Ya’ahowu!
Begitulah sapaan khas di Pulau Nias. Kalau di Tanah Batak kita berkata ”horas” maka di Nias di kenal sapaan “ya’ahowu”. Pulau seluas 5.625 km² ini memiliki pemandangan alam yang sangat indah. Wisata bahari tentu saja menjadi yang utama dengan Pantai Sorake dan Lagundri Bay yang terkenal ke penjuru dunia dengan spot surfing (selacar) berkelas internasional.

-Berangkat
Rabu 12 Desember 2012 saya bersama 3 orang teman saya yang bernama Rahman, Majid dan Toni berangkat dari kota Padangsidimpuan menuju Kota Sibolga. 2 jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor hingga sampai di Pelabuhan Sibolga. Jadwal awal berangkat pukul 4 sore molor hingga pukul 5:30. Sehingga ini membuat kami harus memacu sepeda motor sekencang-kencangnya agar tidak ketinggalan kapal. Kapal menurut jadwal berangkat setiap hari senin- sabtu (hari minggu tidak ada kapal berangkat) pukul 8 malam menuju Pelabuhan Gunung Sitoli.]

77056_421888941218268_1121790728_n

                                                                                             Sesaat menjelang keberangkatan
Sekitar jam 8 kami semua sudah tiba di Pelabuhan Sibolga. Masalah tiket kami sudah booking melalui abang seorang teman yang tinggal di Sibolga.
Berikut rincian biaya tiket kapal Sibolga-Gunung Sitoli:
Orang: Rp. 80.ooo
Sepeda Motor: Rp. 120.000

KMP. Belanak, sebuah kapal Ferry perintis tampak di dermaga pelabuhan sedang memuat penumpang dan truk barang yang akan menyeberang ke Pulau Nias.

KMP. BelanakKMP. Belanak, kapal membawa kami menyeberang samudra hindia menuju Pulau Nias

Kami mulai menaiki kapal sekitar pukul 20.30 menunggu semua truk barang masuk ke kapal. Setelah sepeda motor masuk ke kapal kami naiki tangga menuju lantai 2 kapal dimana sudah banyak orang di sana.

Tampak deretan bagian depan kursi yang terisi penuh dan deretan belakang bed tempat tidur 2 tingkat. Di bed tidur inilah kami tidur. Sengaj kami memilih bed class yang sedikit lebih mahal bila dibandingkan dengan kursi class. Ini demi kenyamanan karena besok kami akan melskukan perjalanan panjang sesampainya di Pulau Nias.

281317_421883281218834_223312666_nSuasana di dalam KMP. Belanak yang penuh sesak

Saya membayangkan ini bukan di atas kapal, justru mirip barak pengungsian. Pengap, panas dan ribut oleh suara orang-orang dan tangisan bayi. Bahkan ada yang duduk dan tidur di selasar kapal. Dan ketika saya bosan dengan suasana kabin penumpang saya beranjak pergi ke naik ke lantai 3 tepatnya di buritan kapal. Disini justru lebih parah, penumpang banyak yang tidur di lantai beralaskan koran. Ditambah dengan hilir mudiknya para penjual asongan yang menjual rokok, nasi bungkus dan makanan ringan.

Lama berada di atas kapal ternyata kapal belum beranjak dari pelabuhan. Saya coba melihat ke lantai dasar ternyata aktivitas bongkar muat belum selesai. Dan baru pukul 22:30 malam kapal mulai start engine dan bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan.

Kapal berlayar meninggalkan Pelabuhan Sibolga menuju Pelabuhan Gunung Sitoli membelah Samudra Hindia menuju Pulau Nias. Ukuran kapal yang besar membuat goyangan karena ombak tak terasa.

481538_421884057885423_2024282832_nSejauh mata memandang dari buritan kapal, hanya nampak lautan luas

Lepas itu semua saya dan kawan-kawan beristirahat di dalam kapal, mondar mandir di dalam kapal dan akhirnya tertidur pulas. Pagi harinya bangun, sarapan roti selai dan beranjak menuju buritan kapal. Oh….ternyata Pulau Nias samar mulai terlihat. Banyak penumpang kapal lain yang juga melihat moment dimana kapal mulai merapat ke Pulau Nias.

-Tiba Di Pulau Nias

Kini kapal sudah merapat di Pelabuhan Gunung Sitoli. Perlahan sepeda motor keluar dari dalam kapal bergantian dengan truck barang. Hemmm…akhirnya kaki ini mengunjakan kaki untuk pertama kalinya di Pulau Nias. Dari sini kami hendak langsung menuju Kota Gunung Sitoli membeli beberapan perlengkapan yang belum ada. Namun apa yang terjadi??? Baru berjalan beberapa meter meninggalkan Pelabuhan sepeda motor saya di hentikan oleh polisi di Pos Polisi pelabuhan. Wahh…syok terapi nih, masih pagi harus “sarapan” surat tilang. Duit 80 ribu melayang begitu saja hasil negosiasi setengah jam dengan petugas pos polisi pelabuhan. Kesalahan saya adalah karena Plat nomor polisi saya tidak asli. Ini mungkin bisa dijadikan.pelajaran buat temen-temen yang mau bepergian jarak jauh memakai sepeda motor.

Urusan dengan polisi selesai, kami lanjutkan menuju Kota Gunung Sitoli. Maksud hati mau beli spirtus untuk kompor, ternyata setelah sekian banyak toko bangunan di datangi tidak ada yang jual. Pilihan terakhir adalah Apotik! ya…karema spirtus susah di cari akhirnya alternatif bahan bakar di ganti dengan Alkohol. Dan karena harga alkohol kadar 90/100% tidak ada, jadinya alkohol 70% yang dibeli seharga 25 ribu/ 1000ml untuk bahan bakar kompor “Tragisnya” karya sendiri ( kompor dari kaleng minuman bekas di padu dengan tungku kompor parafin).

CIMG1482Kompor Tragisnya, Not Trangia

Tempat pertama yang menjadi tujual kami adalah Kecamatan Gomo. kecamatan Gomo adalah salah satu kecamatan ysng termasuk wilayah dari kabupaten nias selatan, gomo menurut sejarah orang nias adalah tempat pertama kalinya nenek moyang orang nias bermukim yaitu di Desa Sifalago gomo lebih dikenal dengan sebutan “BORONADU BOROTA NIHA”,boronadu merupakan Desa yang tertua di kabupaten Nias selatan. Untuk mencapai desa ini, lagi-lagi kami hanya bermodalkan tanya-tanya sama penduduk sekitar. Banyak orang-orang yang memperingatkan aku dan Juju untuk tidak pergi ke desa ini. Diyakini oleh beberapa orang, penduduk Desa Gomo masih menganut budaya kanibalisme yang sebenarnya sudah dihapuskan dari lama. Jangankan wisatawan, penduduk Nias saja jarang sekali mengunjungi desa ini karena takut. Dari hasil surfing di internet, saya mendapatkan info bahwa di Gomo masih tersimpan beberapa batu megalith besar yang bertebaran di halaman rumah. hal inilah yang membuat kami nekat masuk kepedalaman dimana kami buta akan akan medan sama sekali.

CIMG1387Istirahat saat menuju Gomo

Untuk menuju desa ini medan perjalanan sangatlah sulit. Dimana kita harus melalui jalanan berbatu yang banyak tanjakan dan turunan extrim. Badan jalan yang awalnya cukup lebar perlahan mulai menyempit berupa jalan setapak. Barulah kami sadari ternyata kami sekarang sedang berada di pedalaman Nias. Tergambar jelas dari kampung-kampu.g yang kami lalui masih terlihat rumah adat dengan atap rumbia. Disini belum ada aliran listrik dan banyak penduduknya yang tidak bisa bahasa Indonesia. Ini beberapa kali kami jumpai ketika hendak bertanya arah jalan. Jalanan yang rusak tentu menghambat perjalanan. Beberaapa kali sepeda motor kami harus menyeberangi sungai di karenakan tidak adanya jembatan. Beberapa titik di tengah jalan dipasangi portal menutup jalan. Ternyata masyarakat setempat yang memasang dan bagi yang lewat seperti kami harus membayar sejumlah uang. Tentu saja kami cari aman, tidak mau berrdebat mengingat kami berada di kampung orang dan juga dipedalaman nias pula.

Setelah melalui itu semua kami sampai di Desa Lahusa, kami sempat berhenti di karena melihat sebiah komplex pemakaman yang banyak ornamen patung. Semula kami mengira inilah komleks batu megalitikum tersebut. Ternyata bukan. Saat kami berhenti disana kami dihampiri oleh sejumlah pemuda, mereka meminta uang dan barang-barang kepada kami. Wahh…pemerasan ini namanya. Dengan sejurus kami berkilah dan langsung memacu sepeda motor. Untung mereka tidak mengejar kami. Maklumlah desa ini adalah desa dipedalaman yang minim fasilitas. Bisa dikatakan desa tertinggal bila tidak maudikatakan desa primitif. Dimana penduduknya jarang dapat berbahasa Indonesia, bahkan aliran listrik dari PLN belum menyentuh desa ini.

Turun sedikit akhirnya kami sampai di simpang menuju kompleks batu megalitikum. Ketika hendak berbelok ke simpang tersebut kami di hentikan oleh pria paruh baya mengendarai sepeda motor Jupiter MX warna merah dengan tas hitam disandangnya. Beliau bertanya tujuan kami. Kira-kira begini percakapan kami.

“Bapak:  Mau kemana kalian?
Kami:    Mau ke Gomo pak, lihat batu megalitikum itu.
Bapak:  Mari saya antar, itu dibelakang rumah saya.
Kami:    Iya pak.
Bapak:  Kalian menginap saja dirumah saya. Ini sudah sore.
Kami:   Tidak usah pak, kami hanya sebentar. Mau lanjutkan perjalanan ke Teluk Dalam.”

Dengan refleks bapak tersebut memutar arah sepeda motor searah dengan kami. Dan menyuruh kami mengikutinya. Teman saya Toni di ajak berboncengan dengan bapak tersebut. Kami melaju menaiki jalanan setapak dengan tanjakan yang terjal dan panjang. Bapak berada di depan berboncengan dengan Toni, disusul oleh saya serta Rajman dam Majid di belakang. Di penghujung tanjakan sepeda motor bapak terjatuh beguling bersama Toni. Saya yang persis berada dibelakang mereka menabrak mereka dan terjatuh di sisi kanan jalan.

149733_421884737885355_2023065790_nTanjakan terjal gila, menuju komleks batu megalitikum

Beberapa saat kemudian kami sampai di rumah bapak tersebut. Kami dipaksa untuk menginap. Awalnya kami takut dan berusaha menolak tawaran tersebut. Tapi karena bapak terus memaksa akhirnya kami iyakan juga. Tentunya setelah kami rembukan. Alasan kami berusaha menolak untuk tidur di sini adalah:
1. Kami sadar berada di pedalman Nias.
2. Ajakan bapak tersebut yang terkesan memaksa, Sehingga kami takut ada maksud lain di balik itu semua.

3. Kami teringat cerita bahwa saat ini marak tindakan kriminal di Nias.

4. Sifat orang Nias yang tertutup pada orang pendatang.

Itu semua menjadi pertimbangan kami sebelum memutuskan bermalam dirumsh ini. Akhirnya kami iyakan juga. Kami memasak makanan dan makan sementara bapak itu pergi. Sekembalinya dia mengajsk kami makan. Dia menawarkan makan ubi dan babi. Tentu saja saya kaget mendengar ajakan tersebut. Kami menolak dengan alasan kami baru saja makan.

Masih terngiang di benak saya ucapan Bapak tersebut “ada ubi, ubi kita maka. ada babi, babi kita maka”. Haha…tedengar lucu beliau mengucapkan kalimat itu dengan logat Nias. Belakangan saya ketahui bahwa ubi adalah makanan pokok mereka.

Oia….sebelum gelap kami sempatkan untuk melihat dan mendokumentasikan kompleks batu megalitikum yang menjdi tujuan kami datang ke tempat terpencil ini.

meja batu gomoMeja Batu megalitikum, salah satu peninggalan sejarah

16215_421886107885218_2069400219_nBatu Tiga leher

Malamnya kami di ceritakan sejarah tentang batu tersebut oleh bapak yang akhirnya saya ketahui bernama Pak Magustav Sabanua. Dikisahkan bahwa batu tersebut adalah perlambang kebangsawanan jaman dulu. Dikisahkan pula dahulu, bila ada raja yang meninggal. Untuk menguburkannya harus dengan syarat 6 buah kepala manusia. Hemm..bulu kuduk langsung merinding mendengar cerita itu. Terlintas di pikiran kami berempat akan menjadi korban upacara adat mereka. Kepala di penggal dan tidak ada yang tau posisi kami. Dan ketika saya bertanya apakah ritual tersebut masih berlaku sampai sekarang?

Jawaban yang mengejutkan saya dengar. “Iya, sampai sekarang ritual tersebut masih dilakukan. Kami berempat hanya betatap mata. Perasan jadi tidak enak.

Kemudian Pak Magustav mengajak beli Tuak Suling (Minuman beralkohol dari hasil penyulingan sari pati aren/kelapa). Itu syarat agar beliau mau melanjutkan cerita. Wahh..makin aneh aja nih gelagat Pak Magustav. Jangan-jangan kami dumabukan dan akhirnya dikorbankan untuk ritual adat.

CIMG1448Tuak Suling

Malam terus berlalu, Pak Magustav masih semangat bercerita sedangkan kami terkantuk-kantuk. Akhirnya Toni, Majid dan Rahman disuruh tidur oleh Pak Magustav. Sedangkan saya sendiri tidak, saya di ajak mengobrol hingga jam 3 pagi. 2 kamar disediakan untuk kami. Sesaat setelah masuk kamar saya langsung mengunci pintu dan memeriksa kunci jendela. Saya kunci rapat semua. Maklum, saya takut bila yang kami khawatirkan terjadi. Menjadi korban ritual adat. Haha :D

Pagi sekitar pukul 6, kami semua sudah bangun. Segera packing dan berpamitan dari rumah Pak Magustav. Sarapan yang beliau tawarkan pun kami tolak mentah-mentah. Otak dan hati ini berseru ingin rasanya cepat-cepat pergi dari rumah dan Desa “angker” ini.

-Menuju Pantai Sorake dan Pantai Lagundri

Sekitar pukul 7 pagi kami mulai bergerak meninggalkan Desa Lahusa dengan terlebih dahulu berpamitan kepada Pak Magustav dan isterinya. Sepeda motor dipacu menuju arah teluk dalam. Tujuan kami adalah Pantai Sorake dan Pantai Lagundri. Jalanan yang jelek berupa bebatuan masih setia menemani, juga sungai pun harus diseberangi.

Terhitung sudah 4 buah sungai tanpa jembatan kami seberangi. Kami juga melewati pasar rakyat, ada pemandangan tak biasa di mata saya. Ada beberapa buah lapak pedagang menjual daging babi, tanpak jelas itu daging babi karena kepala babi turut dipajang. Pemandangan yang tak lazim di jumpai dikota asal saya.

598578_421884307885398_1886280468_nTak ada jembatan, sungai pun diseberangi

Habis itu semua kami mulai melalui jalanan yang lumayan lebar namun masih berbatu. Setelah sekian lama kami baru menjumpai jalanan aspal mulus. Merdeka !!! Akhirnya sepeda kami terbebas dari jalanan hancur dan sekarang dapat memacu sepeda motor hingga kecepatan 80 km/jam.

Di sepanjang jalan menuju teluk dalam disisi kiri terhampar lautan biru luas membentang. Sungguh indah ini semua. Di suatu tempat kami berhenti di tepi jalan. Tempat itu bernama Genasi. Tempat dimana kita dapat memandang luasnya laut biru sejauh mata memandang dari ketinggian. Sehingga sayang melewatkan spot indah ini tanpa di abadikan dalam foto.

27923_421887111218451_1191909106_nGenasi,,tempat ini bisa dilewati dalam perjalanan dari gunung sitoli ke teluk dalam atau sbaliknya..kalo cuaca lg bagus, warna lautnya juga makin bagus

Kemudian kami lajut lagi menuju kota Teluk Dalam. Sepajang jalan kami dihidangkan pemandangan laut nan indah disisi kiri. Wow…tak terasa lelah mengendarai sepeda motor bila ditemani pemandangan indah seperti ini.430809_421887087885120_1232685125_n

Beberapa lama kemudian sampai juga di Kota Teluk Dalam, kami tidak singgah di kota ini. Hanya beberapa kali berhenti bertanya arah ke Pantai Sorake kepada orang. Setelah petunjuk jalan kami rasa jelas sepeda motor pin di gas poll langsung menuju Pantai Sorake. Sekitar 1 jam dari kota Teluk Dalam kami tiba di Sorake.

61451_421880104552485_1018274028_nBerjalan menyusuri pantai Lagundri

375437_421887644551731_1993509052_nIndahnya lekukan pantai lagundri yang berada di teluk

Pantai Sorake menjadi tempat yang pertama dikunjungi pada hari ini. Namun apa lacur? Bayangan awal pantai Sorake dalam benak kami adalah pantai putih dengan ombak besar dan banyak “bule-bule” berbikini di pantai. Namun kenyataan berkata lain. Pantai Sorake hanya pantai batu karang dengan ombak yang tinggi dan tidak banyak bule. Hanya beberapa orang bule yang tampak sedang bermain selancar dan duduk di pantai.

222197_421888591218303_864623379_nTarzan beach boy

68875_421879944552501_273563897_nCari objek foto

Dari info masyarakat setempat, memang bulan ini tidak banyak turis asing. Pada saat Summer Time saja banyak turis asing disini. Yaitu antara bulan mei sampai juli. Dimana kontes Surfing internasional digelar tiap tahun. Garis ombak ombak panjang setiggi 10 meter tentu saja menjadi daya pikat penggila selancar dari penjuru dunia.

3856_421876461219516_1112474654_n (1)Bergaya ala peselancar profesional

403767_421876067886222_1240866022_nMau main selancar di laut gak bisa berdiri, mending dipasir aja gak bakalan jatuh. haha

Karena kami ke pantai hendak camping. Pantai Sorake terasa tidak cocok karena pantai yang berbatu karang tanpa pasir. Akhirnya kami pindah menuju pantai Lagundri berjarak sekitar 1 Km dari Sorake.Tiba di lagundri langsung permisi pada pemilik warung untuk mendirikan tenda di pantai.

68620_421887614551734_1110005997_nOur Camp

Yah..disinah kami akan bermalam sampai esok siang. Sengaja kami camping disini agar puas main di pantai indah ini. Dari mulai menyewa papan salancar seharga 30 ribu. Jalan-jalan di pantai. Duduk melihat aksi selancar orang-orang yang sudah pro dan beraktivitas lainnya menikmati undahnya pantai. Di sore hari dikala matahari hendak terbenam, sunset indah kami abadikan dalam bentuk foto.

60030_421877174552778_993752442_nSunset di Lagundri bay

Malam tiba kami hanga duduk di depan tenda dengan kursi yang di pinjemin oleh pemilik warung. Cahaya pi unggun, nyanyian di iringi gitarmembuat syasana malam itu begitu menenangkan.

-Lompat Batu, Desa Bawu Mataluo

Esok siangnya kami packing dan segera bergerak menuju Desa Bawu Mataluo. Desa Bawu Mataluo adalah lokasi dimana Lompat Batu Nias yang terkenal ke seantero jagad. Berjarak sekitar 45 menit dari Pantai Lagundri.576287_421882354552260_1635615215_n

Sesampainya disana kami di tawari atraksi lompat batu dengan imbalan biaya 150 ribu untuk 3 kali lompatan. Namun karena kami adalah Backpacker “ngepas” maka kami tidak menerima tawaran tersebut. Jadilah kami hanya berjalan-jalan di temani oleh satu orang pemandu wisata yang menceritakan sejarah. Bawu Mataluo adalah sebuah Desa Adat berupa kompleks perumahan tradisional dengan rumah penduduk yang arsitekturnya sama. Ada satu rumah yang beda, terlihat besar itu adalah rumah raja. Dan yang menempati rumah tersebut adalah generasi kelima dari raja. 548703_421882807885548_71121668_nDi depan rumah raja

Di desa ini kita akan di buat sedikit tak nyaman oleh anak- anak yang berjualan souvenir yang berebut menawarkan barang jualannya mengikuti kemanapun kita pergi. Desa Bawu Mataluo yang artinya Matahari Terbit terletak di atas sebuah bukit. Dari sini Pantai Sorake dan Lagundri terlihat jelas berupa teluk dengan garis pantai melengkung membentuk huruf U.

Hal pertama yang saya cari sesampainya di desa ini adalah Lompat Batu, yang ternyata terletak di depan rumah raja. Kesempatan untuk mengabdikan dalam bentuk foto tak boleh di lewatkan. Karena ini adalah bukti bahwa saya sudah sampai ke Pulau Nias dan melihat langsung tugu lompat batu.

10403_421882671218895_237285791_nInilah Lompat batu yang terkenal ke penjuru dunia itu

Pemandu kemudian mengajak kami berkeliling kompleks desa adat, kemudian ke sebuah rumah yang pemiliknya adalah pengrajin souvenir. Dan lagi-lagi, karenaketerbatasan budget alias backpacker kere kami tak membeli satupun souvenir. Padahal dalam hati ini sangat ingin membeli Patung berbentuk Lompat Batu Nias untuk di pajang di kamarku.

526028_421889144551581_597972393_nSouvenir, kerajinan tangan warga Desa Bawu Mataluo

Sekitar 1 jam kami berkeliling, akhirnya kami menyudahi tour singkat ini untuk melanjutkan kembali perjalanan. Pemandu yang membawa kami berkeliling  kami beri imbalan suka rela sebesar 20 ribu. Kemudian membayar parkir sepeda motor 5 ribu rupiah.

2012-12-15 16.13.02Desa ada Bawu Mataluo

Horee !!! akhirnya saya bisa melihat Lompat Batu Nias secara langsung, tidak seperti waktu anak-anak dulu. hanya dapat Lompat batu dari gambar yang ada di uang seribuan. Next !, kami menuju kota teluk dalam. Di kota teluk dalam kami hanya berkeliling sebentar dan langsung menuju pelabuhan. Kami memang berencana untuk pulang lewat Teluk Dalam. Mencoba suasana baru, sebab bila kami harus kembali ke Pelabuhan Gunung Sitoli terlalu jauh.

-Pulang

Sesampainya di pelabuhan Teluk Dalam, langsung disajikan kondisi pelabuhan yang mengenaskan. Beda jauh dengan dengan Pelabuhan Gunung Sitoli yang fasilitasnya bagus. banyak gedung yang tidak terawat. Untuk mebeli tiket tidak melalui loket, melainkan langsung di beli didalam kapal. Yang tadinya kami berangggapan tiket kapal via Teluk Dalam lebih mahal, karena logikanya jarak Teluk dsalam ke Sibolga lebih jauh.

Berikut rincian biaya tiket kapal Teluk Dalam-Sibolga:

Orang: Rp. 60.ooo
Sepeda Motor: Rp. 110.000

Usai beli tiket kami kembali ke Kota Teluk Dalam mengingat kami belum makan siang sementara hari sudah mulai sore. Menurut jadwal kapal berangkat pukul 8 malam. Aagak susah kami mencari rumah makan muslim disini, dan akhirnya ketemu rumah makan minang. Sembari makan, kami berbincang tentang sesuatu yang janggal dan belum lengkap dalam perjalanan ini, yaitu kenang-kenagan. Mengingat duit yang terbatas, kami hanya mampu membeli baju kaos bergambar Lompat Batu. Lumayanlah buat kenang-kenangan.

Kemudian kami menuju pelabuhan dan memasuki kapal menuju lantai 2. Hal yang berbeda kami jumpai di kapal ini. Bila sewaktu berangkat kapal penuh sesak mirip barak pengungsian. Pada perjalanan pulang ini hal yang kontas terjadi. Dimana kapal lengang, deretan kursi dan tempat tidur banyak yang kosong. Sungguh nyaman perjalanan pulang menggunakan kapal KMP. Raja Enggano ini. Fasilitas lengkap dan bersih membuat perjalanan ini nyaman. Penumpang hanya di dominasi oleh sopir-sopir truck barang yang hendak menyeberang. Trooott….Trooott….Trooott…. suara klakson kapal berbunyi 3 kali, menandakan kapal akan meninggalkan pelabuhan. Palka kapal di tutup kemudian kapal mulai beranjak meninggalkan Pelabuhan Teluk Dalam pukul 9 malam. Berjaalan membelah lautan luas dimana hanya nampak kegelapan malam sejauh mata memandang. Dan akhirnya esok paginya kapal kami sudah merapat di Pelabuhan Sibolga.

Hemm…lega rasanya telah berhasil mencapai angan. Satu lagi kisah petualangan baru telah kulewati. Memang enak hidup bila terus berpetualang. Terasa indah menjalani kehidupan ini berkelanan ke tempat-tempat baru, menemuai hal-hal baru. Petualangan berikutnya telah menunggu di depan mata, maka saya harus berkata “saatnya nabung lagi!!!” haha :D

Demikan kisah petualangan Si Bocah Rimba menjelajahi Pulau Nias yang eksotis, semoga kisah ini menjadi inspirasi buat kawan-kawan semua. Salam Petualangan !!! Ya’ahowu !

3859_421884511218711_1992929214_n

196162_421883057885523_1096569724_n

28777_421881237885705_753932587_n

483570_421882467885582_529002585_n

Penulis: Decky Chan

CP: 083190340345