Agak telat memang saya menuliskan cerita perjalanan ini. Mohon pembaca maklum karena kesibukan saya. Kisah perjalanan ini adalah tentang penelusuran saya di Gua Aek Badak. Sebenarnya sudah lumayan lama saya mendapat info tentang keberadaan gua ini. Segera setelah saya diberitahu saya cari informasi tentang gua ini. Dari info yang saya dapatkan, gua ini berada di Desa Aek Badak, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan. Sesuai dengan misi saya mengexplore kekayaan alam Tapanuli Selatan untuk di angkat dan dipublikasikan ke khalayak umum saya putuskan mendatangi langsung gua ini. Berbekal info yang minim dari beberapa sumber akhirnya pada tanggal 17-18 Maret 2012 saya ditemani oleh empat orang teman saya berangkat menuju gua ini. Sebenarnya saya sempat menunda dua kali keberangkatan karena bermacam kesibukan saya lainnya.

Dari Kota Padangsidimpuan membutuhkan waktu satu jam perjalanan dengan angkutan umum. Sesampainya disana, sempat bingung karena saya tidak tahu posisi tepatnya gua ini berada. Pepatah yang berbunyi “malu bertanya, bakal jalan – jalan” terlintas di benak saya. Janagna sampai ini terjadi karena hari sudah mulai sore. Bertanya pada warga ternyata mapuh juga. Saya di beritahu petunjuk jalan yang cukup jelas oleh warga yang saya tanyai.

Sesuai dengan petunjuk warga tadi kami mulai melangkah maju. Memulai langkah dari persimpangan jalan di samping sebuah Masjid adalah langkah awal. Akses jalan menuju gua ini lumayan bagus. Terbuat dari semen beton lebar yang dapat di masuki mobil sejenis mini bus. Hingga sampai di persimpanag. Jalan hendak menuju gua adalah lurus, keluar dari jalan semen beton yang berbelok. Disini kita akan menemukan tanda panah yang mengarah menuju jalan ke gua tersebut. Disini jalan berupa jalan tanah kebun coklat disisi kita. Sebenarnya akses jalan kesini terbilang bagus dan kita akan terbantu dengan tanda panah yang di tuliskan dengan cat hitam dan putih disetiapa persimpangan jalan agar tidak salah jalan. Sekitar 45-60 menit saya berjalan kaki hingga sampailah di kebun langsat. Disisi kebun inilah gua ini berada tepatnya di bukit samping kebun langsat. Pukul 17:30 kami sampai disini.

Di dekat kebun ini agak ke bawah ada aliran anak sungai. Saya putuskan untuk bermalam disini. Tenda dome dipasang dan memasak makan untuk makan malam. Cuaca malam itu cukup cerah, diluar perkiraan saya mengingat hari – hari sebelumnya hujan selalu turun pada sore hingga malam hari. Seperti kebiasaan sebelumnya, dimalam hari didepan api unggun dan di temani kopi instan serta biskuit sebagai cemilan. Celoteh khas kami mulai keluar disusul gelak tawa memecah keheningan malam. Suasana beginilah yang selalu membuatku ingin kembali menikmati suasana kemping bersama sahabat petualang.

Pagi hari menjelang, bangun dari tidur dan segera menuju sungai guna bersihkan badan dan perlatan masak yang di paki tadi malam. Memasak sarapan dengan menu mie goreng dan secangkir energen cukup untuk kalori yang akan terpakai untuk menejelajahi Gua Aek Badak. Sebelum memulai masuk ke dalam gua saya menyiapkan obor bambu sebagai alata bantu penerangan selain Headlamp yang kami bawa.

This is time! Ya, inilah saatnya menelusuri Gua Aek Badak. Ini adalah pertama kalinya saya melakukan caving (telusur gua). Berbekal sedikit ilmu tentang caving yang saya pelajari dari buku dan internet saya bulatkan tekat. Di awali dengan medan menanjak menuju atas bukit tempat keberadaan gua ini. Disana ada dua buah gua yang letak masing – masing berjarak 50an meter. Obor dan Headlamp dinyalakan tak lupa menutup hidung dengan slayer karena bau dari kotoran kelelawar yang besarang disana. Gua pertama segera kami masuki, hawa dingin dan lembab seketika menyergap ketika mulai memasuki gua. Gelap dan pengap sudah pasti. Mata di manjakan oleh Stalagmit dan Stalagtit berwarna putih beragam bentuk. Ini adalah pemandangan langka yang tidak akan di jumpai selain didalam gua alami.Stalagtit adalah batu kapur yang tumbuh dari bagian atas goa menuju ke dasar goa, sedangkan stalagmit tumbuh menjulang dari dasar goa ke atas. Stalagtit dan stalagmit yang tumbuh di dalam goa umunya berwarna putih. Hal ini dikarenakan pengaruh atom Ca dalam CaCO3. Atom Ca yang tidak memiliki orbital d tidak memberikan warna yang khas / hanya putih saja.

Harusnya Stalagtit dan Stalagmit ga boleh disentuh lho…..!!

Senyawa CaCO3 membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjadi stalagtit dan stalagmit. Bila kita menyentuh stalagtit atau stalagmit dengan tangan kita sama saja kita menghancurkan karya indah itu. Why???

Tangan kita didominasi oleh zat asam, jadi ketika tangan kita menyentuh stalagtit atau stalagmit terjadi reaksi. Reaksi tersebut membebaskan ion kalsium, sehingga otomatically konsentrasi ion Ca 2+ dalam stalagtit maupun stalagmit berkurang. Dengan kata lain, kita bisa jadi penghambat pertumbuhan stalagtit maupun stalagmit sekalipun kita hanya menyentuhnya karena menyentuhnya berarti mengurangi kadar Ca 2+ dalam stalagtit atau stalagmit itu.

Kelelawar yang jumlahnya ratusan atau bahkan ribuan ekor menempel atas dan dinding gua. Banyak juga yang terbang kian kemari mungkin terusik dengan kedatangan kami ke habitat mereka. Tak seperti gua pada umumnya, gua ini hanya berupa sebuah ruangan besar agak turun dari permukaan tanah. Puas menikmati keindahan gua ini dan mengabadikan dalam bentuk foto dan video. Disalah satu sudut tampak seberkas cahaya menerobos masuk. Setelah di didekati ternyata ada celah sempit. Dari sanalah kami keluar, merangkak dan merayap ditanah becek karen sempitnya celah ini.

Mulut gua pertama yang menganga lebar

Stalagtit Gua Aek Badak

Gua Kedua

Sekitar 50 meter dari gua pertama ada gua lainnya. Kita sebut saja ini gua kedua karena saya tidak tahu pasti nama ke dua buah gua ini. Warga setempat yang saya tanyai juga tidak tahu nama gua ini. Meraka biasa menyebutnya dalam bahasa lokal ‘Guo aek badak’ untuk kedua gua ini. Nama yang sama dengan desa tempat gua ini berada.

Mulut gua Aek badak kedua

Gua kedua ini pintu masuknya sangat besar tinggi sekitar 10 meter dan lebar sekitar 30 meter. Kalau dulihat dari jauh tampak seprti mulut buaya yang sedang menganga dengan stalatit rucing sebagai giginya. Gua kedua ini sedikit berbeda dengan gua pertama tadi. perbedaan ittu berupa tinggi dan lebar gua yang sangat besar serta hanya satu pintu masuk dan keluar yang ada. Seperti gua pertama gua ini juga di huni oleh bermacam serangga dan kelelawar. Stalagtit dan Stalgmit berukuran besar dapat kita jumpai di gua kedua ini. dari kedua buah gua yang saya telusuri ini ternyata gua indah ini tak luput dari aksi ‘VANDALISME’ yang dilakukan oleh orang – orang bodoh yang tidak bertanggung jawab. Sadarlah kawan, tak ada gunanya kamu menuliskan nama jelekmu di tempat indah ini. Aksi ini cuma merusak.

Vandalisme yang terjadi di dalam Gua Aek badak kedua (jangan di tiru !!!)

Stalagtit yang tampak indah beraneka ragam bentuk

Menurut cerita warga dahulu gua ini memiliki lorong – lorong yang dapat di lalui manusia. Tapi karena proses alamiah atap gua yang runtuh telah menutup lorong – lorong tersebut hingga mustahil untuk di dilalui mengingat sangat sempitnya lorong yang masih terbuka. Barangkali ada saudara pembaca yang ahli di bidang caving saya mengajak untuk menggali guna membuka lorong yang tertutup tadi. Material runtuhan yang saya perhatikan berupa batuan cadas, batuan kapur dan tanah. Karena menurut cerita salah satu lorong tembus sampai kebalik air terjun Aek Sijorni (salah satu tempat wisata Tapanuli Selatan). sedangkan cerita sejarah yang berhasil saya himpun dari penuturan warag setempat. Dahulu pada waktu penumpasan  G 30 S/PKI gua ini menjdi tempat persembunyian warga pengikut G 30 S/PKI. Kemudian pihak keamanan yang mengetahui tempat persembunyian ini mengepung dan membawa sandara dari tempat lain ke gua ini. Setelah semua terkumpul mereka dibantai dengan berondongan senjata. tidak jelas peristiwa ini terjadi tahun berapa.

Bagi pembaca yang berminat ingin mengunjungi gua ini guna menikmati indanya Stalagtit dan Satlagmit beragam bentuk aneh dan ukuran yang bermacam, saya siap mengantar sampai ke tempat bila dibutuhkan. sekian dulu cerita perjalanan caving petama saya ini. Semoga dapat menambah wawasan dan menginspirasi anda semua.

Salam rimba dari Si Bocah Rimba.

Nb: Dibawah ini saya sajikan koleksi foto penelusuran Gua Aek Badak satu dan Dua

Penulis: Decky Chan