Berawal dari perkenalan dengan teman yang hobinya sama dengan saya yaitu berpetualangan di rimba belantara. Di awal perkenalan teman baru saya tersebut mengajak melalukan expedisi pencarian gua. Tentunya setelah dia memaparkan tentang gua tersebut. Segera saja saya mengumpulkan teman lainya untul expedisi ini hingga terkumpulah lima orang yang mau ikut serta. Singkat cerita terlumpullah lima orang yang menyatakan bersedia ikut serta.

Untuk sekedar informasi, Gua Liang Baja terletak di Desa marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Lebih tepatnya berada di kawasan Hutan Batang Toru Blok Barat (HBTBB). Menurut cerita yang kami himpun dari berbagai sumber, dahulu gua ini adalah tempat persembunyian warga setempat pada masa perang Padri. Kami juga mendengar di dalam gua tersebut masih terdapat barang kuno berupa perkakas rumah tangga. Dan juga menurut para tetua tidak jauh dari gua ini dahulu ada pemukiman warga (bekas perkampungan).  Hal inilah yang membuat saya sangat tertarik mencari tahu keberadaan guabersejarah  ini.

Ransel yang memuat perbekalan sebelum expedisi dimulai

Expedisi ini kami lalukan tepat september 2011 kemarin. Bermodalkan perlengkapan teknis dan logistik yang ala kadarnya serta tekat yang bulat dan juga sekelumit informasi akhirnya ekpedisi pun dimulai.

Keseluruhan anggota expedisi Gua Liang baja (Roma, Rizki, Decky, Roni, Zico)

Berjalan di awali dengan menapaki jalan berbatu yang dikanan kirinya terdapat kebun salak. Sekali waktu saya sempatkan mengambil beberapa buah salak untuk dimakan selama berjalan. Disusul kemudian dengan kebun pohon karet dan hamparan sawah milil penduduk. Sampailah kini di sebuah jembatan gantung yang panjangnya sekitar 100 meter yang membelah aliran sungai Batang Toru. Disana kami bertemu dengan dua orang yang ternyata baru pulang menjerat burung didalam hutan. Sempat bertanya tentang Gua Liang Baja ternyata dia hanya tau sedikit tentang gua itu.

Setelah menyeberangi jembatan kami menjumpai sebuah gubuk, tak jauh dari gubuk itu ada sebuah rumah milik orang nias. Memperhitunglan waktu yang sudah mulai gelap kami memutuskan bermalam digubuk tersebut. Sempat bertanya kepada orang nias pemilik rumah mengenai Gua Liang Baja tapi dia tidak tau apa-apa. Memang gua ini misterius, hanya sedikit orang tau tentang keberadaan gua ini. Termasuk penduduk Desa Marancar sendiri, banyak yang tidak tau letak persisnya gua ini.

                           Jembatan gantung yang mebelah sungai Batang Toru

Esok paginya setelah sarapan pagi dengan menu sederhana kami lanjutkan perjalanan. Menapaki tanjakan terjal dan licin yang warga sekitar menjulukinya “tanjakan marsimulak anjing”. Disebut demikan alasanya karna tanjakan ini sangat terjal,licin,panjang dan kemiringan yang wah. Ditanjakan ini tenaga sangat terkuras, kaki terasa berat untuk dilangkahkan ditambah ransel besar dipunggung yang beratnya 30-40 kg setia menempel dipunggung.

Seusai melewati tanjakan itu, jalan berikutnya tidaklah mudah. Masìh ada tanjakan dan turunan dan sekali waktu mendatar. Hingga kami melihat pondok, setelah didekati ternyat pemilik pondok ada disitu. Kesempatan untuk bertanya tidak disia-siakan. Ternya pemilik pondok tersebut yang bermarga Siregar permah beberapa kali ke gua tersebut beberapa tahun silam. Segera saja kami cecar dengan berbagai pertanyaan mengenai letak gua dan dicatat.

Perjalanan kembali dilanjutkan, dengan air minum yang menipis kami berusaha mencari sumber air berupa sungai kecil mengikuti penuturan Bapak Siregar tadi. Setelah sekian lama mengikuti jalan yang diberitahukan tadi terdengar gemericik suara air. Segera saja menuju arah suara tersebut dan menjumpai sungai kecil dengan air beningnya. Tepat tengah hari, disempatkan masak untuk makan siang ditepi sungai. Sambil menunggu makanan matang, segera saja saya nyebur ke sungai untuk menyegarkan badan. Lumayanlah untuk menghilangkan peluh dan bau.

Setelah semua itu, peralatan yang dikeluarkan kembali dimasukkan ke dalam ransel. Untuk melanjutkan perjalanan panjang yang menguras tenaga dan pikiran. Mengapa menguras pikiran? Ya, karena kami semua buta akan rute perjalanan, hanya berjalan menurut informasi yang kami dapatkan dari orang-orang yang dijumpai. Insting dituntut harus tajam menghadapi situasi begini. Berbagai macam informasi harus ditelaah karena campur aduk dan perbedaan informasi yang di dapat dari beberapa orang. Bepikir logis dan objektif menjadi sulit karena kondisi fisik yang mulai down.

Anggota tim expedisi yang sedang beristirahat

Yah, itulah kendala yang kami hadapi, tapi itu kami anggap tantangan. Hingga kami terus berjalan melewati rawa-rawa, naik ke atas bukit dan membelah rimba dan sekali-sekali nampak lahan yang dialih fungsikan menjadi kebun/ladang oleh warga. Matahari sudah mulai condong ke peraduannya menandakan sore hari telah menjelang. Hingga kami melihat pondok lagi disekitar lahan yang baru dibuka. Ditandai dengan pohon-pohon besar yang ditebang dan semak belukar yang menghitam bekas terbakar. Pondok itu tak berpenghuni. Dan ternyata jalan terputus hanya sampai disitu. Segera saja kami berkumpul menghadapi situasi ini. Dan dapat disimpulan perjalanan ini melenceng dari jalur yang semestinya. Dalam kata lain kami tersesat!.

Sedang berfoto di akar besar merambat yang melilit pohon, tampak seprti ular

Benar, kami dipaksa untuk menghadapi kondisi yang tidak diharapkan. Untuk menenangkan pikiran diputuskan untuk bermalam dipondok itu. Karena untuk kembali ke jalus semula sudah tidak memungkinkan lagi karena hari sudah mulai gelap. Dan malah berbahaya bila nekat karena pikiran tidaklah jernih dalam kondisi begini.

Malam itu kami merapatkan kondisi yang tidak menyenangkan ini. Perdebatan sempat terjadi hingga di ambil keputusan untuk kembali ke jalur awal. Setelah di cerna kesalahan kami ternyata salah belok, seharusnya kami berbelok di persimpangan jalan tapi kami malah lurus. Ini mengakibatkan kami tersesat semalaman.

Bangun pagi, masak dan makan pagi kemudian kembali berjalan mengikuti rute jalan kembali sesuai hasil keputusan tadi malam. Ada sekitar 2-3 jam kami menyusuri jalan berlawanan arah dengan jalan kemarin. Sampailah kini dipersimpangan yang dimaksud. Segera saja kami menyusuri pesimpangan itu. Tak berapa jauh ternyata kami mulai memasuki kawasan hutan. Pohon-pohon karet tidak nampak lagi. Hanya semak belukar dan pepohonan besar di sekitar jalan setapak. Kontur medan disini lumayan datar dan hanya tanjakan dan turunan landai yang dijumpai.

Lelah berjalan, sekali-kali istirahat hanya untuk memulihkan tenaga dan nafas yang memburu. Rokok menjadi teman dikala istirahat. Ternyata istirahat ini tidaklah nyaman, disaat sedang asyik duduk besandar dipohon pacet-pacet mendekat, bahkan beberapa ada yang sudah menempel dan menghisab darah. Api rokok pun disundutkan ke pacet agar melepas gigitannya. Disetiap perhentian istirahat pasti ada pacet yang nempel dikaki.

Hutan lebat disusuri hingga sampai di ujung jalan setapak. Disini langkah terhenti dan semua anggota expedisi berkumpul membuat keputusan. Keputusanya berjalan terus lurus ke depan membuka jalan baru. Kebetulan saya berada didepan, tugas saya membuka jalan. Parang ditangan di ayunkan kesana kemari menebas semak belukar.

Disini jalan mulai menurun, turunan ini sangat curam. Didepan saya masih berusaha membuka jalan diikuti oleh anggota expedisi lainnya. Samar-samar terdengar gemericik suara air. Dalam hati saya besorak riang karena kami menuju ke arah yang benar yaitu ke arah Aek sikut (sungai sikut). Menurut informasi, Gua Liang Baja berada di pinggir Aek Sikot ini, tepatnya di dinding tebing batu.

Begitulah seterusnya, berjalan menurun mengikuti arah suara air sungai. Terkadang saya jatuh tergelincir karena pijakan kaki ditanah yang labil. Suara air sungai semakin jelas terlihat dan dikejauhan dibawah sana terlihat kilauan air sungai yang berkilau terkena sinar mentari. Dan kini sampailah di sungai Aek Sikut, airnya jernih sehingga ikan yang berenang pun nampak jelas. Sungai ini berbatu dan pinggirannya berpasir. Ada yang unik dengan pasir disungai ini, ada butiran-butiran halus keemasan yang berkilau. Saya menduga ini adalah butiran emas limbah dari tambang emas yang terletak di kawasan ini.

Kami sampai disungai ini sekitar pukul 2 siang. Dsini kami sempatkan untuk mandi untuk menyegarkan badan dan mencuci sepatu yang sudah dibalut lumpur tebal. Ketika membuka sepati dibetis dan punggung kaki saya ada dua ekor pacet gendut sedang asyik menghisap darah. Tanpa pikir panjang disingkirkan. Darah segar mengalir keluar, cukup lama darah di punggung kaki saya berhenti. Mungkin karena cara melepaskan pacet yang disentakkan sehingga merobek kulit saya.

Setelah semua itu, ditetapkan untuk bermalam dan segera mendirikan tenda di pinggir sungai. Sebagian dari kami menyusuri sungai ke arah hulu mencaritahu kemungkinan Gua Liang Baja sudah dekat. Saya sendiri memutuskan untuk mendirikan tenda tanda mengumpulkan kayu bakar. Hari itu hujan mengguyur cukup deras. Membuat kayu bakar basah dan susah untuk dinyalakan. Berbekal pengalaman, kayu tersebut di kupas bagian luarnya hingga didapatkan bagian kering didalamnya. Menyalakan api juga dengan cara menyerut kayu hingga didapatkan hasil serutan tipis sebagai pemancing api agar gampang menyala.

Malam harinya, anggota expedisi ini sudah banyak yang kesehatannya mulai kelihatan down. Sakit dikepala, suhu badan panas dan kaki yang terkilir adalah hal yang diderita anggota expedisi. Di antara semua ada salah satu anggota expedisi yang kesehatannya agak parah. Gejala sakitnya mulai nampak sejak siang dan puncaknya pada malam hari. Ini wajar, karena ini adalah hari ke tiga kami dalam expedisi. Sepanjang expedisi, hujan mengguyur sejak hari pertama.

Pagi menjelang, patut disyukuri kondisi kesehatan yang kami drop tadi malam paginya sudah mulai sehat kembali setelah meminum obat yang kami bawa. Hari ini kami akan menyusuri aliran sungai Aek Sikut ke arah hulu. Akses jalan satu-satunya menuju Gua Liang baja adalah meyusuri sungai. Hujan yang mengguyur sudah membuat badan menggigil ditambah harus berbasah-basahan disungai. Berjalan melompat di antara batu dan kadang kala berenang melawan arus adalah jalan yang harus kami jalani. Berat memang, tapi inilah petualangan!

Menggigil kedinginan itu sudah pasti, kadang berenang melawan arus deras sampai tulang kering, lutut dan anggota badan lainnya terbentur batu. Di tepi sungai ada air terjun setinggi 10-15 meter terjun bebas dari puncak tebing jatuh ke sungai. Ini pertanda Gua Liang Baja sudah mulai dekat. Gua ini ada dua buah, Gua yang pertama terletak tidak jauh dari air terjun yang kami temui. Gua pertama ini hanya berupa lubang pada tebing batu. Dipenelusan selanjutnya kami menemukan lubang besar pada tebing yang tersembunyi di balik batu besar. Kami tidak menyangka bahwa inilah Gua pertama tersebut karena hanya berupa lubang besar, tidak sesuai dengan apa yang ada dipikiran kami tentang gua. Sehingga penemuan ini di anggap angin lalu dan terus melanjutkan perjalanan.

Sungai terus disusuri kehulu, kini sampailah di tempat yang airnya dalam diapit tebing batu vertikal dikedua sisinya. Tidak ada jalan lain kecuali harus berenang di air yang dalam dan berarus deras. Akar-akar pohon menjadi alat bantu untuk melawan derasnya arus agar kami tidak hanyut. Matras menjadi alat pelampung yang cukup efektif untuk menyelamatkan tas yang berisi handphone dan kamera agar tidak basah.

Sungai Aek Sikut yang airnya snagat bening

Begitulah seterusnya, berjalan menelusuri sungai dari pagi sampai sore hari tapi Gua Liang Baja tak juga kami jumpai. Setengah putus asa kami hentikan perjalanan dan mendirikan tenda. Sepanjang jalan baru ini kami istirahat karena memburu waktu. Tenda yang didirikan hanya berupa tenda biru karena tenda parasut yang kami dirikan kemarin dinggalkan di base camp kemarin malam berikut perlengkapan yang tidak terpakai dalam penelusuran sungai. Hanya barang-barang yang penting saja kami bawa. Tenda biru yang kami dirikan hanya menutupi sisi kanan dan kiri sedangkan sisi depan dan belakang terbuka dan disiasati ditutup dengan daun-daun untuk menghalau terpaan angin malam.

Sehabis makan malam dengan porsi yang sedikit karena logistik yang hanya cukup untuk dua kali makan. Sehingga harus dibagi dua untuk esok. Setelah itu ami mengadakan rapat untuk kelanjutan expedisi ini. Dengan pertimbangan kondisi fisik yang melemah dan logistik yang hanya cukup untuk satu kali makan lagi dan juga cuaca yang tidak mendukung. Debit air sungai juga meningkat karena hujan yang tiada henti sejak hari pertama sehingga tidak mungkin untuk melewatinya maka dengan terpaksa expedisi ini di akhiri. Semua anggota expedisi Gua Liang Baja yang berjumlah lima orang sepakat dengan keputusan ini. Untuk kondisi seperti ini, kami menganggap ini adalah keputusan bijak. Saya rasa bila orang lain dalam kondisi seperti yang kami alami juga akan mengambil keputusan sama yaitu menghentikan perjalanan.

Kisah tak menyenangkan tidak henti sampai disini. Diluar hujan deras masih mengguyur. Hal ini berdampak air mulai masuk dan membasahi kami. Didalam tenda air yang mengalir dari bukit dibelakang tenda memasuki tenda dan menggenangi matras. Tidak bisa istirahat dalam kondisi tergeletak. Ditengah malam terpaksa harus tidur dengan posisi duduk beradu punggung. Sungguh tidak nyaman, tapi itulah situasinya. Seakan tiada hentinya, hujan masih mengguyur sampai pagi. Pukul 6 pagi dengan kondisi badan kurang tidur dan dingin basah kuyup, tenda dibongkar dan berjalan pulang menyusuri sungai ke hilir melawan arah kemarin menuju base camp. Coba kalian dibayangkan, dengan kondisi badan kedinginan dan lapar yang harus ditahan dan terus bergerak ke hilir sungai yang debit airnya meningkat. Berenang, menyelam, melompat di antara bebatuan dan kadang kala hanyut terbawa derasnya arus adalah tantangan perjalanan ini.

Keadaan yang tidak menyenangkan, tidur dalam keadaan duduk dan basah kuyup

Hingga sampailah kami di base camp sekitar pulul 2 siang. Ini artinya kami berjalan menyusuri sungai tanpa henti 8 jam. Istirahat sejenak sambil memungut kaleng susu bekas kemarin dan menuangkan sisa-sisi susu ke tangan dicampur bubuk kopi kemudian dimakan. Inilah insting alamiah manusia, berusaha memakan apapun yang bisa dimakan dalam kondisi kelaparan. Buah-buah kecil sebesar melinjo yang rasanya manis yang didapatkan hanyut disungai dimakan. Kami menduga ini buah adalah buah yang dimakan Siamang. Bongkar tenda dan akhirnya melanjutkan perjalanan. Dengan perut yang lapar, berjalan terus keluar dari sungai dan menaiki bukit terjal yang kami turuni kemarin. Ya, berjalan pulang dengan perut kosong dan medan mendaki sangatlah berat. Berjalan mengikuti rute kemarin yang kami tandai dengan bacokan parang di batang pohon agar tidak tersesat.

Begitulah seterusnya berjalan dengan cepat dan memburu waktu hingga samapailah di tempat yang agbak datar. Disitulah kami berhenti dan masak untuk makan siang. Selesai makan dengan langkah cepat segera saja kami berjalan kembali karena mengbejar waktu yang sudah mulai sore. Berjalan tanpa istirahat hingga gelap menyelimuti belantara. Head lamp dengban sinar redup karena sudah 6 hari dipakai menjadi sumber cahaya satu-satunya. Hingga samapilah kami sekitaran pukul 9 malam di pondok dekat jembatan gantung tempat kami menginap di malam pertama. Maksud hati hendak bermalam disana ternyata disana sudah di pakai oleh orang yang ternyata orang dari proyek pembangunan PLTA di sungbai Batang Toru. Beristirahat sebentar sambil ngobrol dengan meraka lau kami lanjutkan menyebrangi jembatan gantung dan samapilah di sebuah pondok di tepi jalan, disanalah kami bermalam untuk besok paginya pulang. Karena pondok malam ini letaknya hanya 1 jam perjalanan sdari perumahan warga.

Ya, bgitulah kisah cerita perjalanan expedisi pencarian Gua Liang Baja yang kami lakukan September 2011 kemarin. Target waktu yang hanya 3 hari ternyata sampai 1 minggu yang menyebabkan logistik kami habis. Seminggu dalam belantara yang penh bahaya tidaklah suatu hal yang mudah. Disinilah fisik dan ental di uji habs-habisan oleh alam. Memaski daerah dekar perkampungan ketika saya menyalakan handphone banyak sms masuk yang isinya cemas dengan keadaan kami, dari teman-teman termasuk juga orang tua saya.  Bahkan ada teman yang di sms mengatakan akan melapor ke petugas terkait karena kami sudah melewati jadwal semula. Begitulah sederet cerita engkap yang saya tulis dalam blog pribadi saya yang sederhana ini. Semoga kawan-kawan dapat mengambil hiqmah dan pelajaran dari tulisan ini. Terima kasih atas waktu yang dilunagkan utuk membaca tulisan yang cukup panajang ini.

Penulis: Decky Chandrawan