Beranda

Siais – Marsabut, Dua Danau indah di Tapanuli Selatan yang kurang dapat perhatian

4 Komentar


Alam Tapanuli Selatan tidak ada habis-habisnya menampilkan keindahannya. Kekayaan alam di daerah ini memang sangat berlimpah. Seperti yang saya buktikan dengan perjalanan saya mengunjungi dua buah objek alam menarik baru-baru ini. Objek yang berhasil saya capai kali ini adalah berupa danau yang elok nan cantik. Lagi

INDONESIAN SEVEN SUMMITS EXPEDITION MAHITALA UNPAR, MAHITALA UNPAR SUKSES MELENGKAPI PENDAKIAN 7 PUNCAK DUNIA

Tinggalkan Komentar


Perjuangan Bangsa Indonesia dalam mencapai atap-atap tinggi di dunia akhirnya membuahkan hasil yang amat membanggakan. Lewat empat pendakinya yang tergabung dalam kelompok pencinta alam Mahitala Unpar, Sofyan Arief Fesa (28), Xaverius Frans (24), Broery Andrew Sihombing (22), dan Janatan Ginting (22) akhirnya berhasil menapaki puncak tertinggi di Benua Amerika Utara yaitu Denali (6.194 meter di atas permukaan laut). Lagi

Peluncuran logo “THREE SUMMIT NORTH SUMATERA”

Tinggalkan Komentar


Salam lestari !
Berhubung misi untuk menggapai tiga puncak tertinggi di Sumatera Utara hanya beberapa bulan lagi. Hari ini tanggal 25 April 2012 kami meluncurkan logo “Three Summit North Sumatera” pertanda misi akan segera di mulai. Ini adalah misi ambisius seorang bocah rimba yang ingin menggapai tiga puncak tertinggi di Sumatera Utara. Di bawah ini adalah logo yang akan menjadi simbol “Three Summit North Sumatera”. Lagi

Arung Jeram Sungai Batang Toru

Tinggalkan Komentar


Arung jeram atau bahasa kerennya rafting adalah olah raga arung sungai yang memicu adrenalin. Sebagaimana di tempat – tempat lain jenis petualangan arung sungai ini menjadi tren, di Tapanuli Selatan juga perlahan menjadi alternatif baru petualanag arung sungai. Dengan sungai batang toru selebar 30 meter dan memiliki arus deras serta jeram–jeram yang kadang kala memabalikan perahu. Lagi

Bertemu cacing raksasa ketika turun gunung

1 Komentar


Untuk mengisi jeda di antara artikel yang saya buat, kali ini saya akan memposting tulisan ringan. Beberapa waktu lalu ketika saya turun dari Gunung Lubuk Raya saya menemukan “cacing aneh”. Gunung Lubuk raya berada di dalam kawasan hutan batang toru. Hutan Batang Toru sendiri berada di dua kabupaten dan satu kota administasi. yaitu Kabupaten Tapanuli Selatan, kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Lagi

Menelusuri Gua Aek Badak yang menakjubkan

8 Komentar


Agak telat memang saya menuliskan cerita perjalanan ini. Mohon pembaca maklum karena kesibukan saya. Kisah perjalanan ini adalah tentang penelusuran saya di Gua Aek Badak. Sebenarnya sudah lumayan lama saya mendapat info tentang keberadaan gua ini. Segera setelah saya diberitahu saya cari informasi tentang gua ini. Dari info yang saya dapatkan, gua ini berada di Desa Aek Badak, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan. Sesuai dengan misi saya mengexplore kekayaan alam Tapanuli Selatan untuk di angkat dan dipublikasikan ke khalayak umum saya putuskan mendatangi langsung gua ini. Berbekal info yang minim dari beberapa sumber akhirnya pada tanggal 17-18 Maret 2012 saya ditemani oleh empat orang teman saya berangkat menuju gua ini. Sebenarnya saya sempat menunda dua kali keberangkatan karena bermacam kesibukan saya lainnya.

Dari Kota Padangsidimpuan membutuhkan waktu satu jam perjalanan dengan angkutan umum. Sesampainya disana, sempat bingung karena saya tidak tahu posisi tepatnya gua ini berada. Pepatah yang berbunyi “malu bertanya, bakal jalan – jalan” terlintas di benak saya. Janagna sampai ini terjadi karena hari sudah mulai sore. Bertanya pada warga ternyata mapuh juga. Saya di beritahu petunjuk jalan yang cukup jelas oleh warga yang saya tanyai.

Sesuai dengan petunjuk warga tadi kami mulai melangkah maju. Memulai langkah dari persimpangan jalan di samping sebuah Masjid adalah langkah awal. Akses jalan menuju gua ini lumayan bagus. Terbuat dari semen beton lebar yang dapat di masuki mobil sejenis mini bus. Hingga sampai di persimpanag. Jalan hendak menuju gua adalah lurus, keluar dari jalan semen beton yang berbelok. Disini kita akan menemukan tanda panah yang mengarah menuju jalan ke gua tersebut. Disini jalan berupa jalan tanah kebun coklat disisi kita. Sebenarnya akses jalan kesini terbilang bagus dan kita akan terbantu dengan tanda panah yang di tuliskan dengan cat hitam dan putih disetiapa persimpangan jalan agar tidak salah jalan. Sekitar 45-60 menit saya berjalan kaki hingga sampailah di kebun langsat. Disisi kebun inilah gua ini berada tepatnya di bukit samping kebun langsat. Pukul 17:30 kami sampai disini.

Di dekat kebun ini agak ke bawah ada aliran anak sungai. Saya putuskan untuk bermalam disini. Tenda dome dipasang dan memasak makan untuk makan malam. Cuaca malam itu cukup cerah, diluar perkiraan saya mengingat hari – hari sebelumnya hujan selalu turun pada sore hingga malam hari. Seperti kebiasaan sebelumnya, dimalam hari didepan api unggun dan di temani kopi instan serta biskuit sebagai cemilan. Celoteh khas kami mulai keluar disusul gelak tawa memecah keheningan malam. Suasana beginilah yang selalu membuatku ingin kembali menikmati suasana kemping bersama sahabat petualang.

Pagi hari menjelang, bangun dari tidur dan segera menuju sungai guna bersihkan badan dan perlatan masak yang di paki tadi malam. Memasak sarapan dengan menu mie goreng dan secangkir energen cukup untuk kalori yang akan terpakai untuk menejelajahi Gua Aek Badak. Sebelum memulai masuk ke dalam gua saya menyiapkan obor bambu sebagai alata bantu penerangan selain Headlamp yang kami bawa.

This is time! Ya, inilah saatnya menelusuri Gua Aek Badak. Ini adalah pertama kalinya saya melakukan caving (telusur gua). Berbekal sedikit ilmu tentang caving yang saya pelajari dari buku dan internet saya bulatkan tekat. Di awali dengan medan menanjak menuju atas bukit tempat keberadaan gua ini. Disana ada dua buah gua yang letak masing – masing berjarak 50an meter. Obor dan Headlamp dinyalakan tak lupa menutup hidung dengan slayer karena bau dari kotoran kelelawar yang besarang disana. Gua pertama segera kami masuki, hawa dingin dan lembab seketika menyergap ketika mulai memasuki gua. Gelap dan pengap sudah pasti. Mata di manjakan oleh Stalagmit dan Stalagtit berwarna putih beragam bentuk. Ini adalah pemandangan langka yang tidak akan di jumpai selain didalam gua alami.Stalagtit adalah batu kapur yang tumbuh dari bagian atas goa menuju ke dasar goa, sedangkan stalagmit tumbuh menjulang dari dasar goa ke atas. Stalagtit dan stalagmit yang tumbuh di dalam goa umunya berwarna putih. Hal ini dikarenakan pengaruh atom Ca dalam CaCO3. Atom Ca yang tidak memiliki orbital d tidak memberikan warna yang khas / hanya putih saja.

Harusnya Stalagtit dan Stalagmit ga boleh disentuh lho…..!!
Senyawa CaCO3 membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjadi stalagtit dan stalagmit. Bila kita menyentuh stalagtit atau stalagmit dengan tangan kita sama saja kita menghancurkan karya indah itu. Why???
Tangan kita didominasi oleh zat asam, jadi ketika tangan kita menyentuh stalagtit atau stalagmit terjadi reaksi. Reaksi tersebut membebaskan ion kalsium, sehingga otomatically konsentrasi ion Ca 2+ dalam stalagtit maupun stalagmit berkurang. Dengan kata lain, kita bisa jadi penghambat pertumbuhan stalagtit maupun stalagmit sekalipun kita hanya menyentuhnya karena menyentuhnya berarti mengurangi kadar Ca 2+ dalam stalagtit atau stalagmit itu.

Kelelawar yang jumlahnya ratusan atau bahkan ribuan ekor menempel atas dan dinding gua. Banyak juga yang terbang kian kemari mungkin terusik dengan kedatangan kami ke habitat mereka. Tak seperti gua pada umumnya, gua ini hanya berupa sebuah ruangan besar agak turun dari permukaan tanah. Puas menikmati keindahan gua ini dan mengabadikan dalam bentuk foto dan video. Disalah satu sudut tampak seberkas cahaya menerobos masuk. Setelah di didekati ternyata ada celah sempit. Dari sanalah kami keluar, merangkak dan merayap ditanah becek karen sempitnya celah ini.

Mulut gua pertama yang menganga lebar

Stalagtit Gua Aek Badak

Gua Kedua

Sekitar 50 meter dari gua pertama ada gua lainnya. Kita sebut saja ini gua kedua karena saya tidak tahu pasti nama ke dua buah gua ini. Warga setempat yang saya tanyai juga tidak tahu nama gua ini. Meraka biasa menyebutnya dalam bahasa lokal ‘Guo aek badak’ untuk kedua gua ini. Nama yang sama dengan desa tempat gua ini berada.

Mulut gua Aek badak kedua

Gua kedua ini pintu masuknya sangat besar tinggi sekitar 10 meter dan lebar sekitar 30 meter. Kalau dulihat dari jauh tampak seprti mulut buaya yang sedang menganga dengan stalatit rucing sebagai giginya. Gua kedua ini sedikit berbeda dengan gua pertama tadi. perbedaan ittu berupa tinggi dan lebar gua yang sangat besar serta hanya satu pintu masuk dan keluar yang ada. Seperti gua pertama gua ini juga di huni oleh bermacam serangga dan kelelawar. Stalagtit dan Stalgmit berukuran besar dapat kita jumpai di gua kedua ini. dari kedua buah gua yang saya telusuri ini ternyata gua indah ini tak luput dari aksi ‘VANDALISME’ yang dilakukan oleh orang – orang bodoh yang tidak bertanggung jawab. Sadarlah kawan, tak ada gunanya kamu menuliskan nama jelekmu di tempat indah ini. Aksi ini cuma merusak.

Vandalisme yang terjadi di dalam Gua Aek badak kedua (jangan di tiru !!!)

Stalagtit yang tampak indah beraneka ragam bentuk

 

Menurut cerita warga dahulu gua ini memiliki lorong – lorong yang dapat di lalui manusia. Tapi karena proses alamiah atap gua yang runtuh telah menutup lorong – lorong tersebut hingga mustahil untuk di dilalui mengingat sangat sempitnya lorong yang masih terbuka. Barangkali ada saudara pembaca yang ahli di bidang caving saya mengajak untuk menggali guna membuka lorong yang tertutup tadi. Material runtuhan yang saya perhatikan berupa batuan cadas, batuan kapur dan tanah. Karena menurut cerita salah satu lorong tembus sampai kebalik air terjun Aek Sijorni (salah satu tempat wisata Tapanuli Selatan). sedangkan cerita sejarah yang berhasil saya himpun dari penuturan warag setempat. Dahulu pada waktu penumpasan  G 30 S/PKI gua ini menjdi tempat persembunyian warga pengikut G 30 S/PKI. Kemudian pihak keamanan yang mengetahui tempat persembunyian ini mengepung dan membawa sandara dari tempat lain ke gua ini. Setelah semua terkumpul mereka dibantai dengan berondongan senjata. tidak jelas peristiwa ini terjadi tahun berapa.

Bagi pembaca yang berminat ingin mengunjungi gua ini guna menikmati indanya Stalagtit dan Satlagmit beragam bentuk aneh dan ukuran yang bermacam, saya siap mengantar sampai ke tempat bila dibutuhkan. sekian dulu cerita perjalanan caving petama saya ini. Semoga dapat menambah wawasan dan menginspirasi anda semua.
Salam rimba dari Si Bocah Rimba.

Nb: Dibawah ini saya sajikan koleksi foto penelusuran Gua Aek Badak satu dan Dua

 

Penulis: Decky Chan

Misi ambisius menggapai “Three Summit North Sumatera”

9 Komentar


Sebuah misi yang saya anggap ambisuis ditengah waktu dan budget yang ‘ngepas’. Selama lebih dari empat tahun saya menggeluti hobi bertualang di alam bebas saya punya misi sendiri. Mungkin saja ini adalah sebuah ke inginan atau cita – cita bagi saya. Saya sadar akan keterbatasan saya sehingga mimpi saya sederhana di banding pendaki – pendaki lain.

Impian sederhana yang selalu mempengaruhi benak ku untuk mewujudkannya ditengah keterbatasan dukungan modal. Namun semua itu bukanlah penghalang bagi impian seorang pemuda sepertiku. Harus tercapai meski harus melalui perjuangan panjang.

Jika pendaki lain punya impian menaklukan Seven Summit, impian saya cukup sederhana. Berhubung saya tinggal di Sumatera Utara, tepatnya di kota kecil yang bernama Padangsidimpuan terletak di ujung Sumatera Utara. Impian itu saya beri nama “Three Summit North Sumatera”. Tidak berlebihan jika saya menyebutnya demikian, karena kenyataannya memang ketiga gunung itulah yang tertinggi di Sumatera Utara.  Ya, itulah impian saya yang belum terwujud sampai sekarang. “Three Summit North Sumatera” itu adalah tiga gunung tertinggi di Sumatera Utara yang sudah saya survei melalui beberapa sumber. Gunung Sorik Marapi 2145 Mdpl, Gunung sibayak 2.212, dan Gunung Sinabung 2.460 Mdpl adalah tiga buah gunung yang menjadi impian untuk saya daki.

 

Gunung Sinabung 2.460 Mdpl

Dari ketiga gunung itu, baru satu gunung yang berhasil saya daki sampai puncak yaitu gunung Sorik Marapi. Sorik Marapi saya gapai puncaknya akhir desember 2011 kemarin. Itu artinya tinggal dua buah gunung lagi agar saya dapat menuntaskan misi “Three Summit North Sumatera”. Target waktu yang saya canangkan untuk menyelesaikan dua gunung terakhir adalah bulan juni 2012. Persipan tentu saja sudah saya lakukan dari jauh – jauh hari terutaman persiapan budget dan tekhnis pendakian.

 Gunung sibayak 2.212 Mdpl

Gunung Sorik Marapi 2145 Mdpl

Mungkin anda bertanya kenapa harus tiga gunung ini yang saya pilih? Alasannya adalah karena saya tinggal di Sumatera Utara dan saya ingin menggali kekayaan alam di Sumatera Utara terlebih dalu sebelum saya mengexplore kekayaan alam daerah lain. Dalam misi saya ini saya menerapkan dua kriteria utama. Yang pertama, harus mempunyai ketinggian di atas 2000 meter. Kedua, harus berupa gunung berapi aktif. Kedua kriteria itu ada pada tiga gunung sasaran saya. Seperti kita ketahui bersama ketiga gunung ini tercatat pernah meletus dan ketiganya berketinggian di atas 2000 Mdpl. Gunung Sorik Marapi terakhir meletus pada tahun 1987, Gunung Sibayak terakhir meletus tahun 1881 dan Gunung Sinabung adalah gunung yang pada agustus 2011 mulai menunjukan aktivitasnya dan mencapai puncaknya pada tanggal 7 September, Gunung Sinabung metelus dahsyat. Ini merupakan letusan terbesar sejak gunung ini menjadi aktif pada tanggal 29 Agustus 2010. Suara letusan ini terdengar sampai jarak 8 kilometer. Debu vulkanis ini tersembur hingga 5.000 meter ke udara.

Setiap gunung bagi saya mempunyai ke unikan tersendiri. Baik itu tata cara pendakian atau karakteistik gunung tersebut. Sengaja saya membuat tulisan ini bukan untuk pamer, melainkan agar dapat memotivasi orang dan saya sendiri untuk menanamkan cinta pada alam ciptaan Tuhan. Naik gunung adalah cara kita menikmati dan merasakan betapa indahnya ciptaan Tuhan. Inilah misi sederhana Si Bocah Rimba yang ingin menggapai impian “Three Summit North Sumatera”. Impian sederhana yang sangat berarti bagiku. Doakan saya kawan – kawan agar dapat mensukseskan misi ini. Saya juga menerima saran atau apapun untuk misi saya ini. Kotak komentar terbuka untuk sobat memberikan komentar di tulisan saya ini.

Penulis: Decky Chan
Email: chan.decky@ymail.com

Curahan hati seorang penulis blog

1 Komentar


Menurut wikipedia Penulis adalah sebutan bagi orang yang melakukan pekerjaan menulis, atau menciptakan suatu karya tulis. Menulis adalah kegiatan membuat huruf (angka) menggunakan alat tulis di suatu sarana atau media penulisan, mengungkapkan ide, pikiran, perasaan melalui kegiatan menulis, atau menciptakan suatu karangan dalam bentuk tulisan.

 

Kali ini kita akan fokuskan pada blogger atau penulis blog yang ingin bercurah hati menuangkan perasaan yang selama ini terpendam.

Kami para penulis sesungguhnya senang membuat karya tulis.

Kami para penulis bukanlah hendak mencari sensasi dari tulisan – tulisan kami.

Kami hanya ingin menyampaikan informasi dan buah pikiran dalam bentuk karya tulis.

Kami adalah manusia biasa yang punya keteledoran dalam membuat sebuah tulisan.

Tapi bukan berati kami harus menerima hujatan bila ada kesalahan dalam tulisan kami.

Kritik pembaca adalah intropeksi bagi kami, saran adalah masukan bagi kami yang akan kami pertimbangkan.

Tahukan kamu apa yang membuat kami para penulis?

Jawabannya adalah ketika kami membuat sebuah tulisan dan mendapat komentar dari pembaca. Karena komentar akmi anggap sebagai bentuk apresiasi pembaca kepada para penulis. Tak perduli komentar itu memuji atau bahkan menjatuhkan. Karena sesungguhnya komentar menjatuhkan itu adalah sebuah hal yang sebenarnya sebuah pelajaran untuk tulisan – tulisan berikutnya.

Tahukah kamu? Komentar yang kamu berikan di setiap tulisan kami adalah penyemangat bagi kami, semangat untuk menulis kembali.

Namun, kami paling sedih bila ada oknum pembaca yang tidak betanggung jawab. Menghujani kotak komentar dengan sumpah serapah.

Kami sedih bila tidak ada komentar dari pembaca. Yang artinya tulisan kami tidak di minati orang.

Tapi satu hal yang ,embuat kami sangat marah adalah bila ada orang yang mencuri karya tulis kami tanpa izin.

Copy-Paste tanpa mencantumkan Linkback adalah perbuatan menjijikan dan memalukan.

hargailah kami sebgai penulis, hargailah jari – jari tangan kami ini yang lelah mengetik sebuah tulisan berhari – hari di tengah kesibukan kami lainnya.

Sebuah curahan hati yang kami harap anda lebih memahami seorang penulis. Sebuah keluh kesah yang sempat sesak dalam hati namun kini lega setelah di utarakan.

Salam blogger :)

Air Terjun Silima – Lima, “Harta karun” tersembunyi Tapanuli Selatan

11 Komentar


Bukan bermaksud melebih – lebihkan saya membuat judul tulisan ini “Air Terjun Silima – Lima, Harta karun tersembunyi Tapanuli Selatan”. Itu adalah kenyataan yang ada. Kenyataan bahwa tidak banyak orang yang tau keberadaan air terjun ini. Dan ini adalah “harta karun” bagi pariwisata Tapanuli Selatn. Bagi saya pribadi, ketika mendengar tentang air terjin Silima – Lima dari teman saya, saya langsung tertarik dan ingin mencaritahu keberadaan dan kebenaran air terjun ini.

Air terjun Silima – Lima terletak di Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan. Menbutuhkan 1 jam perjalanan dengan kendaraan bermotor dari Kota Padangsidimpuan untuk mencapai desa ini. Kecamatan Marancar secara geografis berada di lembah sempit yang diapit oleh dua buah gunung, yakni Gunung Sibuali-buali dan Gunung Lubuk Raya. Berada di atas ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan laut.

Siang hari 25 Februari 2012 pukul 3 siang saya dan teman – teman dari KPA FORESTER mencoba menuju lokasi ini. Denga menggunakan sepeda motor kami menuju Marancar. Dan tibalah disana sekitar pukul 4.30 sore, agak telat karena beberapa kali harus berhenti di rumah kawan yang mau ikut kegiatan ini. sesampainya disana, sepeda motor kami titipkan di rumah warga sekitar. Mengingat hari yang sudah mulai sore, diputuskan untuk bermalam di desa tersebut.

Esok paginya sekitar pukul 9, setelah besiap. Perjalanan dilakukan menuju Air terjun Silima – lima. Diawali dengan berjalan memasuki daerah persawahan kemudian kebun salak disusul kemudian dengan perkebunan karet milik warga. Track disini masih datar sehingga tidak begitu menguras tenaga. Sekitar 30 menit kami berjalan sampai di ujung perkebunan karet tersebut. Kami putuskan untuk beristirahat. Dari sini kilauan air terjun sudah terlihat disertai suara deru air terjun.

Air terjun Silima – Lima tampak dari kejauhan

Setelah melewati perkebunan karet track mulai menurun. Ditapaki dengan perlahan berpegangan pada batang pohon untuk menjalani turunan licin ini. Harus berhati – hati berjalan disin, karena di sisi kanan jalan setapak dalah bibir jurang berkedalaman puluhan meter siap memangsa setiap orang yang ceroboh.

Menapaki jalan tutunan hingga sampailah di dataran yang ujungnya adalah jurang. Disini jalan setapak habis. jalan satun – satunya adalah menurunu jurang terebut menuju aliran sungai. Dicarilah jurang yang memiliki medan landai agar bisa di lewati. Tentu saja jalan tidak ada disini, sehingga harus membuka jalan dengan menebas pepohonan kecil menggunakan parang. Begitulah terus hingga sampailah saya di tepian sungai yang mebuat saya terkejut karena seekor ular entah jenis apa sedang berjemur dibatuan tepi sungai.

Saya menunggu teman – teman lain yang sedang berusaha membesakan diri dari semaknya dan licinya jalan di atas sebuah batu. Sembari menunggu saya mengambil kamera dan memotret beberapa objek yang saya anggap menarik. Berikut adalah salah satu di antara objek yang saya abadikan berupa aliran sungai berbatu yang di tutupi pepohonan.

Aliran sungai berbatu yang di tutupi oleh rimbunnya pepohonan, terkesan damai khas alam

Setelah semua teman -teman datang, beristirahat sejanak kemudian melanjutkan perjalanan. Perjalanan kali ini adalah berupa menelusuri aliran sungai menuju hulu. Bebatuan licin, besar dan derasnya air sungai adalah medan perjalanan yang harus kami tempuh untuk menuju Air terjun.

30 menit berlalu dan sampailah kami di Air terjun Siima – Lima, perjuangan yang melelahkan terbayar sudah ketika sampai di depan air terjun ini. Sungguh pemandangan alam yang begitu eksotis yang jarang di temui. Dengan ketinggian kurang lebih 80 Meter, air terjun bebas dengan riak putih karena menghantam dinding tebing batu dalam jatuhannya ke dasar. Seumur hidup saya, baru kali ini saya melihat air terjun yang sangat tinggi di Wilayah Tapanuli Selatan. Beruntunglah saya dan sobat petualang dari KPA FORESTER dapat melihat langsung keindahan alam ciptaan Tuhan ini.

Cantik dan indahnya air terjun Silima – lima

Seandainya pemerintah daerah Kabupaten Tapanuli Selatan sadar akan kekayaan alam ini, tentunya dapat di kembangkan menjadi daerah tujuan wisata. Wisata adventure saytt untuk objek ini. Tentunya akan menambah pemasukan daerah yang menguntumgkan. Memang di butuhkan dana yang tidak sedikit untuk membuka akses jalan menuju objek ini. Tapi tentu saja modal awal yang di tanamkan akan terganti perlahan dengan pemasukan yang di dapat melalui retribusi pengunjung. Saya pribadi sangat mendukung dan siap memberikan informasi yang saya tahu. Yah, semoga saja melaui tulisan ini bila ada pejabat setempat yang menyempatkan diri untuk mengunjungi blog sederhana ini dapat tergugah hatinya. Bila ada yang hendak menontak saya, kontak pribadi saya ada di menu blog.

Penulis: Decky Chan

Expedisi pencarian Gua Liang Baja

1 Komentar


Berawal dari perkenalan dengan teman yang hobinya sama dengan saya yaitu berpetualangan di rimba belantara. Di awal perkenalan teman baru saya tersebut mengajak melalukan expedisi pencarian gua. Tentunya setelah dia memaparkan tentang gua tersebut. Segera saja saya mengumpulkan teman lainya untul expedisi ini hingga terkumpulah lima orang yang mau ikut serta. Singkat cerita terlumpullah lima orang yang menyatakan bersedia ikut serta.

Untuk sekedar informasi, Gua Liang Baja terletak di Desa marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Lebih tepatnya berada di kawasan Hutan Batang Toru Blok Barat (HBTBB). Menurut cerita yang kami himpun dari berbagai sumber, dahulu gua ini adalah tempat persembunyian warga setempat pada masa perang Padri. Kami juga mendengar di dalam gua tersebut masih terdapat barang kuno berupa perkakas rumah tangga. Dan juga menurut para tetua tidak jauh dari gua ini dahulu ada pemukiman warga (bekas perkampungan).  Hal inilah yang membuat saya sangat tertarik mencari tahu keberadaan guabersejarah  ini.

Ransel yang memuat perbekalan sebelum expedisi dimulai

Expedisi ini kami lalukan tepat september 2011 kemarin. Bermodalkan perlengkapan teknis dan logistik yang ala kadarnya serta tekat yang bulat dan juga sekelumit informasi akhirnya ekpedisi pun dimulai.

Keseluruhan anggota expedisi Gua Liang baja (Roma, Rizki, Decky, Roni, Zico)

Berjalan di awali dengan menapaki jalan berbatu yang dikanan kirinya terdapat kebun salak. Sekali waktu saya sempatkan mengambil beberapa buah salak untuk dimakan selama berjalan. Disusul kemudian dengan kebun pohon karet dan hamparan sawah milil penduduk. Sampailah kini di sebuah jembatan gantung yang panjangnya sekitar 100 meter yang membelah aliran sungai Batang Toru. Disana kami bertemu dengan dua orang yang ternyata baru pulang menjerat burung didalam hutan. Sempat bertanya tentang Gua Liang Baja ternyata dia hanya tau sedikit tentang gua itu.

Setelah menyeberangi jembatan kami menjumpai sebuah gubuk, tak jauh dari gubuk itu ada sebuah rumah milik orang nias. Memperhitunglan waktu yang sudah mulai gelap kami memutuskan bermalam digubuk tersebut. Sempat bertanya kepada orang nias pemilik rumah mengenai Gua Liang Baja tapi dia tidak tau apa-apa. Memang gua ini misterius, hanya sedikit orang tau tentang keberadaan gua ini. Termasuk penduduk Desa Marancar sendiri, banyak yang tidak tau letak persisnya gua ini.

                           Jembatan gantung yang mebelah sungai Batang Toru

Esok paginya setelah sarapan pagi dengan menu sederhana kami lanjutkan perjalanan. Menapaki tanjakan terjal dan licin yang warga sekitar menjulukinya “tanjakan marsimulak anjing”. Disebut demikan alasanya karna tanjakan ini sangat terjal,licin,panjang dan kemiringan yang wah. Ditanjakan ini tenaga sangat terkuras, kaki terasa berat untuk dilangkahkan ditambah ransel besar dipunggung yang beratnya 30-40 kg setia menempel dipunggung.

Seusai melewati tanjakan itu, jalan berikutnya tidaklah mudah. Masìh ada tanjakan dan turunan dan sekali waktu mendatar. Hingga kami melihat pondok, setelah didekati ternyat pemilik pondok ada disitu. Kesempatan untuk bertanya tidak disia-siakan. Ternya pemilik pondok tersebut yang bermarga Siregar permah beberapa kali ke gua tersebut beberapa tahun silam. Segera saja kami cecar dengan berbagai pertanyaan mengenai letak gua dan dicatat.

Perjalanan kembali dilanjutkan, dengan air minum yang menipis kami berusaha mencari sumber air berupa sungai kecil mengikuti penuturan Bapak Siregar tadi. Setelah sekian lama mengikuti jalan yang diberitahukan tadi terdengar gemericik suara air. Segera saja menuju arah suara tersebut dan menjumpai sungai kecil dengan air beningnya. Tepat tengah hari, disempatkan masak untuk makan siang ditepi sungai. Sambil menunggu makanan matang, segera saja saya nyebur ke sungai untuk menyegarkan badan. Lumayanlah untuk menghilangkan peluh dan bau.

Setelah semua itu, peralatan yang dikeluarkan kembali dimasukkan ke dalam ransel. Untuk melanjutkan perjalanan panjang yang menguras tenaga dan pikiran. Mengapa menguras pikiran? Ya, karena kami semua buta akan rute perjalanan, hanya berjalan menurut informasi yang kami dapatkan dari orang-orang yang dijumpai. Insting dituntut harus tajam menghadapi situasi begini. Berbagai macam informasi harus ditelaah karena campur aduk dan perbedaan informasi yang di dapat dari beberapa orang. Bepikir logis dan objektif menjadi sulit karena kondisi fisik yang mulai down.

Anggota tim expedisi yang sedang beristirahat

Yah, itulah kendala yang kami hadapi, tapi itu kami anggap tantangan. Hingga kami terus berjalan melewati rawa-rawa, naik ke atas bukit dan membelah rimba dan sekali-sekali nampak lahan yang dialih fungsikan menjadi kebun/ladang oleh warga. Matahari sudah mulai condong ke peraduannya menandakan sore hari telah menjelang. Hingga kami melihat pondok lagi disekitar lahan yang baru dibuka. Ditandai dengan pohon-pohon besar yang ditebang dan semak belukar yang menghitam bekas terbakar. Pondok itu tak berpenghuni. Dan ternyata jalan terputus hanya sampai disitu. Segera saja kami berkumpul menghadapi situasi ini. Dan dapat disimpulan perjalanan ini melenceng dari jalur yang semestinya. Dalam kata lain kami tersesat!.

Sedang berfoto di akar besar merambat yang melilit pohon, tampak seprti ular

Benar, kami dipaksa untuk menghadapi kondisi yang tidak diharapkan. Untuk menenangkan pikiran diputuskan untuk bermalam dipondok itu. Karena untuk kembali ke jalus semula sudah tidak memungkinkan lagi karena hari sudah mulai gelap. Dan malah berbahaya bila nekat karena pikiran tidaklah jernih dalam kondisi begini.

Malam itu kami merapatkan kondisi yang tidak menyenangkan ini. Perdebatan sempat terjadi hingga di ambil keputusan untuk kembali ke jalur awal. Setelah di cerna kesalahan kami ternyata salah belok, seharusnya kami berbelok di persimpangan jalan tapi kami malah lurus. Ini mengakibatkan kami tersesat semalaman.

Bangun pagi, masak dan makan pagi kemudian kembali berjalan mengikuti rute jalan kembali sesuai hasil keputusan tadi malam. Ada sekitar 2-3 jam kami menyusuri jalan berlawanan arah dengan jalan kemarin. Sampailah kini dipersimpangan yang dimaksud. Segera saja kami menyusuri pesimpangan itu. Tak berapa jauh ternyata kami mulai memasuki kawasan hutan. Pohon-pohon karet tidak nampak lagi. Hanya semak belukar dan pepohonan besar di sekitar jalan setapak. Kontur medan disini lumayan datar dan hanya tanjakan dan turunan landai yang dijumpai.

Lelah berjalan, sekali-kali istirahat hanya untuk memulihkan tenaga dan nafas yang memburu. Rokok menjadi teman dikala istirahat. Ternyata istirahat ini tidaklah nyaman, disaat sedang asyik duduk besandar dipohon pacet-pacet mendekat, bahkan beberapa ada yang sudah menempel dan menghisab darah. Api rokok pun disundutkan ke pacet agar melepas gigitannya. Disetiap perhentian istirahat pasti ada pacet yang nempel dikaki.

Hutan lebat disusuri hingga sampai di ujung jalan setapak. Disini langkah terhenti dan semua anggota expedisi berkumpul membuat keputusan. Keputusanya berjalan terus lurus ke depan membuka jalan baru. Kebetulan saya berada didepan, tugas saya membuka jalan. Parang ditangan di ayunkan kesana kemari menebas semak belukar.

Disini jalan mulai menurun, turunan ini sangat curam. Didepan saya masih berusaha membuka jalan diikuti oleh anggota expedisi lainnya. Samar-samar terdengar gemericik suara air. Dalam hati saya besorak riang karena kami menuju ke arah yang benar yaitu ke arah Aek sikut (sungai sikut). Menurut informasi, Gua Liang Baja berada di pinggir Aek Sikot ini, tepatnya di dinding tebing batu.

Begitulah seterusnya, berjalan menurun mengikuti arah suara air sungai. Terkadang saya jatuh tergelincir karena pijakan kaki ditanah yang labil. Suara air sungai semakin jelas terlihat dan dikejauhan dibawah sana terlihat kilauan air sungai yang berkilau terkena sinar mentari. Dan kini sampailah di sungai Aek Sikut, airnya jernih sehingga ikan yang berenang pun nampak jelas. Sungai ini berbatu dan pinggirannya berpasir. Ada yang unik dengan pasir disungai ini, ada butiran-butiran halus keemasan yang berkilau. Saya menduga ini adalah butiran emas limbah dari tambang emas yang terletak di kawasan ini.

Kami sampai disungai ini sekitar pukul 2 siang. Dsini kami sempatkan untuk mandi untuk menyegarkan badan dan mencuci sepatu yang sudah dibalut lumpur tebal. Ketika membuka sepati dibetis dan punggung kaki saya ada dua ekor pacet gendut sedang asyik menghisap darah. Tanpa pikir panjang disingkirkan. Darah segar mengalir keluar, cukup lama darah di punggung kaki saya berhenti. Mungkin karena cara melepaskan pacet yang disentakkan sehingga merobek kulit saya.

Setelah semua itu, ditetapkan untuk bermalam dan segera mendirikan tenda di pinggir sungai. Sebagian dari kami menyusuri sungai ke arah hulu mencaritahu kemungkinan Gua Liang Baja sudah dekat. Saya sendiri memutuskan untuk mendirikan tenda tanda mengumpulkan kayu bakar. Hari itu hujan mengguyur cukup deras. Membuat kayu bakar basah dan susah untuk dinyalakan. Berbekal pengalaman, kayu tersebut di kupas bagian luarnya hingga didapatkan bagian kering didalamnya. Menyalakan api juga dengan cara menyerut kayu hingga didapatkan hasil serutan tipis sebagai pemancing api agar gampang menyala.

Malam harinya, anggota expedisi ini sudah banyak yang kesehatannya mulai kelihatan down. Sakit dikepala, suhu badan panas dan kaki yang terkilir adalah hal yang diderita anggota expedisi. Di antara semua ada salah satu anggota expedisi yang kesehatannya agak parah. Gejala sakitnya mulai nampak sejak siang dan puncaknya pada malam hari. Ini wajar, karena ini adalah hari ke tiga kami dalam expedisi. Sepanjang expedisi, hujan mengguyur sejak hari pertama.

Pagi menjelang, patut disyukuri kondisi kesehatan yang kami drop tadi malam paginya sudah mulai sehat kembali setelah meminum obat yang kami bawa. Hari ini kami akan menyusuri aliran sungai Aek Sikut ke arah hulu. Akses jalan satu-satunya menuju Gua Liang baja adalah meyusuri sungai. Hujan yang mengguyur sudah membuat badan menggigil ditambah harus berbasah-basahan disungai. Berjalan melompat di antara batu dan kadang kala berenang melawan arus adalah jalan yang harus kami jalani. Berat memang, tapi inilah petualangan!

Menggigil kedinginan itu sudah pasti, kadang berenang melawan arus deras sampai tulang kering, lutut dan anggota badan lainnya terbentur batu. Di tepi sungai ada air terjun setinggi 10-15 meter terjun bebas dari puncak tebing jatuh ke sungai. Ini pertanda Gua Liang Baja sudah mulai dekat. Gua ini ada dua buah, Gua yang pertama terletak tidak jauh dari air terjun yang kami temui. Gua pertama ini hanya berupa lubang pada tebing batu. Dipenelusan selanjutnya kami menemukan lubang besar pada tebing yang tersembunyi di balik batu besar. Kami tidak menyangka bahwa inilah Gua pertama tersebut karena hanya berupa lubang besar, tidak sesuai dengan apa yang ada dipikiran kami tentang gua. Sehingga penemuan ini di anggap angin lalu dan terus melanjutkan perjalanan.

Sungai terus disusuri kehulu, kini sampailah di tempat yang airnya dalam diapit tebing batu vertikal dikedua sisinya. Tidak ada jalan lain kecuali harus berenang di air yang dalam dan berarus deras. Akar-akar pohon menjadi alat bantu untuk melawan derasnya arus agar kami tidak hanyut. Matras menjadi alat pelampung yang cukup efektif untuk menyelamatkan tas yang berisi handphone dan kamera agar tidak basah.

Sungai Aek Sikut yang airnya snagat bening

Begitulah seterusnya, berjalan menelusuri sungai dari pagi sampai sore hari tapi Gua Liang Baja tak juga kami jumpai. Setengah putus asa kami hentikan perjalanan dan mendirikan tenda. Sepanjang jalan baru ini kami istirahat karena memburu waktu. Tenda yang didirikan hanya berupa tenda biru karena tenda parasut yang kami dirikan kemarin dinggalkan di base camp kemarin malam berikut perlengkapan yang tidak terpakai dalam penelusuran sungai. Hanya barang-barang yang penting saja kami bawa. Tenda biru yang kami dirikan hanya menutupi sisi kanan dan kiri sedangkan sisi depan dan belakang terbuka dan disiasati ditutup dengan daun-daun untuk menghalau terpaan angin malam.

Sehabis makan malam dengan porsi yang sedikit karena logistik yang hanya cukup untuk dua kali makan. Sehingga harus dibagi dua untuk esok. Setelah itu ami mengadakan rapat untuk kelanjutan expedisi ini. Dengan pertimbangan kondisi fisik yang melemah dan logistik yang hanya cukup untuk satu kali makan lagi dan juga cuaca yang tidak mendukung. Debit air sungai juga meningkat karena hujan yang tiada henti sejak hari pertama sehingga tidak mungkin untuk melewatinya maka dengan terpaksa expedisi ini di akhiri. Semua anggota expedisi Gua Liang Baja yang berjumlah lima orang sepakat dengan keputusan ini. Untuk kondisi seperti ini, kami menganggap ini adalah keputusan bijak. Saya rasa bila orang lain dalam kondisi seperti yang kami alami juga akan mengambil keputusan sama yaitu menghentikan perjalanan.

Kisah tak menyenangkan tidak henti sampai disini. Diluar hujan deras masih mengguyur. Hal ini berdampak air mulai masuk dan membasahi kami. Didalam tenda air yang mengalir dari bukit dibelakang tenda memasuki tenda dan menggenangi matras. Tidak bisa istirahat dalam kondisi tergeletak. Ditengah malam terpaksa harus tidur dengan posisi duduk beradu punggung. Sungguh tidak nyaman, tapi itulah situasinya. Seakan tiada hentinya, hujan masih mengguyur sampai pagi. Pukul 6 pagi dengan kondisi badan kurang tidur dan dingin basah kuyup, tenda dibongkar dan berjalan pulang menyusuri sungai ke hilir melawan arah kemarin menuju base camp. Coba kalian dibayangkan, dengan kondisi badan kedinginan dan lapar yang harus ditahan dan terus bergerak ke hilir sungai yang debit airnya meningkat. Berenang, menyelam, melompat di antara bebatuan dan kadang kala hanyut terbawa derasnya arus adalah tantangan perjalanan ini.

Keadaan yang tidak menyenangkan, tidur dalam keadaan duduk dan basah kuyup

Hingga sampailah kami di base camp sekitar pulul 2 siang. Ini artinya kami berjalan menyusuri sungai tanpa henti 8 jam. Istirahat sejenak sambil memungut kaleng susu bekas kemarin dan menuangkan sisa-sisi susu ke tangan dicampur bubuk kopi kemudian dimakan. Inilah insting alamiah manusia, berusaha memakan apapun yang bisa dimakan dalam kondisi kelaparan. Buah-buah kecil sebesar melinjo yang rasanya manis yang didapatkan hanyut disungai dimakan. Kami menduga ini buah adalah buah yang dimakan Siamang. Bongkar tenda dan akhirnya melanjutkan perjalanan. Dengan perut yang lapar, berjalan terus keluar dari sungai dan menaiki bukit terjal yang kami turuni kemarin. Ya, berjalan pulang dengan perut kosong dan medan mendaki sangatlah berat. Berjalan mengikuti rute kemarin yang kami tandai dengan bacokan parang di batang pohon agar tidak tersesat.

Begitulah seterusnya berjalan dengan cepat dan memburu waktu hingga samapailah di tempat yang agbak datar. Disitulah kami berhenti dan masak untuk makan siang. Selesai makan dengan langkah cepat segera saja kami berjalan kembali karena mengbejar waktu yang sudah mulai sore. Berjalan tanpa istirahat hingga gelap menyelimuti belantara. Head lamp dengban sinar redup karena sudah 6 hari dipakai menjadi sumber cahaya satu-satunya. Hingga samapilah kami sekitaran pukul 9 malam di pondok dekat jembatan gantung tempat kami menginap di malam pertama. Maksud hati hendak bermalam disana ternyata disana sudah di pakai oleh orang yang ternyata orang dari proyek pembangunan PLTA di sungbai Batang Toru. Beristirahat sebentar sambil ngobrol dengan meraka lau kami lanjutkan menyebrangi jembatan gantung dan samapilah di sebuah pondok di tepi jalan, disanalah kami bermalam untuk besok paginya pulang. Karena pondok malam ini letaknya hanya 1 jam perjalanan sdari perumahan warga.

Ya, bgitulah kisah cerita perjalanan expedisi pencarian Gua Liang Baja yang kami lakukan September 2011 kemarin. Target waktu yang hanya 3 hari ternyata sampai 1 minggu yang menyebabkan logistik kami habis. Seminggu dalam belantara yang penh bahaya tidaklah suatu hal yang mudah. Disinilah fisik dan ental di uji habs-habisan oleh alam. Memaski daerah dekar perkampungan ketika saya menyalakan handphone banyak sms masuk yang isinya cemas dengan keadaan kami, dari teman-teman termasuk juga orang tua saya.  Bahkan ada teman yang di sms mengatakan akan melapor ke petugas terkait karena kami sudah melewati jadwal semula. Begitulah sederet cerita engkap yang saya tulis dalam blog pribadi saya yang sederhana ini. Semoga kawan-kawan dapat mengambil hiqmah dan pelajaran dari tulisan ini. Terima kasih atas waktu yang dilunagkan utuk membaca tulisan yang cukup panajang ini.

Penulis: Decky Chandrawan

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.