Alam Tapanuli Selatan tidak ada habis-habisnya menampilkan keindahannya. Kekayaan alam di daerah ini memang sangat berlimpah. Seperti yang saya buktikan dengan perjalanan saya mengunjungi dua buah objek alam menarik baru-baru ini. Objek yang berhasil saya capai kali ini adalah berupa danau yang elok nan cantik.

Danau Siais

Danau ini dinobatkan danau terluas kedua di Sumatera Utara setelah Danau Toba dengan luas yang memcapai 4500 hektar. Danau ini terletak di 40 Km dari kota Padangsidimpuan. Rute yang saya jalani waktu berkunjung ke danau ini adalah dari Padangsidimpuan menuju ke arah Batangtoru dan masuk ke jalan perkebunan Hapesong kemudian menuju Desa Raniate. Selepas dari jalan aspal, jalan berubah menjadi jalan aspal rusak yang berbatu. Jalan seperti inilah yang akan kita tempuh sampai ke danau .Dengan menggunakan sepeda motor tentulah ini menjadi sulit. Terlebih motor yang saya gunakan tidaklah dirancang untuk medan offroad sepertti ini.

Danau Siais

Sekitar 5,5 jam berjalan sampailah saya di Danau Siais yang luas ini. Pemandangan lepas yang menyejukkan mata meyeruak. Air danau yang jernih nmpak hingga ke dasar danau. Dipinggiran danau dapat dijumpai bebapa bangunan milik Pemda dan beberapa milik warga yang berjualan di tepian danau. Ditengah danau terdapat keramba. Perahu kecil milik nelayan tampak beberapa buah sedang mencari ikan.

Menimati pemandangan di tepi Danau Siais

Sayang, danau seindah ini dan memdapat predikat danau terluas kedua di Sumatera Utara tidak di kelola dengan maksimal. Akses jalan yang buruk seharusnya di benahi guna melancarkan akses ke danau ini, sehingga banyak orang yang dapat mengunjungi danau ini. Bayangkan saja dengan jarak yang hanya 40 Km harus ditempuh dengan waktu tak kurang dari 5,5 jam karena jalan yang buruk berbatu dan terkadang membuar roda motor slip.

Luasnya Danau nomor dua di Sumatera Utara

Ketika hendak berjalan pulang saya menyempatkan diri singgah di Desa Raniate. Karena saya penasaran dengan cerita ikan keramat yang ada di desa ini. Di aliran sungai keccil tepat di belakang sebuah mesjid terdapat ribuan ekor ikan merah atau disebut juga ikan julung-julung. Ikan ini tidak boleh dimakan karena warga setempat percaya ini adalah ikan keramat dan bila dimakan akan menimbulkan bala.

Danau Marsabut

Ini adalah danau lainnya yang ada di Tapanuli Selatan, tepatnya di Sipirok. Simpang Bunga Bondar yang terletak di tengah kota Sipirok adalah jalan menuju Danau ini. Di awali dengan dengan jalan aspal sepda motor saya melaju menuju Desa Gadu atau disebut juga Luat Harangan. Dari simpang bunga bondar menuju Desa Gadu berjarak sekitar 15 Km. Dan jarak dari desa ini ke danau sekitar 10 Km denag jalan yang menanjak.

Danau Marsabut

Danau ini letaknya di atas gunung yang di beri nama Dolok Sipipisan. Sehingga danau ini memiliki keunikan tersendiri. Dimana kalau pagi hari di permukaan air danau ditutupi kabut putih. Dengan luas yang hanya sekitar 3000 Km2 atau 3 hektare danau ini punya kelebihan tersendiri. Disekeliling danau adalah merupakan hutan yang lebat. Tentu saja ini menambah keasrian danau. Danau ini cukup bersih di banding Danau Siais yang saya kunjungi sebelumnya. Tidak tampak sampah plastik bekas makanan di pinggiran danau. Ini menandakan, danau ini jarang dikunjungi orang. Hal ini dapat dibuktikan pula dengan jalan yang tertutup semak belukar dan aspal yang berlumut.

Jalan aspal menuju danau yang tertutup semak, sebagian ditumbuhi lumut

Tampaknya Danau Marsabut bernasib sama dengan Danau Siais. Sama-sama jelek jalan untuk menuju lokasinya. Di tepian danau hanya terdapat dua buah bangunan dan satu prasasti. Bangunana itu berupa pondokan dengan arsitektur adat batak, tapi hanya satu yang dapat digunakan karena pondok yang satu lagi sudah tertutup semak belukar. Prasati yang saya maksud adalah berupa tugu beton yang ditanda tangani oleh Mantan Presiden Soeharto pada 1993 silam.

Danau Marsabut yang nasih asri, belum tercemar oleh sampah

Tampaknya Pemda Kabupaten Tapanuli Selatan memang tidak perhatian atau bahkan tidak perduli dengan kekayaan alam yang dimilikinya.sungguh sangat disayangn.

well, sekian dulu kisah perjalanan terbaru yang dilakukan oleh Si Bocah Rimba. Hobi bermain di alam ini berlanjut ntah sampai kapan dan Si Bocah Rimba akan terus menuliskan kisah cerita perjalannya menikmati alam ciptaan Tuhan untuk berbagi cerita dengan sobat putualang.

penulis: Decky Chan