Salam hangat buat sobat petualang. Semoga kalian semua dalam keadaan sehat. Si Borim mau berbagi cerita lagi nih. Cerita kali ini masih tentang petualangan bahari dan masih mengekspose pulau-pulau indah nan eksotis di perariran Tapanuli Tengah. Entah knp saya jadi sangat cinta dengan pulau, mungkin alasannya karena pulau itu indah dan berwarna. Keindahannya tak kalah indah debgan pemandangan dari puncak gunung.

Ok, pulau-pulau yang saya jelajahi kali ini merupakan kepulauan di gugus Mursala. Terletak di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Pulau-pulau itu adalah Pulau Kalimantung, Pulau Talam, Pulau Silobu-Lobu, Pulau Putri dan Air terjun Mursala. Kalau di perhatikan trip kali ini seperti menyusuri lokasi syuting pembuatan Film Mursala yang rilis 18 April 2013 lalu.

Semua persiapan dan peralatan telah siap. Kami membuat titik kumpul di Tugu Salak Kota Padangsidimpuan menuju Sibolga jam 4 sore. Dan mulai bergerak meninggalkan Padangsidimpuan jam 5 sore menggunakan mobil L300 sewaan di bawah guyuran hujan. Ya, karena huan itulah perjalanan agak melambat di tambah dengan kemacetan lalu lintas di beberapa titik. Biasanya jarak tempuh Padangsidimpuan-Sibolga 2 jam. Tapi kali ini molor hingga setengah jam. Tak apalah, yang penting selamat.

kalimantungSesaat setelah tiba di Pantai Kahona


Setiba di Sibolga kami disambut oleh Bang Fahmi sang kapten kapal dan Bang Opick sang ABK kapal. Juga oleh 2 orang rekan kami yang berangkat sehari sebelumnya. Malam itu kami “gelar lapak” alias buka tenda di Pantai kahona bermalam disana menunggu pagi. Pantai kahona sendiri terletak di belakang pangkalan perahu Nemo Grup yang salah satu perahuny akan membawa kami ke pulau-pulau yang menjadi target kunjungan trip ini. Malam di lewatkan dengan makan malam dan bersantai di depan api unggun pinggir pantai. Untuk hiburan pasti ada senda gurau antar kami yang menceriakan suasana. Dan tentu saja alaunan lagu yang di iringi gitar dan jimbe mini. Lelah dengan itu semua masuk ke tenda dan tidur, ada juga yang tidak tidur seperti saya dan beberapa orang lain.

The day is come, Tour de Pulau starting up !
Pagi telah tiba, kulihat langit cerah, lautan pun tampak tenang. Yeah….ini adalah hari yang sempurna untuk berpetualangan bahari. Pagi itu tenda di bongkar, packing dan cuma sarapan energen dan roti saja.Cukup lah untuk mengisi energi setengah hari. Perahu Nemo Grup dengan nama lambung Percula 08 telah bersiap di pinggir pantai Kahona tentu saja dengan nahkoda Bang Fahmi serta 2 ABK. Bang Fahmi ini adalah senior lho di antara nahkida kapal disini, jadi dia cukup di segani. Beliau pernah bercerita bahwa dia jadi pelaut sejak umur 14 tahun selepas lulus SMP. Satu yang membuat saya begitu salut dengan.beliau yaitu kemampuannya yang bisa menprediksi cuaca sangat akurat hanya dengan melihat tanda-tanda alam. Misanya awan, warna mathari dan sudut matahari saat terbut dan terbenam. Dulunya dia adalah penyelam. Bukan penyelam Scuba lho, melainkan penyelam dengan menggunakan udara kompresor. Itul ho mesin bertabung udara (biasanya warna orange) yang biasa di bengkel tambal ban. Kedalam 20-30 meter biasa bagi dia.

Sosoknya yang bersahaja, pengalaman yang luar biasa dan senioritas di antara nahkoda lainnya membuat saya dan teman-teman lainya selalu memakai perahu bang Fahmi ini. Orangnya baik, gak ngatur-ngatur. Kita semua di bebasin mu ngapin aja. Sesekali beliau mengingatkan kita kalau saja yang kita lakuin itu bahaya. Untuk apresiasi beliau kami berikan beliay dan ABK lainnya beberapa bungkus rokok dan beberapa botol enegy drink biar mereka semangat.

Perahu melaju dengan kecepatan penuh, kali ini menggunakan 3 buah mesin tempel agar waktu tempuh semakin singkat. Gelombang laut saat ini begitu tenang. Seolah alam memberikan restunya pada kami. Dan beberapa jam kemudian sampailah kami di Pulau Putri. Disini kami hanya berhenti sejenak sekitar 15 menit. Diantara kami ada yang berfoto dan juga langsung nyebur ke laut, swimming dan snorkeling.

Menuju Pulau Kalimantung

Selang beberapa waktu Bang Fahmi mengajak naik ke kapal untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Kalimantung yang memang menjadi tagret utama. Perahu di pacu membelah lautan, di sisi kanan nampak pulau Mursala sedangkan di kiri banyak gugusan kepulauan dan gosong yang terlihat.

Sekitar 2 jam kemudian perahu mulai melambat. Ternyata kami sudah memasuki perairan pulau Kalimantung. Airnya sangat dangkal hanya selutut orang dewasa. Air yang jernih memperlihatkan terumbu karang. Perahu terpaksa harus lego jangkar agak ke tengah agar tidak kandas ke karang yang dangkal. Selanjutnua kami harus berjalan menuju pantai di air laut bening setinggi lutut. Perahu kembali ketengah lautan untuk mancing ikan, sedangkan kami turun semua menikmati ke indahan Pulau Kalimantung denganp bermacam aktivitas.

Pulau KalimantungTerumbu karang dangkal tampak bila hendak menuju Pulau Kalimantung

Di sana ada onggokan batu karang yang membatasi laut lepas samudra Hindia dengan laguna Pulau Kalimantung. Beberapa di antara kami bergerak menuju batu tersebut termasuk saya. Sampai disana langsung naik ke puncaknya. Namun.harus hati-hati di karenakan batuan disana tajam. Dari puncak batu tersebut hanya kata “wow” yang pertama kali terucap. Bayangkan, dari atas memandang ke bawah disisi laguna. Terumbu karang jelas terlihat, bahkan ikan yang berenang pun dapat di amati dengan jelas karena air sangat jernih. Sedangkan di sisi belakang hanya tampak lautan lepas Samudra Hindia dengan ombak besar yang menghempas batu tempat kami bediri. Inilah penampakan batu tersebut. Bagi kawan-kawan yang berkenjung ke pulau ini, saya wajibkan harus coba naiki batu ini untuk mendapatkan pengalaman pandagan mata yang beda.

 579330_677006262329044_13ghgh7120546_nPanorama Pulau Kaliumantung

Pulau KalimantungOnggokan Batu Karang Di Pulau kalimantung yang memisahkan laguna dan laut lepas

Tak tahan lagi rasanya hasrat ini ingin menceburkan diri ke dalam air. Maka sejurus kemudian saya menuruni batu tesebut perlahan dan langsung ‘nyemplung’ ke laut. Alangkah jernih dan segarnya air di sini. Satu hal yang menarik adalah di antara 2 buah onggokan batu karang besar yang kami naiki tadi ada sebuah lorong selebar 1 meter. Lorong/celah tersebut menghubungkan lautan lepas yang berombak besar dengan laguna yang tenang. Satu teman saya berenang melewati lorong itu dan langsung teriak sekita setelah beberapa saat muncul dari dalam air. Teriakan dia itu berucap ketakjuban melihat pemadangan bawah laut. Dimana ia melihat ikan-ikan besar beranekan ragam bentuk dan warna. Saya yang mendengar ucapannya langsung bergerak menuju kesana. Namun ketika saya hendak melewati lorong tersebut arus air yang kuat menarik saya dengan tiba-tiba. Panik itu sudah pasti karena jebetulan saat itu saya tak pakai pelampung. Akhirnya setelah mengumpulkan nyali dan usaha saya berhasil melewati lorong tersebut. Segera saya pasag masker dan snorkel. Wow…amazing!!! Benat kata teman saya tadi, di dasar laut yag berarus kuat tersebut banyak saya lihat ikan-ikan besar yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Ikan dengan bentuk aneh yang mulutnya mirip paruh burung kakaktua. Saya menduga ikan ini adalah jenis ikan parrot fish.

Pulau KalimantungThe All Team Tour de Pulau

Pulau KalimantungThe All Team Tour de Pulau

Semua hal tersebut adalah keindahan di pulau kalimantung. Yang tadinya saya mengira pulau Kalimantung itu hanya indah pemandangan pada permukaan laut dan pantainya. Dugaan awal itu terbantahkan setelah saya lihat sendiri keindahan dari sisi lain tersebut. Jadi wajar bila pulau ini menjadi salah satu tempat pengambilan sebuah film berjudul Mursala yang rilis beberapa waktu lalu.

Menuju Pulau Talam

Usai puas menikmati pesona.Pulau Kalimantung, kami semua kembali naik ke perahu. 3 buah mesin perahu menderu menyibak lautan. Tujuan kami saat ini adalah Pulau Talam. Pulau talam.ini hanya berjarak sekitar 20-30 menit dari Pulau Kalimantung. Pulau yang tidak begitu besar, yang disatu sisinya adalah sebuah teluk membuat pulau ini tak berombak. Lautan biru yang tenang kembali kami lihat disini.

Berhubung saat itu adalah jam makan siang, sedangkan perut sudah terasa lapar karena pagi tadi kami hanya sarapan Energen dan makanan ringan. Akhirnya kami putuskan makan siang di pulau ini. Hanya nasi bungkus dengan lauk sederhana yang menjadi santapan siang ini. Lumayanlah buat pengisi perut lapar. Tak afdol rasanya habid makan kalau tidak ngopi sambil ngerokok. Makanya kami panaskan air tawar dari galon air mineral yang kami bawa untuk menyeduh kopi.

Pulau KalimantungPulau Talam

Makan sudah, ngopi sudah, ngerokok juga sudah. Hmmm…sekarang waktunya nyebur ke laut lagi. Segera saja saya pakai peralatan lengkap snorkeling. Misinya mau hunting spot terumbu karang terbaik. Di mulai dari bibir pantai pasir menyapu sampau kesisi samping pulau saya belum menemukan spot terbaik terumbu karang. Tak mau berlama-lama saya ambil kesimpulan. Bahwa Pulau Talam bukan spot bagi dunia bawah air, melainkan hanya bagus pada pantainya yang melandai. Buat pembaca sekalian yang hendak ke pulau ini semoga saja info yang saya kemukakan di atas dapat menjadi referensi.

Menuju Pulau Silabu-Labu

Waktu pada saat itu menunjukan sekitar pukul 3 sore sewaktu kapal kami bergerak meninggalkan Pulau Talam menuju Pulau Silabu-Labu. Ya…saat ini giliran pulau Silabu-Labu yang menjadi sasaran kunjungan kami. Dari pulau Talam bergerak ke arah laguna/teluk untuk ke Silabu-labu. Dari kejauhan tampak disana ada rumah-rumah di pinggiran laut. Silabu-Labu merupakan perkampungan kecil yang dihuni oleh suku Nias. Kurang dari 20 menit kami tiba di Pulau Silabu-Labu. Disana ada sebuah dermaga kayu, dimana di bawah dermaga banyak karang yag bentuknya bercabang dengan ukuran kecil. Air yang jernih jelas memperlihatkan itu semua.

kalimantung

Tujuan awal kami kesini adalah mencari kemungkinan tempat mendirikan tenda guna bermalan. Namun kenyataanya, disini tidak ada tempat strategis buat camping. Yahh…beginilah resiko kalau sebuah perjalanan sambil hunting lokasi. Tapi ada juga sisi baiknya, dengan hunting begini kaki jadi tahu lokasi-lokasi dan tempat bagus apabila suatu saat kembali lagi ke sini. Paling tidak kaki sudah pernah menapak di pulau yang informasinya nyaris tidak ada di internet, kalaupun ada gambar itu hanya penampakan citra satelit. Satu lagi info buat buat pembaca blog ini. Oia..disini ada sebuah warung milik penduduk yang menjual makanan ringan dan kebutuhan lain. Bila kita memerlukan makanan ringan tambahan bisa mampir disini. Soal harga sedikit lebih mahal, maklum lah namanya juga di pulau yang jauh dari kota terdekat. Ini terbukti ketika saya beli 2 bungkus rokok, tedapat selisih harga 3 ribu rupiah lebih mahal dari harga normal.

Singkat cerita, setelah di rembukan soal lokasi kemah. Karena di Silabu-Labu ini tidak ada tempat bagus untuk berkemah. Pilihan yang ada hanya kembali ke Pulau Puteri. Mengingat besok juga rencananya kami akan ke air terjun Mursala. Maka pilihan untuk bermalam di Pulau Puteri sangat cocok. Kenapa? Karena untuk menuku Air Terjun Mursala lebih dekat bila dari Pulau Puteri. Bagi saya pribadi walau sudah beberapa kali mengunjungi Pulau Puteri tidak masalah. Karena pesona keindahan Pulau ini tak membosankan. Selalu ada saja kerinduan untuk kembali.

Menuju Pulau Putri

Mesin perahu menderu lagi, tancap gas langsung ke Pulau Puteri. Dari Silabu-Labu berjarak hanya sekitar 1 jam. Di saat-saat akhir menjelang tiba di Pulau Puteri air laut sudah agak bergejolak. Bang Fahmi sang kapten kapal mengingatkan akan ada badai sore ini. Ucapan beliau terbukti nyata!!! Baru sekitar 10 menit kami tiba di Pulau Puteri angin mulai terasa berhembus semakin kuat. Di ikuti oleh hujan dan deburan ombak di bibir pantai. Air hujan jatuhnya tak seperti biasanya. Yang saya perhatikan air hujan jatuh dengan arah hexagonal/serong. Itu pertanda angin yang sangat kencang sedang berhembus. Sebuah tenda dome yang sudah di pasang terpaksa di bongkar lagi karena takut frame/tiang tenda patah karena tidak.kuat menahan hembusan angin. Sedangkan pelepah pohon kelapa saja bengkok, apalagi frame tenda. Fenoma alam itu terjadi hanya 1 jam. Menjelang maghrib, cuaca perlahan kembali normal. Patut disyukuri sih mengalami fenomena itu. Karena dengan begitu bisa merasakan sendiri dahsyatnya badai. Satu lagi pengalaman baru aku dapat.

Pulau PutriPanorama Pulau Putri

Malam di Pulau Puteri ya seperti biasanya. Masak untuk makan malam, bakar ikan hasil pancingan, bakar jagung. Duduk di pinggir pantai, bercengkrama di temani kopi dan rokok. Bercanda, ketawa, malah kadang ada yang agak merajuk mewarnai suasana malam di Pulau Puteri. Semilir angin berhemus sepoi malam itu. Berbagai kesibukan tampak di antara kami. Ada yang duduk ngobrol, ada yang istirahat di dalam tenda dan adapula yang jalan-jalan di pibggiran pantai mencari umang-umang ataupun kepiting kecil.

Snorkeling pulau puteriSnorkeling di Pulau Putri

Baru pada pagi harinya aktivitas sesunggunya terlihat. Sarapan pun belum, langsung nyebur ke laut. Kami harus memasimalkan waktu yang terbatas. Karena masih tersisa satu tempat lagi yang harus kami kunjungi untuk menuntaskan Tour de Pulau yang targetnya mengunjungi 5 buah pulau dalam waktu 2 hari. Mumpung masih di pulau Puteri yang terkenal dengan keindahan pantai pasir putih dan keindahan dunia bawah lautnya. Snorkeling, itu satu hal yang tak boleh di lewatkan bila berkunjung ke Pulau Puteri. Dunia bawah laut yang menawan dengan beragam makhluk hidup. Ikan-ikan cantik, terumbu karang aneka ragam bentuk menjadi sajian pada mata yang haus akan keindahan alam.

Pulau PutriHamparan Terumbu Karang Pulau Putri

Pulau PutriDive with Snorkeling gear, Underwater Sea

Namu di balik semua keindahan yang saya kemukakan tadi, Pulau Puteri menyimpan bahaya tersendiri bagi orang yang tidak waspada. Bahaya apa itu??? Bulu Babi !!!. Ya…di dalam dasar laut dimana spot snorkeling berada, banyak Bulu Babi dengan ukuran besar bergerombol di celah terumbu karang. Banyak teman-teman saya yang jadu koraban, mungkin karena ketidak waspadaan dan kurang hati-hati. Efeknya bila tertusuk duri-duri pada bulu babi biasanya mengakibatkan deman dan infeksi bila tidak dapat pertolongan medis. Duri pada bulu babi itu terbuat dari bahan serupa kapur yang rapuh. Jadi bila tertusuk sulit di kelurakan sekalipun menggunakan jarum. Duri tersebut akan hancur dan akan menginfeksi luka yang pada akhirnya menyebabkan deman. Namun ada kepercayaan, untuk mengobati itu sangat mudah. Yaitu dengan cara di kencingi. Ntahlah cara itu berhasil atau tidak. Bagi pembaca yang belum tahu bentuk Bulu Babi, ini ada gambarnya hasil bidikan kamera underwater di bawah laut Pulau Puteri.

Bulu babi pulau puteri

Bulu Babi Pulau Puteri

Menuju Air Terjun Mursala

Puas dengan Pulau Puteri seusai sarapan kami packing membereskan peralatan untuk di muat ke dalam kapal. Satu persatu kami mulai menaiki kapal. Tujuannya adalah air Terjun Mursala. Perjalanan menuju Mursala lumayan jauh, 2 jam waktu tempuh laut dengan menggunakan 3 buah mesin tempel. Waktu yang cukup lama ini saya gunakan untuk tidur. Karena mata ini terasa berat dan badan terasa lelah karena kurang tidur tadi malam. Lumayanlah curi-curi waktu buat istirahat, walau harus mengorbankan pemandangan selama perjalanan.

Singkat cerita, 2 jam kemudian kami sampai di Air Terjun Mursala. Air terjun yang airnya langsung jatuh ke laut dari ketinggian 35 meter. Di dunia, diketahui hanya beberapa air terjun yang langsung jatuh ke laut. Sementara di Indonesia sendiri menurut yang saya ketahui ada 3 buah air terjun yang airnya langsung jatuh ke laut. Bangga rasanya bisa mengunjungi satu di antaranya.

Air Terjun MursalaLihatlah ombak besar di sekitar Air Terjun Mursala

Namun sayang, ketika kami tiba disini. Laut tidak bersahabat. Ombak besar bergejolak menghempar ke batu cadas Mursala. Butuh usaha extra berenang di tengah ombak yang mengganas untuk tiba tepat di bawah curahan air terjun. Sesampainya di disana pun harus waspada, takut kalau ombak menghempaskan tubuh kamu ke batu cadas tebing Mursala. Dengan pertimbangan bahaya bila tetap bertahan disitu, saya dan teman-teman lainnya berenang menjauh dari sana. Sementara teman lainnya tetap ngeyel bertahan disana menghadapi bahaya di depan mata. Untuk kembali ke kapal pun susahnya bukan main, harus melawan ombak. Yah..walaupun laut disana kurang bersahabat kami berhasil mengabadikan momen di Air Terjun Mursala.

Air Terjun MursalaAir Terjun Mursala

Kami bertahan disana sekitaran satu jam du tengah ombak dan arus laut yang semakin mengganas. Bahkan satu teman saya sampai muntah karena perut mual du atas kapal yang terguncang karena ombak. Tidak apa-apalah, yang penting rasa penasaran kawan-kawan saya terbayarkan terhadap Air Terjun Mursala. Tidak lagi hanya melihat foto dan video yang banyak beredar. Kini dapat melihat langsung. Bagi saya, ini adalah kali ke tiga saya ke Air Terjun Mursala.

Yeaahhhh….Selesai juga akhirnya Tour de Pulau. 5 buah pulau yang kami targerkan berhasil di capai. Masing-masing pulau dengan keunikan dan daya tarik yang berbeda. Lega rasanya bila suatu angan telah tercapau nyata. Pulau Kalimantung & pulau Talam, 2 pulau ini mulanya saya dengar dari cerita nelayan. Saya coba cari infonya di internet juga tidak ada info detail. Dan kini….kedua buah pulau itu sudah berhasik saya kunjungi dan saya abadikan fotonya. Sudah kewajiban bagi saya mempublikasikan keindahan alam ini ke khalayak umum. Dan betapa beruntungnya kalian yang yang menemukan blog ini dan saat ini sedang membaca tulisan pada blog kesayangan saya ini bisa dapat banyak info pulau-pulau di Tapanuli Tengah. Kebanyakan pulau-pulau yang ada di Kab. Tapauli Tengah belum terekspose ke publik. Pulau-pulau cantik itu masih diam bersembunyi, menunggu para petualang datang dan mempromosikannya. Dan saya telah berbuat untuk itu.

Dari Air Terjun Mursala kami putar arah dan kembali pulang kearaha Sibolga. 2 jam kemudian perahu tiba di pangkalan Perahu Nemo Group. Tiba di sini sekitar pukul 2 siang. Istiraht disana, ada yang mandi atau sekedar minum dan makan di warung nasi. Kami merencanakan pulang ke kota asal kami yaitu kota tercinta Padangsidempuan jam 4 sore. Karena jarak Sibolga-Padangsidepuan 2 jam jalan darat, maka pas bila sampai Padangsidempuan jam 6 sore. Travel L300 mengantar kami sampai kota kami. Dan usailah petualangan kali ini di tandai dengan bubar kembali ke rumah masing-masing.

Alhamdulillah, dari data yang saya dapat dari Disbudpar Kab. Tapnuli Tengah ada 31 buah pulau. 9 pulau di antaranya sudah berhasil saya kunjungi. Sisanya Insyaallah di waktu mendatang. Dari 9 buah pulau itu tidak semua saya tuliskan dalam blog ini. Hanya pulau-pulau yang saya anggap menarik sesuai kriteria saya saja yang saya publikasikan. Sisanya biarlah saya simpan dalam memori otak saya.

Well…akhirnya sampai juga di penghujung tulisan. Postingan.kali ini cukup panjang. Bahkan saya sendiri bituh waktu lama untu menyelesailan dan mempublikasikan kepada pembaca sekalian. Ok, akhir kata saya ucapkan terima kasih banyak buat kalian yang telah meluangkan waktu membaca coretan-coretan kisah petualanagn saya. Semoga saja tulisan ini dapat menjadi media informasi dan referensi untuk perjalanan petualangan kalian. Dan bila mau beryanya jawab, kotak.komentar di bawah selalu terbuka untuk semua pembaca.
Salam Petualangan !

Penulis: Decky Chandrawan

About these ads