetulan Lobang jepang yang saya kunjungi ini adalah yang terletak di dekat Ngarai Sianok.

Kelok 44

Tak berapa lama sampailah kami di jam gadang, disana teman-teman saya lainnya sudah menunggu. Berbincang dan berfoto-foto sejenak batulah kami berpisah. Ya, dari delapan orang yang berangkat dari Padangsidimpuan, empat lainnya kembali ke Padangsidimpuan karena mereka memang menargetkan hanya pendakian Merapi saja. Sedangkan saya dan tiga orang lainnya melanjutkan perjalanan kearah Padang. Setelah empat teman lainnya pulang, say melanjutkan jalan menuju Kota Padang, dari Bukit Tinggi ke Padang kami tempuh dua jam perjalanan. Dengan jalanan yang mulus dan lebar serta pemandangan yang indah ketika kami sampai di Lembah Anai. Air terjun tampak persis di pinggir jalan dengan Jembatan rel Kereta apai di sisinya. Tapi kami memutuskan tidak berhenti disini, dan akan berhenti nanti dalam perjalanan pulang.

Lobang Jepang

Tiba di Kota padang pada sore hari kami bermalam di kostan salah seorang teman yang kuliah di kota ini. Lumayanlah untuk menghemat budget dari pada harus menginap di penginapan. Malam harinya hanya berkeliling kota Padang dan kemudian kembali lagi ke kostan teman lalu istirahat memulihkan energy untuk perjalanan esok yaitu menjelajahi tempat wisata alam di sekitaran Kota Padang.

Berkunjung ke Pantai Air Manis (Batu Malin Kundang)

Esok harinya kami bersama dua orang anak Backpacker Kota Padang yaitu Aan dan Riko kami menuju tempat wisata Pantai Air Manis. Kira-kira 45 menit dari kota Padang. Pantai dengan ombak yang lumayan besar yang dimanfaatkan oleh sebagaian orang sebagai arena bermain selancar. Kita dapat menyewa papan selancar seharga Rp. 30.000. Dekat dengan antai terlihat sebuah pulau yang beranama Pulau Pisang Kecil. Kita dapat menyeberang ke pulau tersebut dengan berjalan kaki karena airnya yang dangkal pada saat surut. Sayangnya pada saat kami tiba disana air laut sedang beranjak pasang.

Panatai Air Manis dengan latar Pulau Pisang Kecil

Papan Selancar di pantai Air Manis

Puas dengan itu, kami menuju ujung pantai dimana terdapat Batu Malin Kundang. Inilah kisah legenda rakyat minang kabau yang terkenal itu. Memang benar adanya keberadaan batu malin Kundang tersebut. Batu Si Malin tampak sedang bersujud juga kapal, tali-tali kapal dan drum-drum yang semuanya membatu. Ilmu pengetahuan mungkin menyebut ini fosil. Disini banyak orang yang menjual jasa foto kilat, tapi karena kami membawa kamera sendiri kami tak menggunakan jasa foto kilat tersebut.

Lembah Anai yang Menawan

Hari ke enam perjalanan saya ini kami menyudahi perjalanan mengexplore kekayaan alam Bumi Andalas. Berangkat dari Kota Padang siang hari, dalam perjalanan pulang kami menyempatkan berkunjung ke Lembah Anai. Lembah Anai terkenal dengan objek wisata air terjunnya. Lembah Anai sendiri merupakan daerah cagar alam yang dilindungi. Air terjun yang sangat m,enarik perhatian ini sayag bila harus dilewatkan tanpa dikunjungi dan di abadikan dalam bentuk foto.

Air Terjun Lembah Anai

Dikejauhan tmapak jembatan Kereta Api dan Air Terjun Lembah Anai

Didepan air terjun tampak jembatan rel kereta api yang membelah jalan raya Padang-Bukit Tinggi. Biaya ticket masuk ke air terjun ini hanya Rp. 3.000 saja. Sungguh indah alam Ranah minang ini, lemabah anai denagn pesona air terjunnya dan juga tebing-tebingnya yang menawan. Beberapa buah Jembatan rel Kereta Api tampak membelah jalan raya adalah sebuah hal yang tidak saya jumpai di kota asal saya.

Berbelanja di Pasar Atas Dan Pasar Lereng Bukit Tinggi

Tidak lengkap rasanya berkunjung ke suatu tempat tanpa membeli buah tangan dari kota tersebut. Sebelum kembali ke Padangsidimpuan saya dan teman-teman saya menyempatkan berbelanja oleh-oleh untuk dibawa pulang. Pertama saya mengunjungi Pasar Lereng, disini adalah pusat penjualan barang bekas mulai dari baju, jacket, tas dan juga sepatu. Saya menargetkan sepatu gunung sebagai barang buruan dipasar ini. Sekaian kios yang saya datangi, akhirnya saya menemukan sepatu yang saya idamkan tersebut dengan harga yang bersaing tentu saja dengan kualitas yang masih baik. Tips bila berbelanja barang bekas di Pasar Lereng ini, tawarlah harga setengah dari harga awal yang ditawarkan si penjual dan tetap ngotot denagn harga yang anda minta, bila perlu pura-pura meninggalkan sipenjual tersebut. Seperti saya yang berhasil mendapatkan sepatu gunung denagn harga setengah dari penawaran awal setelah saya berpura-pura pergi dan akhirnya dipanggil kembali dan di berikan harga yang saya minta.

Badut di Jam Gadang

Setelah sepatu gunung saya dapatkan, saya menuju pasar atas. Disini adalah pusat penjualan baju dan berbagai macam aksesoris dengan harga murah. Disini saya membeli beberapa buah baju, aksesoris dan makanan ringan khas bukit tinggi seperti keripik sanjai dll. Kedua buah pasar yang saya sebutkan di atas terletak di depan Jam Gadang.

Selesai berbelanja ria disana, kami bergegas pergi meninggalkan Kota Bukit Tinggi dengan beribu kenagan selama disana. Kini kami harus menempuh kembali jalanan asapal hitam sepanjang 288 km dengan sepeda motor yang setia mengantar ku ketempat-tempat jauh tujuanku.

Usai sudah penjelajahanku di Bumi Minang Kabau, hati terasa puas karena hasrat yang telah tersampai. Seminggu adalah waktu yang sangat kurang untuk menggali potensi alam Sumatera Barat yang sangat banyak dan layak menjadi agenda kunjugan. Suatu saat aku akan kembali ke negeri nan indah ini. Memenuhi nazarku untuk sampai ke puncak Gunung Talang. Terima kasih kawan-kawan yang telah terlibat dalam perjalananku ini. Memori tentang kita akan ku ingat selalu.

Hasil Jepretan lainnya saat Explore West Sumatera:

Special Thanks to:

KPA FORESTER Tabagsel

Bacpacker Kota Padang

Penulis: Decky Chan