Inilah kisahku bersama teman beberapa tahun silam. Sebuah misi ambisius ingin menaklukan gunung lubuk raya tanpa pengalaman apapun dalam hal naik gunung. Mungkin inilah ciri anak muda, tanpa persiapan berarti nekat naik gunung. jujur saja ini adalah pertama kalinya saya naik gunung, dari gunung inilah saya menemukan hobi terpendam saya hingga berkelanjutan sampai sekarang.

lubuk+raya+2.jpg

Lubuk raya adalah sebuah gunung yang ada di wilayah perbatasan tapanuli selatan dan kota padangsimpuan sumatra utara.Gunung ini memiliki ketinggian 1825 Mdpl. Gunung ini terlihat paling tinngi kalau dilihat dari kota padangsidimpuan yang puncaknya selalau diselimuti kabut.Lubuk raya masuk kedalam hutan batang toru yang baru baru ini disahkan oleh menhut sebagai hutan lindung. Sekedar informasi gunung ini belum terjamah oeh manusia. Bahkan pendaki profesional pun belum pernah ada yang mendaki gunung ini. Hal inilah yang membuat kami ingin mendaki gunung ini. Pendakian ke Gn.lubuk raya dimulai pada 29 desember 2007.Berangkat dari P.sidimpuan pkl 3 sore menggunakan angkutan umum.Angkutan umum disana sangat mewah bayangkan dengan mobil minibus dapat memuat 20 orang penumpang dengan barang beru salak di tambah ransel kami yang memuat perbekalan selama pendakian.Jalan yang dilalui naik menuju desa lembah lubuk raya.Desa ini terletak dikaki gunung lubuk raya.Sepanjang perjalanan setelah melewati jalan lintas yang besar mobil yang kami tumpangi masuk kesebuah jalan kecil yg disusul kemudian dengan tanjakan yang dikiri dan kanan merupakan kebun salak milik penduduk.Memang penduduk di kaki gunung ini rata-rata berkebun salak.

Tak terasa melihat pemandangan sambil ngobrol dengan teman di mobil yang kami tumpangi berhenti.ternya kami telah sampai dikaki gunung lubuk raya sekitar jam 4 sore.Setelah semua barang kami turunkan saya dan andri langsung meminta izin kepada kepala desa untuk pendakian.sekaligus bertanya mengenai gunung tersebut.Dikantor kepala desa kami sempat berbincang dengan kepala desa.Dia juga menceritakan dulu waktu masih muda pernah pernah mendaki kelubuk raya tapi terhenti karena tidak bisa melewati jurang.Memang gunung ini tidak ada jalur untuk mendaki karena tidak ada kelompok pecinta alam dikota p.sidimpuan.Sehingga dapat dibayangkan jalan yang akan kami lewati.Setelah izin kami dapa kepala desa juga berpesan jangan mengganggu apalagi merusak kebun salak milik penduduk juga mengatakan jangan takabur.Maksudnya jangan merasa sok hebat.

Setelah berpamitan kami langsung menuju teman lainnya pada kumpul.Sebelum berangkat kami memeriksa perbekalan dan ternyata ada yang kurang yaitu rokok.jadi teman saya nasir namanya membeli beberapa bungkus rokok lagi siap berangkat kami berdoa dulu agar selamat dari bahaya.Ransel sudah dipunggung pendakian dimulai melewati track yg mendaki melewati jalan setapak dikebun salak. Mereka pada ngambilin salak untuk dimakan sambil jalan.Jalan mendaki terus sampi kami kami melihat ada pondok yg lumayan besar.Melihat hari yang sudah mulai gelap maka diputuskan untuk bermalam disitu.Bahan makanan dikuluarkan.masak memasak pun dimulai.Menu makan malam hari itu indomie campur teri sambal.Cukup nikmat dimakan mengingat udara dingin.Selesai makan kami membahas rute perjalana besok.setelah itu tidur semua untuk menghemat tenaga mengingat besok perjalanan masih panjang.

Dihutan+LBR.jpg

Esoknya setelah sarapan indomie dan segelas kopi perjalan dilanjutkan.Jalan menanjak dan licin masih setia menemani.Kira jam 11 siang kami telah sampai di batas antar kebun dan hutan lindung yg dipagari kawat berduri.Pemandangan yang sangat kontas disatu sisi kebun salak dan disisi lain hutan yg lebat.Kami sempat bingung mencari mencari jalan.jadi diputuskan untuk membuat jalur sendiri.orang yang didepan menebas ranting agar kami bisa lewat.begitu seterusnya sampai kami tiba disebuah lembah.Dari lembah tersebut kemudian menaiki bukit yang lebat sekali oleh pohon-pohon besar dansemak belukar.cahaya matahari pun agak redup sehingga tanah lembab.Terus berjalan dengan sisa tenaga sampai dipuncak bukit tapi rupanya tetap tidak ada jalan.kami lanjutkan dengan menuruni bukit dr sisi lainya untuk mencari sumber air mengingat kami belum makan.Nasib baik karena dilembah yg kami turuna.tepatnya diantara dua bukit ada aliran mata air kecil.setelah didekati ternya air itu berbau belerang jadi tidak jadi diminum.Karena putus asa kami menyusuri lembah itu dan akhirnya mata.Disana ada sebuah gubuk kecil yang sudah mau rubuh kami pun sempat beristirahat disana.sebatang rokok dan biskuit menemani istirahat saya.

Digunung.jpg

Tak berlama lama lagi perjalan dilanjutkan sampai kami berempat melihat pemandangn yg tak biasa dilihat.Dari puncak bukit tampak longsoran tanah dan pohon besar berdiameter 3 m roboh melintang disana sini.Longsoran itu kami perkirakan masih baru terlihat tanah yang masih merah serta daun2 pohon tumbang yang masih segar.Waktu telah menunjukan jam 6 sore.sedangkan kami masih berjalan di longsoran tersebut bermasud untuk bermalam di dekat sungai.Tapi karena jalan yg susah dilalui jadi lambat dan hari sudah mulai gelap.Waktu itu jalan sempat terputs karena ternya untuk mencapai sungai dihalangi jurang yang yang merupakan dinding batu vertikal setinggi 20 meter.Karena tujuan kami adalah bermalam didekat sungai maka kami harus menuruni jurang itu.Menggunakan tali pandu yg dikapis sampai entah berapa lapis dan disambung agar sampai ke bawah dan diikatkan di pohon yang ada dipinggir tebing itu.Pertama yg turun Andri yang disusul kemudian dengan ransel yang kami yg diikat kemudian diturunkan satu persatu.Disusul nasir.kemudian arjuna.Pada saat inilah yang paling gawat.karena pegangan tangannya yg kurang kuat dia terjatuh dari ketinggian 20 meter dengan dasarnya batuan sungai.Saya yang masih sendirian diatas melihat kebawah dengan cahaya headlamp dan meneriaki namanya takut terjdi yg tidak-tidak.Tapi Allah masih menjaga kami semua dari mara bahaya.Dari situ saya sadar bahwa manusia sangatlah lemah berada dialam.Dan sekarang giliran saya alhamdulillah berjalan lancar walaupun tangan agak sakit memegang tali pandu.

deckylewatitanahlongsor

Malam harinya kami hanya makan kentang rebus dan indomie yang dimakan mentah.Malam itu kami tidur diatas batu besar yang datar ditengah sungai karena tak ada lagi tempat yg bisa kami gunakan untuk tidur.Sebelum tidur teman saya Nasir membaca Al qur’an yg dibawanya.Kami berdoa agar diberi keselamatan. tidur pun merasa was-was karena takut bila tiba ada air bandan atau longsoran menerjang kami dan terbawa hanyut keair terjun yg ada di bawah kami dan itu baru kami ketahui keesokan paginya.Sambil tidur2an saya sesekali menatap bintang.Itu saya lakukan karena saya berpedoman kalu bintang masih ada berarti hujan tidak akan turun dan kami bisa selamat.Tak berapa lama kami semua tertidur pulas sampai pagi.Bangun tidur dalam hati saya sempat besyukur kepada Tuhan yg telah mejaga kami dari marabahaya.

Besok paginya bangun dan ternyata dibamah kami adalah air terjun yang cukup dalam dan itu baru kami ketahui setelah pagi hari karena tadi malam kami tidak melihatnya.Setelah sarapan kami lanjutkan dengan berjalam menyusuri lembah dan sampaiilah dibukit yang banyak ditumbuhi rotan berduri yang memperlambat langkah karena durinya yang menyankut dibacu dan menggores tubuh.Selain itu lintah juga banyak sekali.Bayangkan jika kami isthrah tuk sekedar minum saja lintah sudah merayap mendekat kearah kami dari dedaunan semak.Sehingga kami harus menyinkirkannya satu persatu.Perjalanan dilanjutkan sampai kami menemukan sebuah gubuk yang kelihatan masih baru.Gubuk ini nampaknya dibuat oleh orang yang akan membuka lahan baru.hal ini terlihat dari banyak pohon besar yang ditebang.Tak berapa jauh dari situ kami bertemu dengan 3 orang yang sedang mencari kayu bakar.Sempat bertanya kemereka ternyata kami sekarang ada didesa marancar yaitu desa disebelah barat Gn.lubuk raya.Berarti kami berjalan dari timur ke barat melalui hutan rimba.Perjalanan terus dilanjutkan dan sampailah disebuah perkebunan salak dan akhirnya kami melihat sungaig.Hal itu membuat kami ingin mandi karena sudah 5 hari tidak mandi. Bau badab pun sudah tidak karuan lagi aromanya. Ohhh..sungguh segar mandi di air yang jernih dan dingin.

Pohon+tua+di+Hutan+LBR.jpg

Selesai mandi dilanjutkan perjalanan sampai kami memasuki sebuah desa.Orang didesa memandang kami terus.mungkin heran melihat kami berjalan dengan ransel besar dan kotor.dan dengan raut muka yang lusuh.Dan sampailah kami dipinggir jalan lintas sidimpuan-sibolga.Kami menunggu angkutan umum yang akan membawa kami pulang sambil menghirup sebatang rokok yang saya beli diwarung.Dalam hati saya berkata sungguh petualangan yang tak akan terlupakan sampai kapanpun.Saya sendiri sempat berfikir tak menyangka kami dapat mendaki gunung yang belum pernah didaki leh pendaki dan pulang dengan selamat. Tak terbayangkan, gunung yang setiap pagi kulilhat sudah ku daki walau tak sampai ke puncak. Ingin rasanya dilain waktu mendaki sampai ke puncak.

Terim kasih Tuhan telah membimbing kami,terima kasih teman atas kekompakanya,terima kasih alam atas suguhan pemandangan yang cantik.

Penulis: Decky Chan